Seni musik Rambi kini perlahan tergerus akibat krisis regenerasi

Rambi adalah seni musik tradisional Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi yang telah ada sejak jaman dahulu. Rambi sama tuanya dengan tradisi orang pulau.  

Pada perayaan-perayaan besar, tari-tarian, dan Bhanti (Syair), rambi selalu mejeng menjadi unsur penting.

Rambi dalam Bahasa Indonesia berarti menabuh. Para pemain musik Rambi disebut Pande Rambi.

Di pulau Tomia ada banyak jenis rambi, dan berdasarakan hasil penelusuran banyak diantaranya dianggap telah punah.

Rambi pada Tradisi Tomia

La Habu tengah menjelaskan tentang Rambi sembari sesekali memainkannya di teras salah satu rumah di Onemai. Sumber: Lekasura

Menurut La Habu (70), Pande Rambi, ada banyak tradisi di pulau Tomia yang tidak bisa terpisahkan dari iringan musik rambi, diantaranya:

  • Isilamua

Isilamua adalah tradisi sunatan berdasarkan adat Tomia dan rambi merupakan salah satu hal yang wajib ada dalam Isilamua.

Jenis rambi yang digunakan dalam sunatan ini adalah Rambi Lungku. Pada acara isilamua tabuhan Rambi Lungku diperdengarkan pada pagi hari.  

  • Pasombo’a

Pasombo’a adalah prosesi memandikan calon pengantin sebelum hari pernikahan dan dalam prosesi pasombo’a diiringi dengan Rambi Lungku.

Rambi Lungku di tabuh sebelum dan saat calon pengantin dimandikan.

  • Sasa’a

Sasa’a adalah acara doa untuk anak-anak agar tidak sakit, anak yang di sasa khusus untuk turunan tertentu, tidak semua anak bisa di Sasa, konon penyakit terkait Batata yang pernah di ucapkan leluhurnya.

Sasa’a ada dua versi, yaitu Sasa’a dan Sasa’a Lapambai. Perbedaannya, terletak pada jenis tabuhannya.

Untuk Sasa’a Lapambai menggunakan Rambi Lungku, sedangkan Sasa’a menggunakan Rambi Bungke yang hanya menggunakan gendang.

  • Guntira

Guntira adalah tradisi menggunting rambut untuk anak balita. Di Usuku, acara guntira dahulu dilaksanakan di mesjid Raya Al Hikmah Usuku usai salat Idul Adha.

Acara guntira dilaksanakan sebelum acara Mansa’a (Silat) pada sore hari. Dalam acara guntira, saat Rambi Lungku ditabuh maka anak anak mulai digunting rambutnya oleh para tetua kampung (mansuana pande ala nu hotu). Rambut yang digunting tersebut disebut Hotu Kafiri.

  • Mansa’a

Mansa adalah acara pencak silat yang dilakukan pada acara pernikahan, penyambutan tamu dan usai melaksanakan salat Idul Adha.

Dahulu pelaksanaan mansa’a pada pada hari raya idul adha berpusat di halaman masjid Raya Usuku.

Untuk mengiringi acara silat menggunakan Rambi Mansa yang konon mempunyai energi penyemangat yang mampu membuat para Pamansa (Pendekar Silat) tidak sabar untuk masuk gelanggang.

Rambi mansa Tomia terdiri dari dua versi yaitu Rambi Mansa Bogisi dan Rambi Mansa Mollengo.

  • Bosebose

Bosebose merupakan tradisi berlayar di sekitar pesisir pulau Tomia. Tradisi ini dilaksanakan pada Bulan Safar yang dilaksanakan siang hari hingga sore usai acara mandi safar (Safara’a) pada pagi harinya.

Bosebose bagaikan bertamasya di atas perahu dengan diiringi rambi Bosebose. Dalam tradisi ini tabuhan pada tiap perahu yang mempunyai alat musik terdengar saling bersahutan.

Kemeriahan Bosebose juga terlihat pada pesisir pantai yang dipenuhi masyarakat yang menonton berbagai perahu yang terdiri dari jenis beragam jenis, seperti Lepalepa, Soppe, Fangka, Kolikoli dan lain sebagainya.

La Habu yang masih menguasai tabuhan Rambi Bosebose terakhir menyaksikan tradisi Bosebose di tahun 1963, dan menurutnya acara Bosebose pada zaman itu berpusat di laut antara Desa Waiti’i dan Desa Lamanggau

Jenis-jenis  Rambi Tomia

  • Rambi Lungku Waha

Rambi Lungku Waha adalah Rambi Lungku yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di Waha, sebuah keluarahan di Kecamatan Tomia (bagian barat).

Rambi Lungku Waha digunakan untuk acara adat seperti pernikahan, sunatan sasa’a, dan guntira.

  • Rambi Lungku Tongano

Rambi Lungku Togano fungsinya sama halnya dengan lugku Waha yaitu untuk acara adat.

Berdasarakan Namanya Lungku Tongano digunakan oleh orang Tongano, masyarakat yang tinggal di kawasan Pulau Tomia bagian tengah (Kecamatan Tomia Timur).

Menurut La Habu perbedaan antara lungku Waha dan Tongano hanya pada permainan Tafa-tafa dan Mbololo.

“Ara i kami pande rambi ana, to hekidingo ako to dahani emo na posalano na Lungku Waha kene Tongano. (Bagi kami yang terbiasa rambi, cukup dengan mendengar kami sudah bisa memebedakan antara Lungku Waha dan Tongano),” ujarnya.

  • Rambi Lutunani

Rambi Lutunani adalah tabuhan yang digunakan untuk mengiringi tarian Lutunani. Tarian Lutunani hanya diiringi dengan sebuah gendang yang disebut Tamburu (Tambur).

Tarian Lutunani dipentaskan saat penyambutan tamu, terdiri dari Tamburu (penabuh gendang), Alifarisi atau Pande Gaferi (pemegang bendera), dan Lutunani (pemegang Tombak).

Menurut La Ode Hefi (74), pemangku adat Kafati Timu, bahwa dulu pengantin pria ketika di antar menuju rumah mempelai perempuan diiringi dengan tarian Lutunani.

Sementara di Waha di antar pakai Rambi Hadara menggunakan Ganda Cinca (rebana).

  • Rambi Balumpa

Rambi Balumpa untuk mengiringi tarian Balumpa, alat musik yang digunakan dalam Rambi Balumpa yaitu Ganda Lonso (Gendang khas Tomia), Ganda Cinca (Rebana), Gambusu (Gambus).

Saat Tari Balumpa dimainkan, ada dua jenis tabuhan, yaitu tabuhan Balumpa dan Tabuhan Pata.

Perubahan dari tabuhan biasa menjadi tabuhan Pata mengikuti perubahan gerakan.

  • Rambi Manari Banda

Antara Rambi Manari Banda dan Balumpa hampir mirip. Perbedaannya terletak pada alat yang digunakan.

Pada Tari Balumpa menggunakan Gambus, sementara Manari Banda menggunakan Piola (Biola).

Dalam proses tabuhannya terdapat dua jenis yaitu Rambi Manari Banda dan Picci-picci.

Salah satu grup musik Manari Banda yang paling terkenal dan pernah berjaya adalah kelompok Pangku Nu Fule pimpinan La Ajiju.

Dalam setiap pementasannya La Ajiju menghibur warga yang menari Balumpa dan Manari Banda.

  • Rambi Pajoge

Tabuhan atau Rambi Pajoge temponya sangat cepat sehingga membuat orang semangat untuk menari.

Pajoge adalah sejenis tarian dan terdapat Ngifi (Ngibing) yang dilakukan oleh laki-laki. Pajoge juga terdapat dalam rangkaian Tari Sajo Wowine yang disebut Pajogera.

  • Rambi Wakenta

Rambi Wakenta untuk mengiringi tarian Wakenta, yaitu jenis tarian yang menggambarkan nelayan yang berburu ikan.

  • Rambi Kadandio

Kadandio adalah sejenis tarian yang dilakukan oleh perempuan sambal bersyair dengan diiringi Rambi.

  • Rambi Alionda

Menurut La Habu, Alionda jenis tarian yang mirip dengan Kadandio, tetapi saat ini sudah tidak terlihat lagi.

Dahulu penari Kadandio dan Alionda kebanyakan ditarikan oleh orang Timu (Desa Tiroau, Desa Dete dan Kulati).

  • Rambi Bosebose

Rambi Bosebose untuk memeriahkan tradisi Bosebose.

  • Rambi Eja-eja (Sajo Moane)

Dalam tari Eja-eja terdapat tiga jenis mengikuti perubahan gerakan.

  • Rambi Hebalia

Hebalia adalah tarian zaman dahulu yang telah punah. Tarian ini ditarikan oleh orang kesurupan sehingga para penari tampak bergerak tidak beraturan. Hebalia hanya diiringi sebuah Gendang.

“Dulu saya menyaksikan Tari Hebalia ditampilkan di suatu tempat yang disebut Koburu Bueyya. Dulu penari Hebalia yang terkenal namanya Falladi. Saya menyaksikan penali Hebalia sampai berbaring di atas tanah bagaikan orang kesurupan,” ujar La Habu.

  • Rambi Mansa Mollengo

Rambi Mansa mollengo adalah Rambi mansa asli Tomia versi lama. Rambi Mansa sendiri adalah rambi untuk mengiringi acara pertarungan Silat.

  • Rambi Mansa Bogisi

Rambi Mansa Bogisi adalah rambi mansa versi terbaru dan dalam tabuhannya lebih bervariasi antara gendang satu dan dua.

  • Rambi Mangu-mangu (Sajo Wowine)
Wa Ene sedang memainkan Rambi Mangu-mangu. Sumber: Lekasura

Rambi Mangu-mangu adalah rambi Sajo Wowine untuk bhanti mangu-mangu. Dalam tarian Sajo Wowine tiap bhanti beda gerakan dan tabuhan (Rambi).

  • Rambi Mborira (Sajo Wowine)

Tari Mborira adalah jenis dari Sajo Wowine. Mborira adalah bhanti Sajo Wowine yang menceritakan burung Mboriranga/Kuiramba yang terbang di angkasa.

Berdasarkan bhanti, maka ada banyak rambi dalam Sajo Wowine yang sebagian besar sudah punah.

Di antara jenis Rambi untuk bhanti Sajo Wowine yang sudah punah yaitu: Maraha, Pujanggano, Turuki, Marahuluhakku, Ramtelo, Sanggolonggolo, Ana Ana Moilu, Bositti (tanpa Rambi).

Menuru Haji Djunaedi (52) yang mencatat nama bhanti Sajo ada kurang lebih 20 jenis bhanti Sajo Wowine.

  • Rambi Legolego

Menurut La Ode Hefi, Rambi Legolego digunakan untuk menyambut mempelai pria yang datang dengan diiringi tarian Lutunani.

“Ketika mempelai pria terlihat, maka saat itu Rambi Legolego ditabuh sampai mempelai pria masuk ke dalam rumah. Saya menyaksikan karena saya merupakan penabuh Rambi Legolego,” ungkap La Ode Hefi.

  • Rambi Bungke/ Rambi Ndongendonge

Dalam tradisi Sasa’a, Rambi Bungke digunakan untuk mengiringi prosesi pembacaan doa pada anak. Rambi Bungke hanya menggunakan sebuah gendang.

Alat Musik pada Kesenian Rambi

La Habu dan grup musik Rambinya sedang memainkan Rambi Mansa. Tampak beberapa alat musik Rambi. Sumber: Lekasura

Alat musik Rambi yang dimaksud di sini adalah musik yang sudah ada sejak dulu, di antaranya Mbololo (Gong kecil), Tafatafa (Gong besar), Ndengundengu (Bonang), Ganda (Gendang).

Selain itu tabuhan gendang dalam rambi juga diiringi dengan gambus, biola dan rebana.

Dalam permainan rambi ada yang di sebut Pande Tikki, yakni yang bertugas untuk mengatur ketukan dalam rambi dengan mengetuk Tafa-tafa.

“Saya merupakan pegiat seni, karena dahulu saya pemain orkes tahun 70-an. Saya main di Band Irama Jaya. Dulu ketika datang tamu di gedung pemuda, kamilah yang mengiringi musik orkes,” ujar La Habu yang sudah sejak muda menjadi Pande Rambi di Kecamatan Tomia.

Menurut La Habu dahulu alat kuningan Gong dan Bonang berasal dari Banggai, bukan dari Jawa.

Oleh karena itu, dahulu ada istilah Mbololo Banggai, Tafatafa Banggai, Ndengu-ndengu Banggai.

Suara yang dihasilkan alat musik dari Banggai ini bagus karena campuran kuningannya masih asli.

“Dulu di Banggai banyak gong tua peninggalan masa lalu. Tapi waktu saya berlayar ke sana, saya tidak melihat ada pembuat gong di Banggai, itu antara tahun 1983 sampai 1987. Mungkin pada jaman dulu Mbololo dan Ndengu-ndengu tua tersebut juga dibawa dari luar Banggai,” ungkap La Habu

La Habu melanjutkan bahwa waktu berlayar ke Banggai untuk menjual barang dari Jawa, menyaksikan sendiri di dalam gudang desa-desa Banggai banyak tersimpan Gong dan Bonang tua yang tidak terpakai.

“Waktu itulah kami tukar barang dengan gong, semua masih asli, bahkan kebanyakan sudah pecah dan sudah retak. Masyarakat disitu juga tidak menggunakannya tetapi hanya disimpan di gudang desa. Kalau gong sekarang gong dari Jawa, yang dari segi suara agak beda karena mungkin campuran berbeda. Gong Jawa juga terlihat lebih cerah warnanya,” terang La Habu

Gendang buatan asli Tomia di sebut Ganda Lonso. Terbuat dari batang kayu yang dilubangi bagian tengahnya. Diameter lubang di kedua sisi berbeda ukuran.

Lubang yang berukuran besar menggunakan kulit kambing tebal yaitu kulit kambing jantan. Untuk lubang yang kecil menggunakan kulit kambing tipis dari kulit kambing Betina.

Tujuanya, agar ada perbedaan suara, lingkaran besar menghasilkan suara bas dan lingkaran kecil menghasilkan suara nyaring.

Pada proses pembuatannya, sebelum kulit kambing digunakan harus dikeringkan terlebih dahulu, setelah itu bulu kambing mesti dicukur.

Saat kulit kambing hendak dipasang pada gendang perlu direndam dengan air semalaman. Ini agar kulit bisa mengendor.

Sebelum dipasang pada mulut gendang kulit kambing terlebih dahulu juga diikat pada lingkaran batang Hora. Setelah itu, dipasang pada mulut gendang lalu dikencangkan dengan rotan.

“Te ganda jamani miana kai no pococo na tangano, halu no balu I Java, jari no pake te kuli sapi kene rusa. Tabea te kuli fembe moane kene fofoine. (Gendang sekarang kurang cocok bunyinya, karena beli di Jawa, sehingga menggunakan kulit sapi dan rusa. Seharusnya kulit kambing betina dan jantan, makanya gendang Jawa kurang nyaring.),” jelas La Habu

Agar Rambi Tidak Punah

Saat ini Pande Rambi sudah jarang dan yang bisa memainkan rambi hanya orang-orang tua. Maka, langkah yang perlu dilakukan untuk melestarikan kesenian atau eksistensi Pande Rambi diantaranya:  

  • Menjadikan Rambi sebagai praktek kesenian sekolah.

Saat ini setiap sekolah telah mendapat bantuan satu set alat Rambi dari pemerintah. Namun, adakalanya alat-alat itu tak dimanfaatkan dengan baik.

Saat ini Rambi perlu diajarakan karena situasi generasi muda sekarang berbeda dengan dulu.

La Habu mengatakan bahwa dulu orang bisa memainkan rambi tidak pakai guru tapi hanya dengan mengamati.

“I mollengo to si’insi’i ako to dahanimo, halu I mollengo no pande rambi na kene jari to pande hekina’a. (Dulu kita lihat-lihat saja sudah tau, karna zaman dulu orang sering rambi sehingga kita sering mengamati),” jelas La Habu

  • Mendokumentasikan berbagai jenis Rambi yang ada di Pulau Tomia, misalnya dalam bentuk video.  

Hal ini dilakukan agar dari hasil dokumentasi orang bisa belajar dan semakin mengenal rambi.

Saat ini Komunitas Lekasura telah membuat video tutorial untuk menjadi sumber belajar yang mudah di akses. Klik di sini untuk menonton.

  • Pengkaderan penerus Rambi pada generasi muda, dan hal ini perlu kesadaran generasi muda.
Rial melakukan wawancara dengan grup musik Rambi di Onemai. Sumber: Lekasura

Wa Ene (80), Pande Rambi asal desa Onemai mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan rambi.

“To mansuanamo tabeamo anne’e na dumahani rumambi, koruo na tumanga ala’a kua a umajjara, inta meanggala na mina mai. (Kita sudah tua, kecuali ada yang bisa rambi ini. Banyak yang bilang bahwa mau belajar tapi tidak ada yang pernah datang),” ungkap Wa Ene.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here