Sejatinya, di Desa Kulati, Pulau Tomia terdapat panel surya sebagai tenaga listrik yang bisa dijadikan solusi tatkala listrik tiba-tiba bermasalah. Selain itu, alat itu bisa menjadi pemicu transisi energi terbarukan di Wakatobi. Sayangnya, panel itu malah terbengkalai. Diduga perang kepentingan.

Desa Kulati didaulat sebagai Desa wisata di Kabupaten Wakatobi sejak lebih dari satu dekade silam. Desa ini masyhur dengan keindahan pantainya yang terletak di ujung timur Pulau Tomia.

Salah satu pantai yang cukup intens diunggah di berbagai platform media sosial dalam promosi pariwisata Wakatobi ialah Pantai Huntete.

Pantai ini juga sering disebut-sebut menyimpan ragam sumber kehidupan. Namun, tak hanya menyimpan keindahan dan memori kolektif tentang hal baik. Di sini juga, tersimpan memori kolektif yang ‘sebaliknya.’

Sepanjang jalan di sebelah kiri dan kanan Pantai Huntete, terbentang kebun dan ternak milik warga.

Pada sisi kanan dari arah utara, mata kita akan tertumbuk pada pemandangan lembaran tembaga mengkilap yang membentang cukup luas.

Semakin dekat, kian jelas bahwa itu adalah onggokan panel surya yang sudah mulai rusak, dikepung tumbuhan liar dengan beberapa bagian yang nampak jebol.

Na Kadima nu PLTS ana (sayang sekali ini panel  Pembangkit Listrik Tenaga Surya),” gumam warga setempat setiap kali melewati tempat itu.

Ada nada kecewa bercampur gusar tertangkap di dalamnya. Wajar saja, sebab benda itu telah terbengkalai sia-sia begitu saja sejak tahun 2018 silam.

Perasaan warga itu berkebalikan dengan satu tahun sebelum adanya alat canggih itu.

Kala itu warga Kulati yang selama ini kesulitan mengakses listrik, diliputi perasaan  suka saat mendengar mesin listrik akan masuk ke kampungnya.

Perasaan itu kian gembira, tatkala mereka mengetahui bahwa kabar itu tak hanya ricauan semata. Sebab pembanguna Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dihibahkan oleh sebuah perusahaan swasta itu benar-benar didirikan di jalan menuju Pantai Huntete.

Wa Dita (21) masih berseragam putih abu-abu kala PLTS mulai dibangun di kampungnya. Ia dan teman-teman sebayanya termasuk yang paling antusias atas pembangunan panel surya itu. Karena sebentar lagi listrik akan menyala 24 jam di kampungnya.

“Kami sudah bisa makan es dari kulkas sendiri, dan yang paling penting, kalau tidur malam tidak ditemani senter dan lampu pelita lagi,” ujarnya.

Desa Kulati ini memang belum tersentuh listrik milik negara (PLN) hingga tahun 2017 silam. Warga mengakses listrik dengan bantuan mesin kecil milik desa saja, yang hanya menyala sejak jam 6 sore hingga menjelang pukul 10 malam.

Untuk menyiasati kapasitas mesin yang kecil itu, warga Kulati dibagi menjadi dua bagian: pelanggan sebelah selatan dan pelanggan sebelah utara.

Merawat mesin kecil itu harus diakukan telaten dan intens melibatkan warga. Hampir setiap minggu jika mesin terlalu panas, ia akan mati.

Jika sudah semikian, maka para remaja dan orang dewasa mesti memikul air dari bak pribadi menuju tempat mesin untuk mendinginkannya.

“Kami senang sekali pas dengar ada PLTS ini, kami tidak akan kerepotan pikul air lagi,” jelas Dita.

Selain itu, Wa Dita membayangkan bahwa jika listrik sudah masuk di kampungnya, dia tidak akan meyetrika seragam sekolahnya pakai setrika tempurung lagi. Bahkan menanak nasi pun sudah bisa pakai listrik.

“Semua yang kita lakukan sudah praktis, tinggal cok saja,” ujar La Eri (25), teman Dita mengimbuhkan.

Panel surya yang terbengkalai di jalan menuju Pantai Huntete, Desa Kulati. Sumber: Eka/Lekasura

Persis tahun 2018. Tiang listrik sudah terpancang kokoh, lampu jalan, meteran dan instalasi di setiap rumah warga sudah terpasang rapi, tanpa dipungut biaya sepeser pun. Di bayangan warga, PLTS sudah siap dioperasikan, dan akan menyala dalam waktu dekat. Sebelum akhirnya sesuatu tiba-tiba terjadi dan harapan itu pupus.

Warga Kulati tak tahu menahu apa yang terjadi saat pengerjaan proyek PLTS itu terhenti.  Padahal persiapan PLTS sudah berjalan sekitar 80 persen.

Firman (38) seseorang yang lumayan mengikuti perkembangan PLTS, membagikan pengalamnnya.

Jelang proyek hibah itu akan terhenti, ia meninggalkan balai Desa Kulati dengan Langkah gontai dan raut murung usai diskusi  cukup panjang dan alot.

te PLTS afo afana afommo ala,a. Umeammo na PLTS no helafemo (panel PLTS itu akan seperti itu saja, sudah tidak ada lagi PLTS, sudah berhenti),” ujar Firman.

Rupanya diskusi itu sudah berlangsung sejak sore. Banyak warga yang tak ikut rapat (karena jumlah warga yang dibolehkan masuk balai desa harus dibatasi), berkerumun di gode-gode.

Mereka menyimak, harap-harap cemas dari kejauhan. Menunggu keputusan tentang nasib PLTS. Itu persis sudah lewat pukul 10 malam

Malam itu rapat di balai desa bubar. Begitupun kerumunan warga. Setiap orang sudah bisa menebak, PLTS akan batal menerangi kampung mereka.

Tak lama berselang, instalasi listrik dan meteran baru, mulai dipasang di rumah warga,  menggantikan instalasi PLTS.

PLN resmi akan dioperasikan di Desa Kulati dalam waktu dekat. Dan benar saja, beberapa minggu kemudian, Desa Kulati sudah diterangi listrik pada malam hari. Lebih tepatnya, 24 jam kala itu. Sayangnya, kondisi itu tak bertahan lama.

Pada bulan-bulan berikutnya, PLN Tomia mulai menunjukkan wajah aslinya. Mati lampu secara bergilir diselingi mati total, sangat sering terjadi.

Desa Kulati yang awalnya mengupayakan sumber daya energi listrik sendiri dan nyaris ditopang oleh sumber daya energi listrik terbarukan dari PLTS, kini jika sedang musim mati lampu, mesti ikut berdesakan menunggu giliran jatah listrik dengan pengguna listrik lainnya yang ditopang oleh PLN Tomia.

Padahal sebenarnya, walaupun tanpa peningkatan beban pengguna energi listrik dari desa-desa yang baru dijangkau  sekalipun, PLN memang sudah “sakit-sakitan.”

“PLN Tomia kekurangan sumberdaya energi pasokan listrik. Jadi daya yang dihasilkan PLTS mesti dijual pada PLN, pihak PLTS keberatan,” ungkap Firman mengenang diskusi alot di balai desa tempo lalu.

Sampai saat ini, PLN Wakatobi, termasuk juga di Tomia, masih menggunakan sumber energi fosil berupa minyak bumi yang yang tidak bisa diperbaharui.

Padahal intensitas curah hujan yang rendah dan panas matahari yang menyengat di daerah Wakatobi, sangat potensial untuk pengembangan energi listrik tenaga surya.

Sayangnya, perang kepentingan telah berujung pada gagalnya transisi menuju energi baru dan terbarukan. Ini mestilah dilihat secara serius oleh pemerintah daerah.

Apalagi, untuk pulau Tomia saja, jumlah panel surya yang terbengkalai ini, tersebar di beberapa desa/ wilayah, tidak hanya di Desa Kulati saja. Ada sekitar empat buah panel kayaknya di daerah barat Tomia.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga sudah berkomitmen menargetkan 23% bauran energi baru dan terbarukan pada 2025.  

Dan ini harus terus digenjot hingga mencapai kondisi impas karbon pada 2060. Sebagai negara yang terbesar di Asia tenggara, tentu langkah menuju transisi energi ini akan sangat berpengaruh pada pengendalian pemanasan global.

Jika tidak demikian, maka iklim yang kian hari kian panas akan mencairkan es di kutub utara dan selatan bumi.  

Ini tentu akan memicu naiknya permukaan air laut, yang lama kelamaan bisa menenggelamkan pulau-pulau dan daerah pesisir di Indonesia. Termasuk pantai-pantai nan indah seperti pantai Huntete di Desa Kulati itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here