Home Blog Page 2

Memperkenalkan Kembali Tari Sajo Wowine pada Generasi Muda

2

Tari Sajo Wowine nyaris punah. Jufi memperkenalkan tarian ini kembali ke generasi muda. Simak bagaimana upayanya.

Tari Sajo Wowine merupakan tarian tua pulau Tomia yang kini keberadaannya hampir punah. Saat ini yang lihai dalam menarikan tarian ini hanya perempuan berusia lanjut, yakni 70 tahun ke atas.

Tari Sajo Wowine (kadang hanya disebut dengan Sajo) mempunyai keunikannya tersendiri, yaitu menari sambil bersenandung sebuah syair. Syair ini dikenal dengan sebutan Bhanti.  Dalam syairnya, para penari menggunakan bahasa Tomia kuno (bhanti lama).

Selain menggunakan Bhanti Lama dalam syairnya penari Sajo Wowine boleh meyelipkan bhanti yang dikarang sendiri bersama guru. Isi bhanti boleh berupa pujian, kritik, nasehat dan lain sebagainya.

Lewat Bhanti, tari Sajo Wowine menjadi simbol kekuatan perempuan pada zamannya, terutama dalam menyuarakan nilai-nilai kehidupan.

Tahun 1940-an hingga 1960-an menjadi masa kejayaan tari Sajo Wowine. Pada kisaran tahun tersebut banyak Bhakkala (Kelompok) Sajo Wowine ditemukan di setiap kampung.

Wa Ncaa (80) mengatakan zaman dulu  belum ada acara joget, dulu masih Manari Banda dan Sajo Wowine yang menjadi hiburan rakyat.

Sajo ditampilkan pada berbagai acara misalnya pernikahan, sunatan, dan hajatan kampung lainnya.

Sajo Wowine memiliki banyak jenis tergantung Bhanti, beda bhanti maka nada bhanti dan gerakan tarinya juga berbeda begitu pula dengan tabuhan gendangnya.

Menurut H. Djunaedi, salah satu sejarawan Tomia, ada kurang lebih sekitar 20 jenis tari Sajo Wowine, di antaranya Mangu-mangu, Bositti, Maraha, Pujanggano, Turuki, Marahuluhakku, Rampelo, Sanggolonggolo, ana-ana moilu, Mborira dan lain sebagainya.

Menampilkan Kembali Tari Sajo Wowine

Sebagai cara memeperkenalkan lagi Tari Sajo Wowine, Komunitas Lekasura dalam kegiatan Sekolah Pulau berinisiatif mengundang nenek penari Sajo Wowine untuk ditampilkan pada acara pembukaan kegiatan Sekolah Pulau, Selasa (8/11/2022).

Dalam penampilannya, walaupun para penari sudah tidak selihai dahulu ketika mememainkan selendang dan kipasnya, tetapi mereka tetap membuat pemuda dan pemudi yang mengikuti kegiatan Sekolah Pulau terpukau.

Syair Mangu-mangu yang didendangkan seakan membawa penonton pada kehidupan masa lalu.

Tak disangka di antara sekian peserta hanya sebagian kecil yang tahu bahwa selain Sajo Moane (Eja-eja) bahwa ternyata di Tomia ada juga tari Sajo Wowine.

Jufiana (30) salah satu guru sekolah dasar yang mengikuti kegiatan Sekolah Pulau, mengaku baru mengetahui ada tarian Sajo ini di Pulau Tomia dan baru pertama kali menonton.

“Karena Sekolah Pulau ini saya baru tahu kalau ada tarian ini, dan yang saya sukai adalah ternyata penonton boleh masuk menari (Ngifi) dan memberikan uang pada penari,” ungkap Jufi

Senada dengan yang disampaikan oleh Iman, Tim Sekolah Pulau, bahwa penampilan tarian tersebut sesuai dengan tujuan komunitas Lekasura dalam kegiatan Sekolah Palau yaitu untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.

“Kita sengaja mengundang para nenek-nenek itu untuk menari Sajo Wowine, karena kita sudah terlalu sering disuguhkan dengan tari kreasi, sudah saatnya kita menampilkan hal yang berbeda,” jelasnya Iman dalam suatu diskusi santai.

Perempuan Muda Pewaris Tari Sajo Wowine

Jufiana perempuan muda yang juga merupakan guru sekolah dasar ini menyempatkan waktunya untuk mengikuti sekolah pulau. Jufi, begitu ia akrab disapa, memang dikenal juga dengan kemampuan dalam koreografi tarian.

Sebelumnya Jufi sudah sering melatih tari. Setelah melihat penampilan Sajo Wowine oleh para nenek-nenek, Jufi mengaku sangat tertarik untuk ingin lebih mngenal dan melestarikan tarian lokal asli Pulau Tomia tersebut.

Jufi menyukai tarian yang mendidik dan menurut Jufi Tari Sajo Wowine memiliki nilai mendidik karena sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal orang Tomia.

“Saya seorang guru SD 4 Usuku, dan untuk pelajaran SBDP atau seni budaya saya suka bikin koreo Tari dengan memilih dan memperhatikan lirik lagu, saya suka lagu-lagu yang lebih mendidik seperti lagu Tanah Airku atau Wonderland Indonesia biasanya untuk praktek atau untuk kegiatan pentas seni di sekolah dan lomba-lomba. Saya memang senang membuat koreo tari untuk anak-anak. Sekarang untuk tarian lokal yang saya bimbing baru 2 tarian yaitu Tari Topa khas Togo Binongko dan Tari Sajo Wowine ini,” terang Jufi.

Jufi mengaku prihatin terhadap tarian asli Tomia ini dan sempat mendengar cerita dari ayahnya La Ode Jali bahwa ayahnya terakhir melihat tarian ini sekitaran tahun 1965.

Berangkat dari semangat melestarikan Sajo Wowine, Jufi menuju Onemai tepatnya di Lingkungan Gayabaru.

Di sana ia menemui Wa A’isa (70), seorang penari Sajo yang sudah sepuh, untuk mempelajari tarian Sajo Wowine.

Saat bertemu Wa A’isa, Jufi mengaku tersentuh. Ia mendengar perempuan itu mengimbaunya untuk belajar Tari Sajo ini.

Meammo na dumahani te taria miana, fanakua demo ikami ana na dumahani na ane’e tu tumbu, poolimo nikami sisingamo ikomiu (Tidak ada yang tau lagi tarian ini, sepertinya hanya kami yang tau yang masih hidup, kami sudah selesai belajarlah kalian),” ujar Wa A’isa.

Jufi melanjutkan bahwa upaya nyata yang telah dilakukannya dalam pewarisan ini adalah mengajak beberapa siswi SMA Negeri 2 Tomia untuk belajar Sajo Wowine.

Pada proses belajarnya, Jufi terkejut karena menurut pengakuan nenek-nenek penari sajo, dahulu mereka butuh waktu lama untuk belajar, yaitu sekitar 3 bulan.

“Dahulu mereka belajar butuh waktu 3 bulan sementara kami hanya punya waktu 2 minggu untuk ditampilkan dalam kegiatan pameran Sekolah Pulau di Puncak Waru,” jelas perempuan berjilbab itu heran.

Selain durasi waktunya, Jufi mengatakan ada beberapa kesulitan dalam mempelajari tarian ini.

Misalnya bahasa yang ada dalam Bhanti (syair) masih menggunakan bahasa kuno serta nada nyanyiannya yang masih asing bagi generasi muda membuat Jufi dan siswi didikannya cukup kesusahan untuk menirunya.

Meski demikian, menurut Jufi, Tari Sajo Wowine masih bisa dipelajari, sehingga ia optimis tarian ini bisa terwariskan. Apalagi setelah ia melihat rekasi para penari dan warga yang menonton tarian ini.

“Saya rasa tarian ini akan makin mudah untuk dilestarikan karena penari yang belajar bersama saya telah  mnguasai, baik nyanyian maupun gerakannya dan antusias penonton juga sangat men-support dilestarikannya tarian lokal ini,” jelas Jufi

Makna Bhanti Tari Sajo Wowine

Dalam Tari Sajo Wowine jumlah penari harus genap terdiri dari 8 orang atau lebih.

Berikut ini cara mempelajari tari Sajo Wowine. Jufi memilki beberapa tips dalam belajar Tari Sajo Wowine ini,

“Kalau mau belajar, kuasai Bhanti terlebih dulu. Bhantinya dihafal dan nadanya harus sesuai, Setelah menguasai nyanyian maka selanjutnya belajar gerakan tari. Selanjutnya menyatukan 3 unsur dalam Sajo Wowine yaitu nyayian (Bhanti), gerakan (Felle) dan musiknya (Rambi). Dalam menyatukan 3 unsur dilakukan latihan berulang-ulang sampai semua serasi dan mantap,” terang guru yang juga raji membuat tarian kreasi tersebut.

Jenis Sajo Wowine yang dipelajari Jufi adalah jenis Sajo Wowine bhanti Mangu-mangu.

Menurut La Ode Djafar, tokoh masyarakat, Mangu-mangu adalah bahasa kuno Tomia yang berarti Isyarat tentang nilai-nilai kehidupan, 

Berikut ini Bhanti Mangu-mangu Sajo Wowine yang Jufi sarikan dari Wa A’isa :

Leeeee.” (Kata pembuka sebagai tanda bahwa tarian akan dimulai)

Mangu-mangutoraja, Mangu pasolle arabu, Ladhi kunye eye.” (Bhanti pembuka Sajo Wowine untuk banti mangu-mangu) 

“La Ode Pili di wayansemu, kalambe ndeu sapisi na inolono (La Ode pilih yang kau kenang, perempuan baik yang kecil pinggangnya). Maknanya ialah sebuah imbauan kepada laki-laki bahwa laki-laki mulia pilihlah perempuan yang akan kau kenang yaitu perempuan yang tidak menarik perhatian laki-laki dengan kemolekannya.

“Gaferi Naya saleyendano, anti masoi, anti bunga nu pahala” (Mengibaskan selendangnya, harum semerbak, wangi bunga pala). Maknanya, setiap perilakunya menyenangkan orang disekitarnya

“Koni na kene tokoyonimo, Ikita na dingkoninanko” (Orang tertawa kita tertawa, sebenarnya kita yang ditertawakan). Maknanya, yang saling meremehkan dan berbangga diri mereka sama saja

“Ara no koninnakoyo kita, to ballasi tongkoniduka” (Jika kita ditertawakan, kita balas tertawa juga). Maknanya, kita diremehkan membalas dengan berbangga diri

“Te ana mokangkodaomo, dihia buntu di kami” (Sekarang kita rusak, dulu hanya kami). Maknanya, mereka yang berbangga diri dan suka meremehkan semua orang dianggap buruk namun sebenarnya merekalah yang buruk

“Leeeee” (Kata penutup sebagai tanda bahwa tarian telah selesai)

Baris atau lirik Bhanti pertama dan kedua wajib ada dalam Bhanti Mangu-mangu. Itu sebagai ciri khas dari dan juga sebagai cara untuk menetapkan nada dalam Bhanti Mangu-mangu.

Sementara untuk isi Bhanti (setelah lirik satu dan dua) boleh dikarang sendiri atau mengutip dari pepatah lama. Biasanya ini diwariskan dari guru ke murid.

La Ode Djafar menjelaskan bahwa secara keseluruhan makna dari Bhanti Mangu-mangu Wa A’isa tersebut memilki makna pesan moral bahwa gadis muda yang cantik kelak akan tua dan tidak diperdulikan lagi.

Tutorial Tari Sajo Wowine

Jufi menjelaskan berikut gambaran dalam penampilan Sajo Wowine :

  1. Dimulai dengan iringan musik gendang yang mengiringi penari saat memasuki tempat (lapangan/panggung) yang sudah disediakan.
  2. Ketika memasuki lapangan atau panggung penari membentuk 2 barisan melebar menghadap penonton.
Ilustrasi posisi awal tari sajo wowine berbaris ketika memasuki lapangan. Sumber: Rial

3. Setelah berbaris kemudian penari hormat menghadap penonton dengan arahan gendang.

4. Setelah hormat kemudian penari berteriak “Leeeeee” pertanda bahwa mereka sudah siap untuk menari.

5. Setelah teriakan “Leeeee” pande rambi (penabuh gendang) mulai menabuh gendang untuk mengiringi hingga akhir tarian dan penari mulai menari sambil melantunkan Bhanti.

6. Dalam gerakannya hanya ada satu jenis gerakan tari saja yaitu memainkan kipas dan selendang, lalu dengan perlahan mereka bernyanyi langsung membentuk lingkaran atau membentuk lingkaran pada satu lirik yang disepakati. Dalam membentuk lingkaran arah gerakan memutar ke kanan. Jufi memutuskan untuk melakukan putaran dimulai pada Bhanti “Gaferi Naya saleyendano, anti masoi, anti bunga nu pahala”.

“Kalau yang kami tampilkan kemarin, kami sepakat pas di lirik Gaferi barulah kami mulai membentuk lingkaran,” kata Jufi

Ilustrasi posisi kedua tari sajo wowine membentuk lingkaran. Sumber: Rial

7. Jika sudah membentuk lingkaran sempurna maka bagi siapa saja boleh masuk Ngifi (menari bersama penari) dengan syarat memberikan hadiah berupa uang kepada salah satu penari seperti sawer.

8. Terakhir saat selesai satu putaran maka penari sudah sampai ditempatnya semula dengan membentuk barisan memanjang seperti diawal. Jika isi Bhanti telah selesai namun belum sampai ke tempat semula maka bHantinya diulangi lagi hingga penari sampai pada posisi semula. Kembalinya penari ke posisi awal dan teriakan “Leeeeee” menjadi penanda bahwa tarian telah berakhir. Setelah itu penabu gendang kembali mengiringi hormat dan keluarnya penari.

Jufi berharap tari asli Tomia seperti Sajo Wowine ini agar diperhatikan misalnya diberi ruang atau kesempatan untuk ditampilkan pada saat acara besar.

“Harapan saya para pecinta  seni  Tari di Tomia selain belajar tarian modern (kreasi) juga dapat terus melestarikan tarian lokal,” pungkas Jufi.

Jufi (tengah duduk) berfoto bersama siswi didikannya dan para penari Sajo selepas latihan menari. Sumber: Jufi/Lekasura
Jufi (kedua dari kiri) melakukan wawancara ke penari sepuh Sajo Wowine. Sumber: Jufi/Lekasura

Hedongka Project Menyuarakan Isu Sampah Laut Wakatobi pada Pameran Kolaborasi di Bandung

0

Karya-karya dari Hedongka Project yang berasal dari sampah laut Pulau Tomia akan dipamerkan di Bandung.

Pameran Hedongka dengan tema Parabhose akan digelar di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Kota Bandung, pada tanggal 8-29 januari 2023.

Pameran ini terselenggara berkat kolaborasi ciamik dari tiga kolektif dari tiga daerah di Indonesia, yakni Arafura Media Design dari Bandung,  Sepatokimin Initiative dari Bali, dan Hedongka Project melalui Katutura Art & Culture di Pulau Tomia, Wakatobi.

Tentu Pameran ini akan berbeda dari pameran pada umumnya. Kenapa? Karena Pameran ini berupaya mendorong kesadaran publik khususnya warga perkotaan untuk melihat lebih jernih hubungan antara kota dan pulau-pulau hanya dalam sebuah sampah.

Alih-alih menyelenggarakan format Pameran yang statis, Pameran yang mengulik tradisi Hedongka ini mengajak publik berdialog lebih intim mengenai persoalan sampah melalui tontonan digital interaktif.

Pameran ini bermula dari Tugas akhir Ady Setyawan, seorang Ahli Media design yang fokus terhadap bentuk-bentuk kampanye publik menggunakan medium digital-visual atau yang akrab dikenal dengan video mapping interaktif.   

Ady Setyawan meyakini bahwa pendekatan video mapping adalah salah satu cara untuk memengaruhi publik melalui layar-layar raksasa.

Konon, orang yang menatap layar raksasa dalam beberapa menit dengan deru audio yang atmosferik akan mengalami katarsis (penyucian diri) setelahnya. Itulah kenapa dialog intim menjadi salah satu subjek penting dalam Pameran ini.

Tampak venue pameran yang sudah dipasangi poyektor dan alat pameran. Sumber: Hedongka Project

Sebagaimana diketahui, Hedongka adalah tradisi merawat laut dan pesisir dari sampah yang sudah dilakukan orang Pulau Tomia sejak jaman dahulu.

Dari sana, empat tahun belakang, Hedongka Project lahir.

Sebagai sebuah project yang bertumbuh dalam kolektif kampung, Hedongka Project tumbuh sebagai upaya melihat kembali hal-hal baik yang telah dilakukan leluhur warga pulau.

Tak dinyana, hal-hal baik ini yang mempertemukan Hedongka Project dengan banyak kawan baik. Semua energi baik ini kemudian berkelindan dan mewujud kolaborasi.

Setelah membangun komunikasi dan persiapan yang cukup Ady Setyawan dari Arafura Media Design, juga Arya, Gebi dan Wisnu dari Sepatokimin, bersama Tim hedongka Project, akhirnya komitmen membangun jejaring dan kolaborasi.

Satu dari banyak tujuan kolaborasi ini ialah mendorong ruang senyap persoalan sampah di Laut Wakatobi menjadi isu yang setara dengan riuhnya Pariwisata Wakatobi. Maka lahirlah Pameran Parabhose: Oleh-oleh dari Laut Wakatobi

Karya-karya yang ikut serta dalam pameran ini adalah karya-karya yang dibuat oleh kawan-kawan Hedongka Project. Salah satunya Muh Sukriman atau La Juha yang menggunakan aneka sampah temuan di berbagai macam lokasi di laut Pulau Tomia untuk dikreasikan menjadi karya.

Secara visual, karya-karya yang dibuatnya menginterpratasi hewan-hewan laut Pulau Tomia yang terpapar akibat sampah.

Bagi kalian yang kebetulan dan sedang berada di Bandung, silahkan mengunjungi pameran ini. Catat waktu dan tanggalnya, ajak kawan kalian sebanyak mungkin, dan Jadilah bagian dari solusi atas persoalan sampah.

         

Mari Bicara Kesetaraan: Sebuah Refleksi Perempuan Wakatobi Tentang Hari Ibu

0

Artikel ini merupakan refleksi tentang hari ibu dalam perspektif kesetaraan. Saya memberikan pandangan saya sebagai perempuan Wakatobi.

Saya menghabiskan waktu pagi ini sekitar tiga jam di depan rumah. Mencari signal internet, sekaligus mengamati pengendara motor yang lalu Lalang di jalan. Ini hari ibu.

Dan seperti hari-hari besar lainnya, hari ini juga turut diperingati oleh warga di kampungku. Utamanya oleh mereka yang pegawai (meminjam istilah kampung yang merujuk PNS)

Satu dua kendaraan itu, lebih dominan ditumpangi oleh perempuan. Pemandangan ini sebenarnya telah menarik perhatianku sejak hari guru kemarin.

Dalam berbagai lomba euforia hari guru, guru-guru perempuan mendominasi panggung. Dan, jika kita amati lebih jauh lagi, masuk ke instansi-instansi pemerintahan selain sekolah jumlah  perempuan lebih unggul ketimbang laki-laki.

Saya lalu teringat Ketika kolektif perempuan Wakatobi, Wa Toombuti, menggelar diskusi dengan tajuk Perempuan dan Pendidikan tempo hari.

Ditemukan data bahwa jumlah perempuan yang putus sekolah/ tidak bersekolah lagi, lebih rendah ketimbang jumlah laki-laki yang putus sekolah.

Hal ini kemungkinan ada hubungannya dengan kecenderungan sebagian pemuda Wakatobi yang lebih memilih untuk merantau.

Wakatobi mengalami perkembangan yang luar biasa satu dekade terakhir ini. Khusunya, dalam kiprah perempuan di dunia Pendidikan.

Terbukti dengan semakin beragamnya pilihan pekerjaan untuk perempuan. Jadi jika dulu perempuan yang ditinggalkan merantau oleh suaminya mengisi hari-hari dengan bekerja menggarap ladang.

Maka kini, jika suaminya merantau, atau membuka usaha di kampung, ataupun juga berkantor, perempuan pun banyak yang mengisi ruang-ruang perkantoran

Namun sayangnya, ini tidak dibarengi dengan kesadaran akan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Jangan bayangkan bahwa kesetaraan yang saya maksud di sini sebagai misalnya jika laki-laki angkat galon, maka perempuan juga harus angkat galon. Atau jika perempuan melahirkan, maka laki-laki juga demikian.

Sehingga kesetaraan sering disalah-maknai sebagai sesuatu yang menyalahi kodrat dan menentang Tuhan.

Kesetaraan yang saya maksud adalah hal-hal yang melampaui fungsi biologis. Ini adalah sebuah bentuk kerja sama, hubungan kesalingan antara laki-laki dan perempuan: saling memberi kesempatan, saling mengambil peran, saling mendukung dst.

 Sederhananya, ini adalah sebuah sikap untuk tidak terus-terusan terpaku pada peran kuno perempuan dan laki-laki di masyarakat di mana laki-laki sebagai tumpuan pencari nafkah dan perempuan bertanggungjawab di ranah domestik mengurusi keluarga dan rumah.

Mengapa tidak? Kenyataan yang saya uraikan tentang jumlah perempuan Wakatobi yang mengisi pekerjaan di ruang publik, sedikit bisa menjawabnya.

Perempuan sudah mulai mengambil alih beban kebutuhan keluarga yang selama ini hanya ditimpakan kepada laki-laki.

Walaupun soal ini, terkadang masih malu-malu diaukui bahwa perempuan juga ikut mencari nafkah, menemani laki-laki bekerja karena kebutuhan keluarga yang makin hari makin mencekik

Di sisi lain, tak sedikit juga perempuan pekerja itu yang memiliki suami yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Sehingga tumpuan nafkah satu-satunya boleh dikata adalah dari hasil kerja  

Kesetaraan Maupun Ketidaksetaraan Bisa Berlangsung dari Ruang Privat

Seorang teman perempuan saya pernah mencurahkan isi hati perihal ini.

Ia bercerita tentang kelakuan suaminya. Dikala ia pulang seusai kerja di kantor, ia haruslah juga mengurusi kios kecil-kecilan yang ia inisiasi sendiri.

Sesampainya di rumah, ia temukan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil, masih memakai baju yang sama seperti pagi hari sebelum ia berangkat bekerja.

Baju mereka dalam keadaan kotor, begitupun badannya. Ternyata mereka belum mandi sama sekali sejak pagi.

Bapaknya tak sedikitpun tergerak untuk mengurusi ketiga anaknya itu. Si bapak yang kebetulan sedang tidak bekerja, malah sedang asyik-asyiknya merokok.

Dan, tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia menanyakan akan makan apa mereka siang itu. Ternyata, urusan memasak pun, masih harus menunggu hingga sang istri pulang bekerja. Si istri lalu protes.

“Mengapa kau hanya menanyakan makanan sementara ketiga anakmu dalam kondisi seperti ini, dan saya juga kelaparan dan kelelahan setengah mati habis bekerja,” ujar si istri setengah menangis, setengah emosi.

Namun, protesnya tersebut hanya disanggah oleh perempun lain di dalam rumah itu, ibu suaminya

“Kasihan, saya ini biarpun saya jelek, tapi kalau soal memasak dan menyiapkan makanan untuk suami itu, saya lakukan,” kata si ibu.

Mengapa perempuan (mertua) yang justru mejawab demikian? Ini adalah kenyataan lain juga yang harus kita akui keberadaannya di masyarakat.

Perempuan menjadi sosok yang kerap menilai, mengawasi serta memastikan sesama perempuannya menjalani peran-peran hasil konstruksi soial dan budaya.

Jadi secara langsung perempuan juga ikut andil dalam melanggengkan kultur ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Sekali lagi. Mengapa tidak? Saya punya tetangga, persis di sebelah rumah. Seorang ibu bekerja yang suaminya juga bekerja merantau dan membuka usaha di kampung orang.

Namun, ketika masa-masa rehat dan suaminya pulang kampung menetap beberapa bulan. Dia mengambil alih pengasuhan anak mereka yang masih kecil hingga si istri pulang. Jadi istrinya bisa lebih tenang menghadapi pekerjaan di luar rumah.

Barangkali pengalaman dua teman saya ini pernah juga kalian jumpai di sekitar atau di dalam rumah sendiri? Itulah yang dipersoalkan oleh mereka yang menuntut kesetaraan

Kesetaraan dan Hari Ibu

Tangggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Meskipun makna hari ibu itu sendiri sering diobrak-abrik dengan mengkategorikan hari ibu sebagai momen untuk menyelamati perempuan yang punya anak, dan terbatas dalam peran domestik dan segala macam euphoria seperti lomba masak dsb yang seakaan hanya ingin menegaskan kembali bahwa perempuan adalah makhluk domestik.

Namun harus kita ketahui bahwa hari ibu sama sekali bertujuan untuk mendomestikasi peran perempuan.

Bermula dari kongres perempuan Indonesia tanggal 22-23 Desember 1928. Sejumlah 30 organisasi perempuan dari Jawa dan Sumatera berkumpul di Jogjakarta untuk membahas perihal mendesak tentang perempuan.  

Mereka membahas tentang persatuan perempuan Nusantara, peran perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan, peran perempuan dalam pembangunan, perbaikan gizi dan kesehatan ibu dan balita,  pernikahan usia anak, kesempatan yang sama dalam ranah publik, politik, ekonomi, pendidikan dst

Kongres perempuan ketiga kemudian kembali dilangsungkan di Bandung pada 1938. Dengan salah satu agendanya adalah menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu.

Peringatan ini dikukuhkan oleh pemerintah dalam Keppres RI No 316 Tahun 1959. Dengan tujuan untuk memperingati peran perempuan seperti yang telah disebutkan di atas.

Jadi, mengapa tidak sama-sama memperjuangkan kesetaraan ini? laki-laki perempuan saya rasa perlu didukung, diapresiasi.

Kita bisa memulainya dari diri sendiri, dari hubungan yang paling intim. Bersama kekasih. Dari dalam rumah. Dari institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga.

Meretas Penulisan Huruf W dalam Bahasa Orang Pulau di Wakatobi

0

Penggunaan penulisan huruf W dalam bahasa orang pulau di Wakatobi perlu dipertanyakan lebih jauh. Kenapa? SImak ulasan ini.

Sajo Fofine ialah sebuah tarian purba para perempuan dari Wakatobi di masa lampau.

“Sajo” berarti tari, Kata  ini saya temukan ada di punutur bahasa Sulawesi Barat dengan dialek Pattae’. Sementara “Fofine” bermakna perempuan dalam bahasa Wakatobi.

Saya ingin cerita bagaimana bahasa bisa jadi alat kuasa sekaligus alat merebut kembali kuasa.

Saya ingin bicara lebih fokus dalam konteks bahasa Wakatobi untuk kata “Fofine”

Kita mungkin akan sering menjumpai perbedaan penulisan kata “fofine” ini. Kadangkala ia ditulis Fowine, Wofine, ataupun Wowine.

Namun, menulisnya dengan kata “Fofine” adalah pilihan yang mengandung makna krusial bagi orang-orang kampung menurutku.

Penelusuran bahasa ini membawaku pada perjumpaan dengan Pak Asrif, seorang yang seluruh waktunya ia dedikasikan untuk mengabdi di balai bahasa daerah yang satu ke daerah yang lain.

Pria asal Onemai ini juga tergabung dalam Asosiasi Tradisi Lisan, yang lumayan banyak meneliti dan membahas perihal bahasa.

Perbincangan kami sampai pada sebuah kesepakatan. Penulisan bahasa mestilah diretas.

Penyesuaian bunyi yang menggunakan standar bahasa nasional, pada beberapa kata dalam bahasa Wakatobi, membuat banyak kata yang ditulis tak sesuai bunyi asli seperti ketika orang-orang kampung mengucapkannya.

Huruf “f” banyak berganti huruf “W” dan ini tidak konsisten di semua tulisan. Taruhlah pada kata “Fofine” tadi.

Sementara dalam dialek orang-orang pulau Wakatobi, pelafalan “w” tidak akan kita jumpai.

Kita bisa melihat penjelasan tentang ini jika menyimak orang-orang tua yang sedang berbincang di gode-gode, bahkan Wa mestilah berbunyi “Fa”

Ilmu linguistik menerangkan perihal penyesuaian tulisan dan bunyi dalam sebuah bahasa ini.

Bahasa lisan lebih awal munculnya, jauh sebelum ditemukannya lambang atau bahasa tulis. Jadi, apa yang ditulis, mestilah menyesuaikan bunyi bahasa itu. Bukan sebaliknya

Dan ini lalu menuntunku pada sebuah ingatan yang lain, sebuah percakapan dengan bapak saya.

Beliau bercerita bahwa pernah mengangkat soal bahasa ini dalam skripsi nya semasa kuliah. Judul penelitiannya: Pengaruh Dialek Bahasa Daerah Terhadap Pengucapan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.

Dalam risetnya itu, Bapak juga melihat bagaimana huruf “F” ini kerap dengan tak terkendali sering nangkring dalam penggunaan (lisan) bahasa Indonesia orang pulau.  

Anak Muda dan Usaha Mempopulerkan Bhanti-bhanti

0

Artikel ini merupakan ulasan tentang seorang anak muda yang berusaha mengangkat kembali bhanti-bhanti.

Gambus merupakan alat musik petik yang berasal dari Timur Tengah. Gambus biasanya dimainkan bersama alat musik pukul seperti gendang dan diisi dengan nyanyian.

Nyanyian itu oleh masyarakat Tomia (Wakatobi) dahulu disebut Bhanti-bhanti

Bhanti-bhanti merupakan tradisi lisan yang eksis dan menjadi bagian dari hidup masyarakat Wakatobi.

Dinyanyikan dengan spontan, baik perseorangan maupun dengan cara berbalasan mirip pantun.

Nyanyian tradisional ini berisi ungkapan hati, nasihat, adat-istiadat (budaya), dan sebagainya.

Dahulu banyak warga melakukan bhanti. Namun, dari tahunn ke tahun pamor kidung ini kian hilang. Sebab anak muda tak lagi menyanyikannya.

Ada beragam faktor kenapa bhanti jarang atau tak disukai anak muda.

Musiknya yang sederhana, hanya memakai melodi gambus, tak membuatnya terdengar atraktif dan memancing gelora muda. Bhanti cenderung mendayu-dayu.

Selain itu Bahasa yang digunakan dalam bhanti adalah bahasa daerah yang tidak mengglobal atau tidak nge-pop.

Faktor lainnya adalah terlalu menguatnya budaya popular dari luar pulau. Sehingga mempengaruhi selera anak muda.

Namun, seperti halnya tradisi tua, selalu ada anak muda yang kemudian terdorong untuk memahami lebih jauh tradisi kampungnya.

Anti: si Gen-Z Pencinta Bhanti-bhanti

Anti menyanyikan bhanti-nya di acara pertunjukkan Galampa#2 Sekolah Pulau. Sumber: Lekasura/Fadli

Dia bernama Berlian Ramdiani Syah atau biasa disapa Anti. Ia merupakan warga Tomia yang masih berstatus pelajar di SMA 1 Negeri Tomia.

Anti memiliki hobi bernyanyi. Hal itu ia sampaikan pada saat sesi wawancara seleksi peserta Sekolah Pulau.

Setelah mengikuti beberapa hari Sekolah Pulau, ia menemukan banyak hal yang belum ia ketahui.

Salah satunya, hingga membuat ia termotivasi untuk ingin mengetahui banyak hal tentang kampung, ialah bhanti-bhanti.

Remaja ini kemudian tak hanya sebatas mendokumentasikannya bhanti saja, namun ia juga tertarik untuk menciptakan bhanti-bhanti-nya sendiri.

Walaupun perempuan yang besar di Maluku tersebut terbatas pada penguasaan kosa kata bahasa Tomia, ia tetap berusaha.

Ia kemudian berhasil menciptakan satu buah syair bhanti yang ia beri tajuk: Te Anse Appa Ndumeu kene Iko’o (Kenangan Terindah saat Bersamamu).

Bhant-bhanti yang diciptakan oleh Anti berisi tentang ungkapan seorang yang ingin mengulang kembali kenangan indah bersama mantan kekasihnya, namun ia tak bisa karena mantan kekasihnya sudah bersama seseorang yang lain.

Alasan ia memilih bhanti-bhanti untuk diangkat ialah karena ia termotivasi oleh Bapak Tua La Asiru saat melantunkan syair bhanti-bhanti.

Sebagai generasi yang hidup di era sekarang, mendengar bhanti-bhanti membuat ia sangat takjub.

“Kedua, saya sebagai anak yang hidup di jaman modern, tidak terlalu mengenal banyak budaya dan tradisi yang ada di Pulau Tomia, salah satunya bhanti-bhanti ini,” ungkapnya saat pemaparan karya Sekolah Pulau, Sabtu (11/12/22)

Upaya Pemerintah Belum Cukup

Bhanti-bhanti memang sudah mulai pudar, tak banyak generasi muda mengenalnya. Upaya pelestarian tradisi lisan ini memang telah dilakukan.

Salah satunya dengan penetapan La Ode Kamaluddin sebagai maestro kabanti. Tujuannya ialah memacu masyarakat dan pemerintah daerah untuk aktif melestarikan kabanti sebagai salah satu khazanah kebudayaan Nusantara.

Kabhanti diharapkan menjadi kebudayaan lisan yang tetap hidup dan memberi guna bagi masyarakat pendukungnya.

Namun, kebijakan tersebut dinilai belumlah efektif dan berdampak signifikan bagi pelestarian bhanti-bhanti.

Menurut Asrif, dalam ulasannya Nyanyian Sunyi Tradisi Kabanti hal itu dikarenakan pemerintah daerah belum menempatkan kebijakan melestarikan dan mengembangkan kesenian itu sebagai program utama pengembangan tradisi lisan.

Hadirnya Sekolah Pulau

Lekasura telah menyelenggarakan Sekolah Pulau. Dibuka pada 8 November 2022, acara ini berlangsung selama satu bulan penuh.

Sekolah Pulau merupakan projek baru Lekasura. Projek ini mengkombinasikan dua projek utama Lekasura yaitu Ema-ema dan Galampa yang ditambah dengan kelas sebagai ruang warga untuk belajar dan berdiskusi.

Fokus Sekolah Pulau adalah menarasikan, mendokumentasikan, mengangkat kembali, dan mengarsipkan tradisi warga pulau. Lekasura melalui Sekolah Pulau-nya mengangkat beberapa tema untuk dimunculkan ke permukaan. Salah satu di antaranya ialah Musik Gambus Tomia (Wakatobi) dan Bhanti-bhanti.

Bhanti-bhanti karya Anti bisa didengarkan di sini.

POPULER

Gambusu Kepulauan Pandai Besi: Upaya Melihat Nusantara Melalui Bunyi

Gambusu Kepulauan Pandai Besi terpilih sebagai dawai dari Sulawesi Tenggara dalam program Rantai Bunyi yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2023