Home Blog Page 3

Paket Wisata Lekasura

0

Sebagai sebuah media Komunitas, Lekasura.com menopang ekonominya dengan ragam praktek ekonomi mandiri dan swadaya. Salah satu bentuk merealisasikan praktek ekonomi mandiri tersebut adalah dengan menginisiasi paket Wisata yang berbeda yakni, alih-alih memperlihatkan panorama alam, Paket Wisata berbeda ini justru hendak memberi celah lain bagi para kawan di luar sana yang tertarik mendalami praktek kewargaan sebagai sebuah pengetahuan. Tentu hal ini juga senada dengan langgam yang menggerakkan Lekasura sebagai sebuah Media milik orang Pulau.

Kami meluncurkan Sebuah Paket Wisata dengan bentuk Education Tourism. Sebuah unit bisnis kecil yang diharapkan dapat menopang ekosistem dalam dapur redaksi tim Lekasura dot com.

Paket WIsata Edu Tourism Lekasura

Paket Wisata Education Turism Lekasura adalah Praktek belajar langsung pada Warga Pulau. Sebuah Tur yang menjadikan Belajar dan Mengalami sebagai gagasan utamanya.   

Fasilitas :

Live in di rumah warga kampung
Motor dan sepeda
Konsumsi
Tur guide / Pendamping lapangan
Foto dan Video
Ruang Publikasi

Education Trip:

Kunjungan belajar di Galangan Perahu Tradisional Orang Pulau Tomia

Mengunjungi Pasar Tradisional Usuku

Belajar Menenun di Kampung Onemai

Belajar menabuh gendang di Kampung Waha

Belajar membuat Bhanti, Syair para Pelaut Tomia di Kampung Kulati

Durasi :

3 hari

Personil:

4-8 Person / Packet
Minimal 4 orang
Maksimal 8 orang

Price List:

Minimal 4 Person = 8 juta
Biaya perorang = 2 Juta
Maksimal 8 Person = 12 juta
Biaya perorang = 1, 5 juta

Help Desk:

082190840711

Office:

Pobantaa, Kel. Tongano Timuar, Kec. Tomia Timur, Kab.Wakatobi 93797

Bapak Tua dan Gambus

0

Sejarah Kelurahan Bahari: Menapaki Jejak Arsitektur Gresik di Pulau Tomia

3

Kelurahan Bahari dahulu merupakan wilayah yang ramai, dikunjungi banyak orang, termasuk tukang dari Jawa. Mereka membuat rumah warga bergaya arsitektur Gresik

Kelurahan Bahari adalah salah satu wilayah pesisir di Pulau Tomia. Dahulu, wilayah tersebut ramai oleh banyak pendatang.

Namun, kini daerah bekas pasar Usuku itu kini banyak ditinggal pergi oleh para penduduknya.

Saya menelusuri sejarah kampung pesisir di Pulau Tomia ini dari tahun 1940-an.

Bahari dahulu disebut Tai yang bermakna laut dalam Bahasa Indonesia.  

Pada tahun 1940, kawasan merupakan bentangan pasir putih, ditumbuhi banyak pohon kelapa serta alang-alang dan pohon Hora.

Belum ada rumah permanen yang bisa ditinggali kala itu, yang ada hanya sebuah bangunan kayu berupa warung kecil yang kerap dijadikan tempat istirahat para palangke (pelayar) dan para Pande Fangka (tukang perahu).

Warung kayu itu berlokasi di sebelah barat tangga menuju pelabuhan Bahari saat ini. Warung tersebut dinamai warung Ama La Made.

Berdirinya warung tersebut banyak dipicu oleh keberadaan awak perahu yang sering ramai menjahit layar perahu di sekitar tanah kosong dekat tangga pelabuhan.

Juga daerah di sekitar warung berlantai tanah itu sering dijadikan tempat sabung ayam, jadi kawasan Bahari kala itu selalu dipenuhi para laki-laki.

Bermula dari warung Ama La Made ini, kawasan Bahari berkembang. Warung-warung lainnya lalu menyusul, misalnya warung Aba Wabi Isa dan Ama Haji Adam yang diperkirakan berdiri pada tahun 1948.

Setelah itu Haji Jaris membuat rumah panggung, tepatnya disamping masjid Haji Jaris saat ini. Keberadaan rumah panggung tersebut disusul rumah panggung lainnya.

Haji Arabu (86) menjelaska bahwa rumah Haji Jaris berada di belakang Masjid yang sekarang di sebut Masjid H. Ja’aris.

“Itu tahun 1950-an,” kata Haji Arabu. 

Keramaian Bahari juga diisi oleh para pelayar yang sibuk membikin dan memasang layar di perahu mereka yang terparkir di pantai.

“Banyak pelayar di Bahari itu. Di sana juga ada area taji (sabung ayam),” jelas pelayar kelahiran 1936 itu.

Di samping itu, semaraknya pembangunan di Bahari tidak luput dari banyaknya sumur galian yang menjadi sumber air warga.

Bukan hanya warga Bahari yang kemudian menggunakan sumur tersebut, melainkan warga yang tinggal di bagian atas (Usuku dan sekitarnya).

Sehingga tercipta banyak akses jalan menuju Bahari yang dikenal saat ini dengan sebutan Kabumbu.

Sumur selalu ramai dipadati oleh masyarakat untuk beragam kegiatan seperti mencuci pakaian, mandi, dan mengambil air buat kebutuhan hidup.

Namun, karena merasa kesusahan setiap hari harus pulang pergi ke Bahari, maka masyarakat dari bagian atas kala itu berinisiasi untuk mendirikan rumah di Bahari agar keperluan air bersih semakin mudah diperoleh.

Bangunan Arsitektur Jawa

Rumah Wa Alufia yang sudah berdiri sejak 1968 menggunakan arsitektur Gresik. Sumber: Lekasura

Pada tahun 1968 pembangunan Bahari mulai mengarah ke bangunan beton. Saat itu semua bahan bangunan diperoleh dari tanah Jawa, diangkut menggunakan perahu layar.

Ada berbagai jenis material yang didatangkan seperti semen, bata merah, atap serta perlengkapan bangunan lainnya, bahkan tukang bangunannya pun dari pulau Jawa.

Haji Arabu mengatakan bahwa orang Jawa ini didatangkan oleh para pelayar.

“Ada juga yang datang itu karena menyiarkan agama islam,” ujar Haji Arabu.

Karenanya jangan heran kalau bangunan pemukiman lama di Bahari bergaya arsitektur Jawa, khusunya bangunan dari Gresik, Jawa Timur.

Wa Alufi (64) bercerita ada tetangganya yang ikut berlayar ke pulau Jawa sesampainya di pulau Jawa ia melihat rumah yang modelnya persis rumah orang tuanya di Bahari.

“Wa Maafia, tetangga saya itu, melihat rumah di dekat tempat Tauke-nya di Gresik, terus saat ia tiba di sini, ia bilang kepada saya kalau ada rumah yang mirip dengan rumah orang tua kami,” ujarnya.

Rumah atau bangunan yang dimaksud tersebut terletak di lingkungan bahari barat jalan bawah, tepatnya di ujung jalan bagian barat.

Walau separuh bangunannya telah berubah bentuk, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan masih jelas gaya arsitektur Gresik-nya.  

Bangunan tersebut berlantai dua, pada pilar teras depan terdapat tahun pembangunannya bertuliskan tahun 1968 dicetak permanen menggunakan bahan semen. Pada lantai dua tampak depan berjendelakan kaca.

Pilar rumah yang tertulis tanda tahun pembuatan, yakni 7 Januari 1968. Sumber: Lekasura

Selain bangunan tersebut masih banyak bangunan lainnya yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Setiap bangunan tersebut memiliki ukiran, pernak-pernik dari pecahan kaca yang menghiasi dinding depan, serta ada beberapa bangunan tua terdapat lukisan timbul berbahan dasar dari semen.

Bangunan-bangunan tersebut dilengkapi dengan daun pintu jendela kuno serta lubang angin-angin pada setiap jendela.

Bahari dahulu menjadi kawasan yang ramai. Di sana juga kemudian terbentuk pasar.

Tidak jelas kapan waktu terbentuknya pasar tersebut. Kuat kemungkinan karena ia berada di dekat pelabuhan.

Pasar tersebut banyak dikunjungi warga, bahkan warga dari pulau lain.

Sayangnya sekarang banyak bangunan tersebut sudah tak dihuni. Ada yang sudah meninggal dan tak lagi diurus oleh anaknya.

Banyak dari sang pewaris bangunan sudah tinggal di bagian atas (Usuku atau tempat lainnya). Banyak juga yang merantau dan sudah memutuskan menetap di kota.

Kawasan Bahari kini jadi kelurahan. Namun, warganya mulai pindah dan tak ada lagi orang atau pasangan muda yang mau tinggal di sana.

Salah satu faktornya, di Bahari tak ada lagi lahan kosong dan pusat keramaian telah berpindah ke Usuku.

Semenjak pasar dipindah ke lapangan Usuku, pembangunan warga lebih mengarah ke arah utara atau ke arah puncak.

Lalu, pembangunan pelabuhan baru yang digencarkan, terus membuat Bahari ditinggal pergi. Tak ada lagi yang membangun rumah di pinggir laut. Para penghuni yang tersisa di Bahari kebanyakan adalah orang tua.

Mengenal Lakadea, Penyakit Menahun Tanaman Bawang Merah di Desa Teemoane

0

Lakadea telah menjadi penyakit menahun yang menyerang tanaman bawang merah di Desa Teemoane. Penyakit atau hama ini bahkan sampai merugikan para petani karena gagal panen.

Wakatobi adalah daerah kepulauan yang terkenal karena lautnya. Hampir 97 persen wilayahnya adalah laut. Sementara daratan tersisa hanya 3 persen.

Tak heran, banyak masyarakat Wakatobi berprofesi sebagai nelayan.

Meski demikian, dengan daratan yang sedikit tersebut tak membuat warga Wakatobi mengesampingkan aktivitas bertani.

Desa Te’emoane, Kecamatan Tomia, misalnya salah satu desa yang masyarakatnya selain nelayan juga bertani bawang merah.

Di desa yang sering disebut Bontu-bontu ini bertani bawang sudah dilakukan secara turun temurun sejak jaman dahulu. Bahkan terbilang dengan bertani bawang sangat menyejahterakan para petani.

Desa Teemoane sebagai desa paling berhasil memanen bawang setiap tahunnya di antara semua desa/kelurahan di Pulau Tomia.

Ciri bawang merah dari Desa Teemoane. Ukurannya lebih kecil.. Sumber: Lekasura/Siska

Bawang merah di Desa Teemoane memiliki ciri khas tersendiri. Berikut ciri-cirinya:

  • Ukurannya lebih kecil
  • Warna merahnya lebih mencolok
  • Daunnya lebih pendek
  • Rasanya sedikit lebih pedas

Proses Menanam Bawang

Proses menanam bawang sendiri dimulai dari:

  • Ofu (mencabut rumput)
  • Membakar rumput yang sudah dicabut
  • Mencangkul tanah agar tidak padat dan menjadi gembur
  • Bhelai (awal menanam). Uniknya, proses ini selalu dikaitkan dengan mitos-mitos. Beberapa petani memiliki hari-hari tertentu yang berbeda-beda yang mereka percayai sebagai hari keberuntungan mereka ketika melakukan bhelai.
  • Setelah proses tersebut, petani kemudian menunggu tanaman bawang untuk berkecambah. Waktunya sekitar 3 sampai 7 hari
  • Pemupukan. Pemupukan ini ada du acara, yakni ada yang dihamburkan dan ada juga yang ditaruh langsung di batang bawang.
  • Galu-galu futa (cara mencabut rumput degan meremas tanah). Biasanya setelah pemupukan, di sekitar bawang akan ditumbuhi rumput liar. Galu-galu futa ini dilakukan untuk melindungi bawang dari rumput liar.    
Salah satu petani bawang di Desa Teemoane sedang memeriksa kondisi bawangnya. Sumber: Lekasura/Siska

Setelah 40 sampai 50 hari para petani akan memanen hasil bawang merah mereka. Dahulu proses memanen dilakukan secara bersama atau bergotong royong sesame papra petani.

Para petani akan membawa bekal sebanyak-banyaknya untuk persediaan makan seharian di kebun.

Namun, seiring berjalannya waktu kebiasan-kebiasaan tersebut sudah mulai menghilang. Bahkan sekarang para petani sengaja membayar jasa untuk memanen bawang.

Lakadea

Sebelah kiri adalah bawang yang terkena Lakadea, sedangkan sebelah kanan bawang yang tumbuh normal di Desa Teemoane. Sumber: Lkasura/Siska

Kendati demikian, sama halnya dengan usaha petanian lainnya, harga bawang juga mengalami naik turun.

Menurut Wa Mimu (59), salah satu petani bawang di Desa Teemoane, menjelaskan bawang merah Desa Teemoane mengalami penurunan penjualan.

“Pada tahun 2019 sampai 2020 yang awalnya harga jualnya sekitar Rp 35 sampai Rp 45 ribu bahkan Rp 75 ribu per liternya, sekarang turun menjadi Rp 15 ribu per liter,” ujarnya.

Salah satu penyebabnya adalah adanya daya saing dengan bawang merah daerah lain yang mudah didapat, harga lebih murah, ukuran lebih besar.

Selain itu, penyakit bawang juga menjadi ancaman untuk petani Desa Teemoane. Penyakit yang disebut Lakadea ini sering menyerang bawang petani.

Lakadea sukar diketahui penyebab dan cara mengatasinya.

Bawang yang terkena Lakadea memiliki ciri berikut:

  • Bagian akar yang lembek dan membusuk serta berwarna keputihan.
  • Bentuknya sedikit lonjong dan memanjang dari bentuk biasanya’
  • Bagian ujung atas bawang mengeras
  • Daun tampak lembek dan lesuh
Daun bawang yang tampak lesuh karena terkena Lakadea. Sumber: Lekasura/Siska

Menurut Wa Mimu La Kadea ini sudah menjadi pnyakit bawang Teemoane sejak dahulu kala.

Hal yang sama diakui La Alihuma (52), petani asal Waitii Barat. Ia mengatakan bahwa Lakadea itu sebagai hama di dalam tanah.

“Saya pernah mencabut bawang yang terkena lakadea dan menemukan cacing kecil-kecil,” katanya saat wawancara dengan Rial.

Beberapa pembasmi hama sudah pernah dicoba disemprotkan, namun menurutnya tidak mempan.

“Karena banyak pembasmi hama bantuan itu disiram ke daunnya saja, sementara hamanya ini di dalam tanah,” terangnya.

 Lakadea, lanjut La Alihuma, banyak terjadi di musim hujan. Karenanya salah satu solusi menghindari penyakit ini adalah dengan menanam bawang pada musim panas.

Gagal Panen Akibat Lakadea

Skitar tahun 2015/2016 petani desa di Teemoane mengalami gagal panen akibat Lakadea. Kegagalan tersebut dirasakan oleh seluruh petani di desa.

Karena itu, semangat petani mulai menurun. Kian menurun pada tahun 2021, ketika bawang merah gagal panen lagi.

Lakadea terus menyerang bawang para petani Desa Teemoane. Bahkan tak ada satu suwir pun bawang bisa dijual, semua rusak.

Pada akhirnya, para petani bawang perlahan beralih profesi menjadi petani rumput laut.

Karenanya perlu dicarikan solusi untuk penyakit ini. Sebab hal ini menyangkut kehidupan para petani.

Wa Mimu, narasumber dari Siska. Sumber: Lekasura/Siska

Perempuan Pande Paraso Kenta: Risiko Tercebur Ke Laut, Cuaca Buruk, dan Tak Dilindungi Undang-undang

0

Ada banyak tantangan menjadi perempuan pande paraso kenta. Mulai dari risiko tercebur ke laut, cedera, menghadapi cuaca buruk hingga tak dilindungi undang-undang

Wa Mida (50) adalah salah satu Pande Paraso Kenta atau penjual ikan di Pulau Tomia. Setiap pagi di hari pasar ia memanggul jualannya ke Pelelangan ikan di Pasar Sentral Usuku. 

Pada Minggu (13/11) itu saya menemui Wa Mida di pasar. Tampak pergelangan tangan kirinya sedang bengkak akibat keseleo.

“Ini sudah kedua kalinya terjadi, akibat tidak sengaja jatuh ketika membuat ikan kering,” kata perempuan yang kerap disapa Mamak Yati itu.

Sejak pertama kali pindah dari Kapota, Wangi-wangi, Mamak Yati telah memantapkan untuk menjual ikan.

“Suami saya berdagang baju RB (rombeng), saya jual ikan,” kata perempuan yang juga menjual ikan secara berkeliling (biasanya pakai sepeda motor atau lebih dikenal dengan Jibu-jibu)

Mamak Yati menadah ikan dari nelayan Desa Lamanggau kemudian ia jual di pelelangan pasar sentral Usuku dan sebagian lagi dibuatkan ikan kering (rengka).

Wa Mida tengah menjajakan ikannya di Pasar Sentral Usuku, Tomia. Sumber: Lekasura/nabila

Terkait pembuatan ikan kering ini, Mamak Yati mengambil ikan katamba dari nelayan.

Untuk proses pembuatan ikan katamba kecil tidak membutuhkan waktu lama, hanya dibelah lalu di celup ke dalam air garam dan langsung di jemur.

Sedangkan ikan katamba besar setelah dibelah direndam di dalam larutan garam semalam terlebih dahulu.

Perempuan berkulit sawo ini mengatakan proses penjualan ikan garam ini bervariasi. 

“Kalau ikan katamba besar itu ada langganan dia di kilo. Untuk ikan kering ukuran sedang hingga kecil saya karungkan terus saya jual ke Solo (Flores),” jelasnya.

Mamak Yati cerita dalam setiap kali penjualannya ke Flores, ia membawa adakalanya 10 karung strep. Dalam satu kali jalan ia bisa menghasilkan keuntungan sampai Rp 3 juta.  

“Saya jualan ke Solo itu setiap kali ada jadwal Kapal Sabuk Nusantara ke sana. Penghasilan adakalanya 3 juta sekarung belum dihitung uang sewa kapal. Pernah juga sebelum itu saya kirim ke Baubau tapi dengan hasil sedikit, jadi saya pindah bawa ke Solo saja,” terangnya.

Berkat penjualan ikan itu, Mamak Yati sekarang mampu menguliahkan anaknya.

“Anak laki-lakiku juga sementara kuliah penerbangan di Makassar, bulan 1 ini in syaa Allah sudah selesai,” katanya.

Kesuksesan dalam menjajakan atau berdagang ikan juga dirasakan Wa Ija (45). Perempuan paruh baya itu juga sukses menyekolahkan anak dan bahkan sampai bikin rumah dari hasil menjadi jibu-jibu.

“Kebutuhan sehari-hari, kuliah anak-anak sampai bangun rumah ini yaa susah payah dari hasil penjualan ikan dan jelas pakai modal sendiri. Capek memang, meski ada juga orang yang iri hati, tapi satu-satunya penghasilan kami sudah sejak dulu itu menjual ikan,” ujar wanita yang sudah menjual ikan selama 12 tahun ini.

Wa Ija mendapatkan ikan dari kapal-kapal pelingkar yang melaut. Bahkan suaminya turun langsung sebagai nakhoda di salah satu kapal tersebut.

Wa Ija ketika ditemui di rumahnya di Kelurahan Tongano Barat, Kecamatan Tomia. Sumber: Lekasura/nabila

Ikan yang dijual tergantung banyaknya perolehan dari kapal pelingkar.

“Karena kita dengan jibu-jibu lain itu saling berebut. Kadang sampai pernah ada yang jatuh ke laut apalagi yang baru pertama kali menjual ikan,” pungkasnya sembari tersenyum mengingat hebohnya saat mengambil ikan.

 “Kalau dapat banyak bisa mencapai 3 setengah basket atau setara dengan 7 ember 20 kg. Selain disisihkan untuk dibuat ikan asap asar garam, dijual basah juga di pelelangan pasar sentral Usuku, pasar malam, sisa yang tidak laku disimpan di box es batu untuk dipasarkan besok. Tetapi kalau hanya dapat seember, ikannya langsung dijual basah tidak bikin asar garam lagi,” ceritanya.  

Wa Ija juga memasarkan ikannya dengan berkeliling mengendarai motor bahkan sampai ke desa di perbukitan Pulua Tomia seperti desa Kahyanga

“Alhamdulillah selama menjual ikan selalu habis, kuncinya jangan pelit. Satu, dua ekor bonus untuk pembeli itu obat manis hati mereka kepada kita,” tuturnya.

Tantangan Pande Paraso Kenta

Seorang anak perempuan menjual ikan di Pasar Sentral Usuku, Tomia.Sumber: Lekasura/nabila

Selain cedera keseleo dan tantangan tercebur ke laut, baik Wa Mida maupun Wa Ija serta para perempuan yang mencari penghasilan dengan menjual ikan juga memiliki persoalan yang berkait dengan cuaca buruk.

Di laut Wakatobi terutama bulan 12 akhir, menjelang bulan 1, adalah musim-musim cuaca buruk. Ketika musim ini tiba, gelombang air laut tinggi disertai angin kencang ditambah hujan.

“Kalau cuaca buruk begini, kencang angin dan keras ombak, ikan mahal. Kadang hanya dapat seember.” jelas Wa Ija.

“Jika hanya musim hujan tidak disertai keras ombak, banyak dapat ikan dari pelingkar. Namun, untuk ikan asar garam susah di bakar. Kayu basah ditambah lagi tempat pembakaran juga basah,” tambahnya.

Dirasakan pula oleh Mamak Yati yang membuat ikan kering.

“Cuaca buruk, apalagi musim hujan itu tidak bisa menjemur ikan. Kerugiannya, ikan lama kering sama berulat,” terangnya.

Sayangnya, persoalan yang dihadapi para perempuan jibu-jibu ini jarang dilirik. Padahal mereka selalu  berharap pemerintah sedikit lebih prihatin kepada nasib mereka di musim badai seperti ini.

“Selama ini kami tidak pernah dapat bantuan apa-apa, pakai modal sendiri, tapi setidaknya kalau ada kami juga butuh alat untuk menampung ikan yang kami beli. Seperti saya yang mengasapi, alat-alat pembakar baru sangat dibutuhkan,” harap Wa Ija.

Tak Dilindungi Undang-undang

Kurang perhatian, tepat diberikan kepada ibu-ibu penggerak ekonomi perikanan ini.

Sorotan pemerintah hanya berfokus pada pengadaan alat tangkap nelayan yang selalu merujuk pada nelayan laki-laki.

Sementara pande paraso kenta yang kebanyakan perempuan jarang diperhatikan sebagai entitas penting di sektor perikanan.

Perempuan Pande Paraso Kenta sedang menjajakan ikannya dengan berjalan kaki di Jalan Poros Usuku-Waha, Tomia. Sumber: Lekasura/fadli

Hal ini sesuai dengan apa yang tertera pada Undang-Undang Perlindungan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam yang disahkan 14 April Nomor 7 tahun 2016.

Dalam regulasi itu hanya berisi perlindungan atau pemberdayaan pada Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam, tak ada perempuan nelayan maupun jibu-jibu.

Jikapun perhitungan pemerintah adalah pada setiap kepala keluarga yakni laki-laki, bagaimana dengan nasib jibu-jibu yang telah ditinggal suaminya?

Jelas mereka menanggung beban ganda. Bukan hanya sebagai penjual ikan, tapi ibu yang merangkap peran sebagai ayah.

Tidak mudah memenuhi kebutuhan keluarga di tengah perkembangan ekonomi yang terus melonjak naik di tambah lagi beban psikologis untuk menjaga anak-anak.

Bagaimanapun ibu adalah orang yang seringkali disoroti ketika anak-anak melakukan kesalahan. Lantaran di rumah merekalah yang ditugaskan mendidik.

Kesempatan kian sempit, bahkan sekadar mengurus diri sendiri. Sebab, mereka adakalanya mengutamakan menjual ikan alih-alih urusan rumah.

Peremouan jibu-jibu telah menggerakkan pasar perikanan hingga ke pelosok desa bahkan antar pulau.

Melihat aktivitas Wa Ija dan jibu-jibu lainnya yang penuh kadar resiko sangatlah patut mendapat perhatian. 

Bukankah pemasukan wilayah setempat berpotensi besar dari pemasaran dan pengolahan hasil laut perikanan?

Patutlah sekadar mendapatkan perlindungan sekurangnya jaminan agar pengolahan ikan ini terus berlanjut meski di cuaca buruk sekalipun.

Bukankah baik Kalau lebih beri memberi, kalau kurang tambah menambah.

POPULER

Gambusu Kepulauan Pandai Besi: Upaya Melihat Nusantara Melalui Bunyi

Gambusu Kepulauan Pandai Besi terpilih sebagai dawai dari Sulawesi Tenggara dalam program Rantai Bunyi yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2023