Orang-orang Tomia mendirikan Sapo Ganto rumah kayu yang ramah dari gempa. Namun kini ia telah ditinggalkan dan mulai termakan zaman

Pada suatu kesempatan, om saya bercerita mengenai sejarah bagaimana bentuk rumah di desa saya dahulu dipenuhi dengan rumah panggung. Atau kalau orang Tomia menyebutnya dengan sebutan Sapo Ganto. Lalu pada sekira tahun 80-an, pelahan tapi pasti, bentuk rumah mulai berganti gaya menjadi rumah beton, orang Tomia mengenalnya dengan Sapo Fatu.

Mula-mula dua rumah (rumah kecil saya salah satunya), lalu tiga, lima dan seterusnya sampai saat ini 50% lebih rumah di desa saya adalah sapo fatu. Sisanya, sebagian sapo fatu yang dikombinasi dengan dapur berbentuk sapo ganto. Lainnya, murni sapo ganto.
 
Tidak susah menelusuri peradaban sapo ganto, walau sepertinya invasi sapo fatu tidak akan segera berhenti. Pasalnya, sapo ganto masih berdiri dengan gagahnya walau dihimpit sapo fatu di kanan kirinya. Pun karena di desa saya, orang-orang masih punya pilihan untuk mendirikan sapo ganto terutama mereka yang memilih tinggal di pinggir laut, macam Orang-orang Bajo.
 
Menelusuri peradaban sapo ganto juga bisa jadi adalah menelusuri jejak-jejak sejarah kosakata Bahasa Tomia asli yang saat ini mulai luntur. Dari pencarian saya mengenai bagian-bagian sapo ganto, saya menemukan kosakata yang sepertinya tidak atau bahkan belum pernah didengar oleh generasi milenial Tomia. Atau kalaupun ada yang pernah mendengar, mereka tidak tahu hal tersebut merujuk ke mana. Berikut beberapa istilahnya:
 

  • Sandi, merujuk kepada susunan batu yang ditumpuk untuk tempat berdirinya tiang rumah. Batu ini dalam konstruksi sapo fatu bisa disamakan sebagai pondasi rumah yang akan dibangun. Terkesan seperti tidak ada gunanya karena tampilanya yang terlihat sepele. Namun justru dari sandi inilah sebuah rumah dikatakan berdiri dengan sempurna. Miring atau tidaknya sebuah rumah bisa disebabkan dari sandi yang juga miring. Bahkan pada kondisi yang cukup ekstrim, kondisi sandi yang tidak baik akan merubuhkan bangunan rumah.
     
  • Orihi, merujuk pada tiang utama pembentuk rumah. Orihi terdiri dari dua, yang bersentuhan langsung dengan sandi dan yang jadi tiang untuk dinding (Rindi). Orihi bisa jadi adalah bagian yang sangat penting dari sistem rumah, apapun bentuknya. Bahkan walau bukan bernama orihi, rumah panggung juga mengenal konsep orihi di bagian pinggirannya dalam bentuk cor-coran beton dengan semen yang lebih pekat.
     
    Ada banyak bagian yang bersentuhan langsung dengan orihi, entah yang di bawah atau yang di atas. Sebut saja Kai, yang nanti jadi pancang orihi
     
  • Galaga, merujuk kepada kayu melintang di bawah lante (lantai)  ataupun di bawah helombo (atap). Galaga memegang peranan penting terutama agar lantai tidak berantakan. Di posisi bawah atap, galaga sangat fungsional jika rumah dilengkapi fombo (plafon) yang kelak bisa juga digunakan sebagai media penyimpanan beragam barang.
     
  • Rindi dan Lante, tentu saja sebagai bagian dari peradaban yang sujana, semua orang  Tomia harusnya tahu arti dan fungsi dari lante dan rindi. Kalo tidak tahu, kebacut. Jadi bule saja.
     
  • Kasolaki, merujuk kepada kayu melintang pembentuk segitiga untuk meletakan helombo. Selain kasolaki, ada bagian lain yang berbentuk segitiga agar Helombo (atap) bisa terbentuk sempurna yang disebut Tumba. Kelak, dua benda inilah yang juga berperan agar posisi helombo bisa simetris. Di ujung kasolaki juga terdapat satu benda lain bernama Senta atau Sappaki. Sebuah papan yang saya sendiri kurang paham fungsinya apa namun hampir di semua sapo ganto memilikinya. Bahkan sapo fatupun ikit-ikutan sekarang.
     
  • Helombo. Ini juga sama dengan rindi dan lante di atas yang secara spesifik saya tidak akan mau menjelaskannya. Saya hanya akan memberi beberapa jenis dari helombo. Dahulu, orang-orang menggunakan Rumbia yang terbuat dari daun rumbia atau daun kelapa yang dibentuk sedemikian rupa menjadi persegi panjang dengan ukuran (mungkin) 150 cm * 75 cm. Jenis lainnya ada bata dari tanah merah. Sedangkan setelah banyak orang membikin sapo fatu, atap seng dan asbes diasimilasi dalam tubuh sapo ganto.
     
  • Tolofufu. Bagian ini sebenarnya hanya sebentang benda (bisa dari seng atau kulit) yang cukup solid namun elastis untuk menutup bagian atas helombo. Namun justru keberadaanya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Ia menjadi bagian paling penting terutama ketika hujan menyerang seperti sekarang ini. Oiya, tolofufu juga digunakan oleh sapo fatu.
     

Pada hakikatnya, sapo ganto memiliki tiga bagian penting. Bagian bawah (sandi dan origi) yang berkaitan erat dengan fondasi rumah, bagian tengah (galaga, orihi, rindi, lante, dsb) yang berkaitan erat dengan ruangan-ruangan dan tempat berpijak dalam rumah dan bagian atas (kasolaki, galaga, senta, helombo, dan tolofufu) yang erat kaitannya sebagai bagian pelindung rumah dari panas dan hujan. Sangat simpel dan terkesan tanpa vasiasi.
 
Namun, tidak seperti kesannya yang kuno itu, sapo ganto adalah sebuah entitas yang besar. Seperti pada umumnya rumah, fungsi lazimnya adalah sebagai tempat perlindungan. Ini yang oleh nenek moyang kita, entah kesengajaan atau tidak menjadikan sapo ganto menjadi teknologi besar lintas jaman.
 
Masih sangat segar diingatan saya ketika bagian dapur rumah kami yang sapo ganto itu dilanda gempa. Getarannya tentu terasa, namun rasa khawatir justru tidak pernah muncul, misal saja rumah akan roboh atau rindi dan helombo runtuh lalu menimpa saya.
 
Berbeda ketika pada kondisi gempa, dan saya berada di bagian sapo fatu. Was-was melanda. Tentu saja selain karena getaran yang jadi lebih terasa, juga karena kekhawatiran rumah akan roboh dan menimpa saya. Hal ini tentu tidak main-main. Pasalnya, pada beberapa kali terkena serangan gempa, bagian sapo fatu menjadi yang paling banyak retak pada  dindingnya. Dan itu tentu saja ancaman.
 
Secara ilmiah, saya belum menemukan studi yang mengulas tentang kemungkinan fungsi sapo ganto untuk meredam rubuhnya rumah dari goncangan gempa. Namun, apa yang saya pernah alami dengan dua pengalaman berbeda (sapo ganto dan sapo fatu) ini bisa jadi sedikit rujukan bahwa teknologi anti gempa sebenarnya diam-diam telah ditemukan oleh nenek moyang kita sejak ribuan tahun yang lalu. Sayangnya, kita justru tergiur teknologi baru (yang masuk) ke masyarakat kita yang bisa jadi malah lebih rentan dan tidak ramah dengan alam sekitar kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here