Teknik membawa barang macam turumba kerap identik dengan perempuan yang lemah dan kemudian berujung pada disparitas gender. Padahal teknik itu tak punya turumba bisa menguatkan otot dan sangat baik untuk kesehatan.

Teknik membawa barang macam turumba kerap identik dengan perempuan yang lemah dan kemudian berujung pada disparitas gender. Padahal teknik itu butuh kekuatan otot agar bisa melakukannya. Selain itu, dalam beberapa penelitian turumba sangat baik untuk kesehatan.

Turumba atau menyunggi merupakan tindakan membawa/menjunjung barang di kepala. Teknik membawa barang macam ini biasanya dilakukan perempuan.

Dahulu, di Tomia tahun 2000-an, saya masih mengingat dengan cukup jelas, di tepi jalan poros Usuku-Waha, pada pagi dan sore hari, perempuan-perempuan tua maupun muda berjalan beriringan sembari turumba barang bawaan.

Para perempuan itu hendak ke kebun atau pergi ke pasar. Barang yang disunggi pun bermacam-macam. Namun biasanya, kalau ke kebun barang yang di-turumba adalah karung berisi sampah dapur untuk pupuk atau ember yang berisi bibit kanokau, parang dan linggis.

Kalau ke pasar biasanya yang dibawa di kepala adalah barang dagangan. Di pasar, fenomena turumba sampai sekarang masih bisa disaksikan, apalagi pas pagi buta menjelang pasar buka. Meskipun jumlahnya tinggal sedikit saja dan yang melakukannya adalah ina-ina dan mama-mama yang sudah cukup berumur.

Seorang blogger, Leya Cattleya, pernah ke tomia tahun 2016 dan memotret seorang perempuan tua di pasar Usuku yang menyunggih sesisir pisang yang dibelinya

Aktivitas turumba juga masih bisa kita saksikan di para penjual keliling, terutama perempuan jibu-jibu. Tahun 2000-an, para penjual keliling bukan hanya perempuan jibu-jibu, melainkan penjual soami, epe-epe, roti sanggara, dan berbagai jajanan lainnya. Lalu kita bisa menyaksikan turumba pada musim hekente di mana mama-mama sering membawa ember isi hasil laut mereka di kepala.

Di jaman dahulu, perempuan melakukan turumba juga ketika mengambil air dari suatu tempat. Dalam obrolan saya dengan nenek saya (wa ina, begitu saya memanggilnya) dan beberapa mama-mama di kawasan Lia Tambanga (gua tambanga), mereka menyunggi kendi untuk mengambil air di dalam gua yang letaknya adakalanya di sisi pantai dan jalan menuju ke sana harus melewati tebing curam.

Sejak kapan para perempuan Tomia melakukan turumba itu?

Belum ada penelusuran yang jelas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, fenomena perempuan turumba itu ada di berbagai tempat di Indonesia dan di belahan dunia lain seperti India, Afrika dan Eropa.

Dalam artikel Why do women carry things on their heads? ditunjukkan beberapa lukisan abad pertengahan di Eropa yang menggambarkan perempuan penyunggi. Ada yang menyunggi kendi berisi air, ember kayu, keranjang berisi makanan, jerami dan beberapa barang lainnya.

Dalam artikel yang ditulis oleh Profesor Jane Whittle, Profesor Sejarah di Universitas Exeter tersebut, menggambarkan bahwa aktivitas perempuan penyunggi erat hubungannya dengan medan kerja kala itu di mana masih didominasi oleh pertanian dan peternakan.

Selain itu, dalam artikel Leya ini, ditujukkan juga perempuan-perempuan India dan Afrika menyunggih barang-barang mereka ketika mengungsi atau membawa air dari sumber mata air yang letaknya jauh dari pemukiman mereka.

Di Indonesia, dokumentasi perempuan penyunggi bisa kita temukan di salah satu taradisi perempuan di Bali ketika melakukan perayaan Mapeed. Dalam perayaan yang sampai hari ini masih kita bisa sksikan itu, perempuan-perempuan Bali membawa gebogan atau kendi dengan teknik menyunggi. Konon, kenapa kemudian mereka membawa barang-barang itu di kepala karena itu sebagai penghargaan dan persembahan kepada Tuhan.

Eka Ningtyas mengungkapkan dalam penelitiannya jika masyarakat Bali, khusunya masyarakat adat Sukawati, selalu mengatakan ritual yang mereka lakukan itu nak mule keto (memang begitu dari dulu).

Terkait tradisi membawa persembahan, di Tomia pemandangan macam itu ada pada saat bulan rajab, yang disebut dengan Rajabu’a. Pada hari selepas salat Jumat, biasanya mama-mama akan bergegas menyunggih baki atau nampan berisi berbagai makanan menuju masjid. Makanan-makanan tersebut lantas digelar secara bersamaan di hadapan para tetua yang akan berdoa.

Artinya perilaku atau kegiatan menyunggi memiliki hubungan atau dipicu oleh tiga faktor yakni, jenis pekerjaan masa itu, jarak tempuh atau medan yang akan diarungi si perempuan dan tradisi maupun ritual dalam satu kebudayaan tertentu.

Faktor terakhir kemudian melahirkan atau menurunkan beberapa kepercayaan tertentu yang lalu secara sosial membedakan fungsi dan tugas perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Turumba dan disparitas gender

Felix Tani memberikan ulasannya, jika perempuan turumba atau menyunggi ini berkelindan erat dengan falsafah-falsafah tua yang ada di beberapa daerah. Di Sunda Wiwitan misalnya, ada ungkapan “laki-laki nanggung, awewe nyuhun” atau falsafah Jawa: “sepikul segendongan”

Tafsir seperti yang dikemukakan Felix juga ditemukan di Madura. Ada istilah laki-laki mèkol (memikul) dan perempuan nyo’on (memanggul di atas kepala). 

Di Madura, perempuan penyunggih adalah hal yang sangat lumrah, bahkan hingga ke daerah-daerah rantau mereka. Yang paling identik adalah perempuan penjual sate keliling yang selalu menjunjung jualannya berupa tungku kecil dan perabot satenya di kepala.

Tradisi sunggih di Madura selalu tampak di setiap aktivitas, baik bertani, menambak, mengikuti acara pernikahan, ritual kematian dan berdagang, perempuan selalu menyunggi barang bawaannya. Uniknya di pulau Garam itu, ada perempuan yang menyunggih bak plastik berisi salak sambil mengendarai sepeda ontel.

Di Indonesia Timur, saya belum menemukan falsafah serupa. Namun, di Tomia, para bapak-bapak selalu memberikan contoh atau mewanti-wanti agar bagi anak laki-laki dalam membawa barang jangan di-turumba melainkan di-lemba (dipikul).

“Karena turumba itu hanya untuk perempuan,” kata bapak saya suatu waktu ketika saya diminta memikul barang yang dia beli dari Jawa.

Jika ada salah satu anak laki-laki kedapatan melakukan turumba maka akan ditertawakan atau dianggap sebagai laki-laki lemah dan tidak ‘normal’.

Anggapan-anggapan terhadap teknik turumba yang bersifat lemah itu menadakan bagaimana perempuan dibedakan dalam sistem sosial dan keluarga.

Padahal, kalau kita coba, terutama saya yang laki-laki, turumba itu sulit sekali. Banyak hal yang diperhitungkan ketika turumba seperti kekuatan kepala, leher, bagaimana melipat kongko (kain pelapis kepala) agar dasar barang yang junjung tidak menekan langsung ke kulit kepala hingga kita mesti mempertimbkangkan keseimbangan. Itu semua perlu perhitungan.

Turumba dan Kesehatan

Karenanya, anggapan turumba sebagai teknik megangkat atau membawa barang yang lemah sepertinya perlu direvisi. Memang kalau menyimak apa yang dijelaskan oleh Leya tentang hubungan turumba dan kesehatan masih pro kontra.
Beberapa penelitian menemukan adanya efek sakit punggung yang diderita ketika melakukan turumba, tetapi penelitian lain menemukan bahwa turumba mampu memperkuat otot, terutama bagian belakang.

Namun, sepertinya saya harus mengatakan bahwa dalam kasus perempuan Tomia, yang terjadi adalah turumba memiliki efek positif terhadap tubuhnya. Melihat tubuh mama-mama atau ina-ina, terutama penjual ikan, memiliki daya tubuh yang begitu kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here