Pulau Tomia ternyata mengandung berbagai masalah, terutama yang paling krusial namun jarang diulas adalah persoalan air bersih. Pulau kecil ini sedang menuju krisis air bersih yang mengancam.

Pada suatu sore Amin Ansari, seniman romantis Tomia yang belum juga menghalalkan kekasih idamannya, menelpon saya. Dengan suara mirip panitia acara gig musik uderground, ia menawarkan saya untuk bikin event diskusi, lebih tepatnya mendapuk saya saat itu juga sebagai narasumber. Meskipun gimiknya tetap “bertukar pikiran”

“Apa saja topiknya, terserah, asalkan ada diskusi. Kita diskusi di kedai FriendZone (namanya bikin baper). Kita undang pemuda-pemudi” tandasnya di ujung telpon.

Setelah ngobrol cukup panjang, akhirnya kami sampai pada kesimpulan. Kami akan mengangkat topik yang anti-mainstream. Topik yang jarang diulas banyak orang, namun sangat urgen yakni “Tomia menuju krisis air bersih”.

“Siap. Topiknya bagus” katanya. 

Baiklah.

Banyak masalah yang perlu mendapat perhatian di pulau Tomia. Namun, ada hal yang masih kurang bahkan belum mendapat perhatian serius dari para pemangku kepentingan yakni masalah air bersih. Padahal air bersih merupakan hal yang krusial bagi kehidupan manusia. Tanpa air tidak akan ada kehidupan.

Dalam hal ini saya mengambil kasus apa yang terjadi di kawasan Usuku dan sekitarnya. Masyarakat di kawasan ini sangat tergantung pada keberadaan Te’e Lu’o, sumber air bawah tanah yang ada di kelurahan Tongano Timur.

Gejala-gejala air bersih mulai bermasalah

Merunut keluhan yang sering terdengar di masyarakat, volume air di Te’e Lu’o telah berkurang. Masyarakat menduga bahwa tinggi permukaan air di mata air bawah tanah itu telah mengalami penurunan. Hal ini berhubungan erat dengan kecepatan aliran air yang mengalir melalui pipa-pipa ke rumah warga tidak selancar dan secepat dulu lagi. Mungkin untuk kasus ini tidak semua masyarakat di kawasan Usuku merasakannya, tapi di kawasan tertentu misalnya di Tongano Barat pergerakan air sudah tidak secepat tahun-tahun sebelumnya.

Tidak sampai disitu saja, indikasinya juga terasa dari air mengalir ke rumah-rumah tidak lagi 24 jam. Melainkan ada jadwal-jadwal khusus di mana aliran air dimatikan dari pusat operator.

Lalu kualitas airnya tidak seperti dulu lagi. Dalam hal ini kebersihannya mulai diragukan. Masyarakat saat ini kerap mengeluh jika mereka tengah memasak air untuk keperluan minum maka akan ditemukan banyaknya zat kapur pada air tersebut.

Tentunya masalah-masalah ini akan semakin memburuk jika tidak mulai diantisipasi dengan melakukan tindakan yang terukur dengan segera.

Sebab-sebab

Setidaknya masalah air ini bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah konsumen yang terus bertambah. Kita dapat melihat maraknya bangunan rumah yang dibangung dari tahun ke tahun. Lahan-lahan kosong yang dulunya adalah kebun atau tidak ada bangunan di situ, hari ini masyarakat mulai berlomba-lomba membangunnya.

Keberadaan rumah-rumah tersebut tentunya mau tidak mau akan membutuhkan air bagi penghuninya. Semakin banyak konsumen, maka akan mengurangi volume air yang ada.

Kedua adalah tidak adanya penanaman pohon di sekitar sumber air yang berfungsi untuk melestarikan keberadaan air bawah tanah. Kesadaran masyarakat akan hal ini masih minim. Pemerintah juga yang memiliki wewenang malah lebih terkesan tidak melakukan apa-apa.

Saya pernah mendengar bahwa sebenarnya ada aturan untuk tidak membangun rumah di sekitar Te’e Lu’o dengan radius tertentu. Tujuannya supaya area itu dapat digunakan untuk penanaman pohon atau pohon-pohon di situ tidak ditebang. Namun, aturan tersebut diabaikan oleh masyarakat.

Hal ini disebabkan selain karena tidak ada mekanisme sanksi atau sifat aturan yang tidak mengikat, juga tanah masyarakat yang ada di sekitar lokasi tersebut harus diganti atau ada kompensasi dari pemerintah. Pemerintah atau kelompok tertentu tidak bisa begitu saja langsung melarang penggunaan tanah masyarakat tanpa persetujuan pemilik tanah.

Faktor lainnya adalah masalah-masalah eksternal seperti perubahan iklim. Fenomena ini bagaimanapun memberikan efek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pola curah hujan misalnya yang akhir-akhir ini mulai tidak menentu, imbasnya kehidupan tanaman (pohon) juga terganggu.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah perilaku kita dalam keseharian. Pemborosan penggunaan air dalam hal-hal kecil misalnya. Saya kerap menyaksikan putaran keran air dikala berwudhu yang terlalu deras hingga air berceceran kemana-mana. Akhirnya air yang terbuang lebih banyak dari pada yang dipakai untuk wudhu. Terus terang ini kebiasan buruk yang harus diubah. Kesadaran ini sudah mulai terlihat di banyak masjid di kota-kota. Apalagi Islam menyuruh kita untuk tidak boros, Kan? Iya dong.

Perlu Diwacanakan Terus

Oleh karena itu, menurut saya persoalan krisi air bersih ini perlu diangkat terus menerus ke permukaan. Mungkin sekarang efeknya belum timbul secara signifikan, namun tahun-tahun ke depan saya percaya, cepat atau lambat kita akan mulai mengalaminya.

Saya belum bisa menaruh harapan yang kuat dari diskusi “Tomia menuju krisis air Bersih” itu bisa mendapat respon yang signifikan. Namun, dengan diskusi ini harapan utama saya ia menjadi pemicu agar narasi-narasi masalah air bersih terus terkuak, terutama di ruang-ruang sosial. 

Biarkan masyarakat membicarakannya bahkan menggelisahkannya. Kalau sudah mulai cemas, nanti juga akan jadi aksi yang nyata, dan semoga ini bukan selemah-lemahnya iman.

Saya tiba-tiba termenung. “Bayangkan, jika tidak ada tindakan antisipasi, maka di atas sepuluh tahun yang akan datang, entah dekade ke berapa, setiap rumah mungkin sudah akan memiliki tandon atau penampungan air mirip di kawasan kumuh perkotaan.

“Om, kita publish di media ya,” kata jurnalis Ali Hanafi usai diskusi.

“Lanjutkennn ommmmm” kataku dengan sumringah

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here