Ada banyak tantangan menjadi perempuan pande paraso kenta. Mulai dari risiko tercebur ke laut, cedera, menghadapi cuaca buruk hingga tak dilindungi undang-undang

Wa Mida (50) adalah salah satu Pande Paraso Kenta atau penjual ikan di Pulau Tomia. Setiap pagi di hari pasar ia memanggul jualannya ke Pelelangan ikan di Pasar Sentral Usuku. 

Pada Minggu (13/11) itu saya menemui Wa Mida di pasar. Tampak pergelangan tangan kirinya sedang bengkak akibat keseleo.

“Ini sudah kedua kalinya terjadi, akibat tidak sengaja jatuh ketika membuat ikan kering,” kata perempuan yang kerap disapa Mamak Yati itu.

Sejak pertama kali pindah dari Kapota, Wangi-wangi, Mamak Yati telah memantapkan untuk menjual ikan.

“Suami saya berdagang baju RB (rombeng), saya jual ikan,” kata perempuan yang juga menjual ikan secara berkeliling (biasanya pakai sepeda motor atau lebih dikenal dengan Jibu-jibu)

Mamak Yati menadah ikan dari nelayan Desa Lamanggau kemudian ia jual di pelelangan pasar sentral Usuku dan sebagian lagi dibuatkan ikan kering (rengka).

Wa Mida tengah menjajakan ikannya di Pasar Sentral Usuku, Tomia. Sumber: Lekasura/nabila

Terkait pembuatan ikan kering ini, Mamak Yati mengambil ikan katamba dari nelayan.

Untuk proses pembuatan ikan katamba kecil tidak membutuhkan waktu lama, hanya dibelah lalu di celup ke dalam air garam dan langsung di jemur.

Sedangkan ikan katamba besar setelah dibelah direndam di dalam larutan garam semalam terlebih dahulu.

Perempuan berkulit sawo ini mengatakan proses penjualan ikan garam ini bervariasi. 

“Kalau ikan katamba besar itu ada langganan dia di kilo. Untuk ikan kering ukuran sedang hingga kecil saya karungkan terus saya jual ke Solo (Flores),” jelasnya.

Mamak Yati cerita dalam setiap kali penjualannya ke Flores, ia membawa adakalanya 10 karung strep. Dalam satu kali jalan ia bisa menghasilkan keuntungan sampai Rp 3 juta.  

“Saya jualan ke Solo itu setiap kali ada jadwal Kapal Sabuk Nusantara ke sana. Penghasilan adakalanya 3 juta sekarung belum dihitung uang sewa kapal. Pernah juga sebelum itu saya kirim ke Baubau tapi dengan hasil sedikit, jadi saya pindah bawa ke Solo saja,” terangnya.

Berkat penjualan ikan itu, Mamak Yati sekarang mampu menguliahkan anaknya.

“Anak laki-lakiku juga sementara kuliah penerbangan di Makassar, bulan 1 ini in syaa Allah sudah selesai,” katanya.

Kesuksesan dalam menjajakan atau berdagang ikan juga dirasakan Wa Ija (45). Perempuan paruh baya itu juga sukses menyekolahkan anak dan bahkan sampai bikin rumah dari hasil menjadi jibu-jibu.

“Kebutuhan sehari-hari, kuliah anak-anak sampai bangun rumah ini yaa susah payah dari hasil penjualan ikan dan jelas pakai modal sendiri. Capek memang, meski ada juga orang yang iri hati, tapi satu-satunya penghasilan kami sudah sejak dulu itu menjual ikan,” ujar wanita yang sudah menjual ikan selama 12 tahun ini.

Wa Ija mendapatkan ikan dari kapal-kapal pelingkar yang melaut. Bahkan suaminya turun langsung sebagai nakhoda di salah satu kapal tersebut.

Wa Ija ketika ditemui di rumahnya di Kelurahan Tongano Barat, Kecamatan Tomia. Sumber: Lekasura/nabila

Ikan yang dijual tergantung banyaknya perolehan dari kapal pelingkar.

“Karena kita dengan jibu-jibu lain itu saling berebut. Kadang sampai pernah ada yang jatuh ke laut apalagi yang baru pertama kali menjual ikan,” pungkasnya sembari tersenyum mengingat hebohnya saat mengambil ikan.

 “Kalau dapat banyak bisa mencapai 3 setengah basket atau setara dengan 7 ember 20 kg. Selain disisihkan untuk dibuat ikan asap asar garam, dijual basah juga di pelelangan pasar sentral Usuku, pasar malam, sisa yang tidak laku disimpan di box es batu untuk dipasarkan besok. Tetapi kalau hanya dapat seember, ikannya langsung dijual basah tidak bikin asar garam lagi,” ceritanya.  

Wa Ija juga memasarkan ikannya dengan berkeliling mengendarai motor bahkan sampai ke desa di perbukitan Pulua Tomia seperti desa Kahyanga

“Alhamdulillah selama menjual ikan selalu habis, kuncinya jangan pelit. Satu, dua ekor bonus untuk pembeli itu obat manis hati mereka kepada kita,” tuturnya.

Tantangan Pande Paraso Kenta

Seorang anak perempuan menjual ikan di Pasar Sentral Usuku, Tomia.Sumber: Lekasura/nabila

Selain cedera keseleo dan tantangan tercebur ke laut, baik Wa Mida maupun Wa Ija serta para perempuan yang mencari penghasilan dengan menjual ikan juga memiliki persoalan yang berkait dengan cuaca buruk.

Di laut Wakatobi terutama bulan 12 akhir, menjelang bulan 1, adalah musim-musim cuaca buruk. Ketika musim ini tiba, gelombang air laut tinggi disertai angin kencang ditambah hujan.

“Kalau cuaca buruk begini, kencang angin dan keras ombak, ikan mahal. Kadang hanya dapat seember.” jelas Wa Ija.

“Jika hanya musim hujan tidak disertai keras ombak, banyak dapat ikan dari pelingkar. Namun, untuk ikan asar garam susah di bakar. Kayu basah ditambah lagi tempat pembakaran juga basah,” tambahnya.

Dirasakan pula oleh Mamak Yati yang membuat ikan kering.

“Cuaca buruk, apalagi musim hujan itu tidak bisa menjemur ikan. Kerugiannya, ikan lama kering sama berulat,” terangnya.

Sayangnya, persoalan yang dihadapi para perempuan jibu-jibu ini jarang dilirik. Padahal mereka selalu  berharap pemerintah sedikit lebih prihatin kepada nasib mereka di musim badai seperti ini.

“Selama ini kami tidak pernah dapat bantuan apa-apa, pakai modal sendiri, tapi setidaknya kalau ada kami juga butuh alat untuk menampung ikan yang kami beli. Seperti saya yang mengasapi, alat-alat pembakar baru sangat dibutuhkan,” harap Wa Ija.

Tak Dilindungi Undang-undang

Kurang perhatian, tepat diberikan kepada ibu-ibu penggerak ekonomi perikanan ini.

Sorotan pemerintah hanya berfokus pada pengadaan alat tangkap nelayan yang selalu merujuk pada nelayan laki-laki.

Sementara pande paraso kenta yang kebanyakan perempuan jarang diperhatikan sebagai entitas penting di sektor perikanan.

Perempuan Pande Paraso Kenta sedang menjajakan ikannya dengan berjalan kaki di Jalan Poros Usuku-Waha, Tomia. Sumber: Lekasura/fadli

Hal ini sesuai dengan apa yang tertera pada Undang-Undang Perlindungan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam yang disahkan 14 April Nomor 7 tahun 2016.

Dalam regulasi itu hanya berisi perlindungan atau pemberdayaan pada Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam, tak ada perempuan nelayan maupun jibu-jibu.

Jikapun perhitungan pemerintah adalah pada setiap kepala keluarga yakni laki-laki, bagaimana dengan nasib jibu-jibu yang telah ditinggal suaminya?

Jelas mereka menanggung beban ganda. Bukan hanya sebagai penjual ikan, tapi ibu yang merangkap peran sebagai ayah.

Tidak mudah memenuhi kebutuhan keluarga di tengah perkembangan ekonomi yang terus melonjak naik di tambah lagi beban psikologis untuk menjaga anak-anak.

Bagaimanapun ibu adalah orang yang seringkali disoroti ketika anak-anak melakukan kesalahan. Lantaran di rumah merekalah yang ditugaskan mendidik.

Kesempatan kian sempit, bahkan sekadar mengurus diri sendiri. Sebab, mereka adakalanya mengutamakan menjual ikan alih-alih urusan rumah.

Peremouan jibu-jibu telah menggerakkan pasar perikanan hingga ke pelosok desa bahkan antar pulau.

Melihat aktivitas Wa Ija dan jibu-jibu lainnya yang penuh kadar resiko sangatlah patut mendapat perhatian. 

Bukankah pemasukan wilayah setempat berpotensi besar dari pemasaran dan pengolahan hasil laut perikanan?

Patutlah sekadar mendapatkan perlindungan sekurangnya jaminan agar pengolahan ikan ini terus berlanjut meski di cuaca buruk sekalipun.

Bukankah baik Kalau lebih beri memberi, kalau kurang tambah menambah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here