Home Blog Page 12

Orang Wakatobi Suku Penjelajah Dunia

0

Orang Wakatobi telah lama dikenal sebagai bangsa maritim nusantara. Mereka berlayar hingga jauh ke seberang lautan dan dikenal sebagai suku penjelajah dunia.

Jika kamu bangga hanya karena Kepulauan Wakatobi dikenal dunia hanya soal citra bawah air dan pesona pantainya, berarti rasa banggamu jauh dari kata sempurna. Sebab jauh sebelum tren pariwisata melintasi dunia dan menuju Asia, orang – orang Eropa dan beberapa benua lainya telah takjub menyaksikan dan mengakui kehebatan orang Wakatobi dalam membuat perahu, berguru pada navigasi alam dan mengarungi benua-benua.

Kamu mungkin mengenal Colombus melalui ekspedisinya, kamu pula mungkin mengenal Phinisi dan segala keagungannya, lalu siapa sangka, dibalik itu semua, dinamika dan kehebatan orang-orang Wakatobi punya andil tersendiri dalam sejarah pelayaran nusantara bahkan dunia.

Tulisan ini bermaksud memberi pandangan umum dan beberapa babak singkat soal salingsengakarut nenek moyang kita terhadap pergaulan di komunitas maritim didunia.

Cikal bakal dan Interaksi sosial

Dalam banyak jurnal dan literatur akademik, sejarah kemaritiman orang Wakatobi baik dari segi skill membuat perahu maupun kemampuan navigasi banyak dibangun melalui aspek sosiologis. Dalam pengertian sederhananya, hubungan interaksi salingsengkarut akibat suatu peristiwa atau konteks tertentu. Referensi-referensi itu banyak dibangun melalui beberapa informasi tertulis dan tradisi lisan yang hingga kini masih diyakini oleh masyarakat di beberapa pulau di Wakatobi.  

Salah satu tradisi lisan di Pulau Kaledupa menyebutkan bahwa La Manungkira adalah salah seorang manusia penghuni awal pulau Kaledupa yang menguasai ilmu perikanan dan teknik navigasi. Lain halnya di Pulau Tomia, tradisi lisan atau tula-tula menuturkan bahwa manusia pertama di pulau Tomia adalah Sipanyong dari Galela Maluku utara, ia adalah seorang pedagang yang terdampar di laut Banda yang datang menggunakan jenis rakit atau perahu tertentu hingga sampai ke Tomia.

Hal lain juga yang menguatkan bahwa dalam sumber-sumber tertulis seperti naskah berbahasa Tagalog dan Bagabo Filipina, menyatakan bahwa, beberapa kerajaan kecil di Wakatobi, terutama Binongko dan Tomia didirikan oleh pendatang dari kerajaan Sulu di Filipina Selatan yang memiliki kemahiran berlayar dan pandai membuat perahu.    

Dalam tradisi lisan Culadha Tape-tape orang Wali di Binongko, dikisahkan bahwa, di zaman dahulu telah datang seorang dari Mongol bernama Sumahil Tahim Alam yang dikenal juga dengan La Patua Sakti, ia datang dengan sebuah perahu dan mewariskan tradisi pelayaran dan teknik membuat perahu.

Dari beberapa penggalan fakta, informasi, serta tradisi lisan di atas, dapat kita simpulkan bahwa cikal bakal dan kemampuan berlayar orang Wakatobi sangat dipengaruhi oleh aspek sosioligis pada zamannya, yakni persentuhan natural yang dikemudian hari menghasilkan banyak perubahan sosial dan kultural pada orang Wakatobi.

Pada kisaran awal abad ke 17, Speelmen, seorang juru catat Belanda yang ditugaskan di Wakatobi, mencatat bahwa pada masa itu Pulau Binongko telah terkenal membuat desain perahu yang tidak hanya layak dipakai, akan tetapi telah memiliki sepasang lela atau Meriam tangan sebagai alat untuk berjaga-jaga ketika berlayar mengarungi samudera.

Menurut Ali hadara dalam Budaya Maritim Orang Wakatobi bahwa Pim school dalam bukunya “Militaire Memorie,1919” menjelaskan secara gamblang tentang jumlah perahu yang ada di Kepulauan Wakatobi, ia mencatat setidaknya ada 200 buah perahu pada masa itu dan 100 diantaranya milik orang Binongko.

  • Menembus Nusantara dan Benua

Peranan Pelayaran orang Wakatobi sudah mulai nampak sejak zaman kurun niaga (1450-1680). Kurun Niaga adalah masa di mana aktivitas dan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Asia di sepanjang samudera Hindia, tentu saja sebelum kedatangan orang Barat dan mengalami puncak kejayaannya.

Pada masa tersebut, Orang Wakatobi telah mengambil peran di dalamnya, meski dalam skala kecil, baik dari segi modal, bobot, maupun ukuran perahu. Akan Tetapi kontribusi yang kecil tersebut justru memberi peran yang besar dalam penyebarluasan tradisi, bahasa, dan kesenian.

Bagi Orang Wakatobi, pelayaran ke seluruh pelosok Nusantara adalah sebuah hal yang biasa, sebab sejak dahulu kisaran tahun 1930, sesuai laporan surat kabar Batavia pada tanggal 6 september 1930 bahwa semua orang Wakatobi khususnya Binongko telah menggantungkan hidupnya dari berlayar dan bahkan telah melakukan perjalanan ke Mekkah. Dalam masyarakat Binongko, Mereka yang menggunakan perahu dengan tujuan Haji tersebut diberi gelar dengan sebutan “Haji Hohaa” atau empat orang haji yakni La Samura, La Muru, La Sirau dan La Ali.

Di johor Malaysia, orang Wakatobi juga dikabarkan telah berhasil mendirikan kampung yang mereka namakan kampung sungai Karang. Kampung ini didirikan oleh dua orang bersaudara Ua Senge dan Ua Kamu. Bahkan Tradisi lisan menuturkan bahwa sampai akhir abad ke 19 dan memasuki abad ke 20 orang-orang Wakatobi telah sampai di Austalia Utara (Darwin), Amerika bahkan Jerman. 

Persebaran mereka ke setiap pelosok nusantara bahkan dunia, tentu saja secara otomatis telah membawa kebudayaan Wakatobi berkontribusi dan menambah kemajemukan dinamika masyarakat maritim dunia.

Perahu dan kemampuan Navigasi Alam

  • Perahu

Perahu khas Orang Wakatobi disebut bhangka. Perahu bhangka sendiri umumnya  dibagi menjadi dua berdasarkan karakter buritannya.  Ada yang disebut sebagai Bhangka Panta Bebe atau buritan yang menirukan pantat bebek dan ada pula yang disebut sebagai Bhangka Panta Kadera atau buritan yang menyerupai Kursi. Kedua bentuk arsitektur kapal ini menyesuaikan iklim dan dinamika laut Banda dan Flores yang mengapit Kepulauan Wakatobi.

Namun berdasarkan kesesuain, Bhangka Panta Kadera dirasa kurang efektif untuk digunakan dalam pelayaran yang jauh, apalagi untuk keperluan mobilisasi barang dari Jawa menuju Timur Indonesia. Olehnya, Bhangka Panta Kadera tidak bertahan lama dan para pelaut lebih memilih Bhangka Panta Bebe.

Untuk layarnya pun mengalami perubahan, dari yang semula hanya berbentuk segi empat atau disebut kabangu kemudian berevolusi menjadi segitiga atau yang disebut Nade. Perubahan ini tentu saja selalu disertai dengan prinsip efektifitas.

Dengan berkembangnya penggunaan laut oleh manusia selama berabad-abad, pengetahuan orang Wakatobi pun makin bertambah, khususnya soal perahu. Perkembangan ini banyak mendorong lahirnya bentuk-bentuk perahu yang tidak hanya memerhatikan bentuk estetika dan ukuran, tetapi lebih kepada asas fungsional. Tradisi lisan menuturkan bahwa kehadiran pajala, koli-koli, soppe, jarangka, londe dan lepa-lepa sangat mirip dengan perahu Tambanga milik orang Jawa.

Untuk jenis Lepa-lepa hanya dapat dijumpai di Pulau Tomia, hal ini dapat kita kaitkan dengan perahu Tambanga yang digunakan La Timbarado dan istrinya Sutinya ketika pertama kali datang di Tomia dari Jawa.

Untuk perahu koli-koli atau sampan, dalam tradisi lisan dituturkan bahwa Koli-koli  pertama kali digunakan oleh orang Binongko, terbuat dari satu batang kayu besar yang digali, dan memiliki ciri-ciri khusus memakai layar persegi sebelah menyebelah yang disebut Tandaki.

Untuk perahu Jarangka atau Londe (Perahu bercadik), tradisi lisan menuturkan bahwa Jarangka pertamakali digunakan oleh orang Wangi-wangi, dan diduga berasal dari Ternate.

Khusus Soppe, pertamakali digunakan oleh orang-orang Kaledupa, Soppe sendiri memiliki ciri umum yang sama dengan Pajala dan Koli-koli. Tetapi buritan dan haluannya lurus dan tidak melengkung seperti Pajala dan Koli-koli .

  • Navigasi

Sejak era prasejarah, jauh sebelum manusia menemukan kompas dan GPS, Manusia pada umumnya menggunakan benda-benda langit dan alam, serta membaca perubahan musim sebagai pedomannya. Bagi para pelaut Wakatobi juga demikian.

Bagi orang Wakatobi, navigasi adalah sebuah hal yang mendasar untuk menyebut diri mereka bagi seorang pelayar ataupun pelaut. Tanpa kemampuan navigasi, seseorang dikatakan belum layak untuk terlibat dan memegang peranan penting dalam sebuah pelayaran.

Kemampuan navigasi ini merujuk pada kemampuan membaca rasi bintang, perubahan angin dan pergesaran musim, semua keahlian ini membutuhkan insting yang kuat, kepekaan, skill dan tak lupa nyali yang besar untuk mengarungi lautan bahkan samudera.

Bagi pelaut Wakatobi, navigasi laut secara umum dibagi menjadi empat bagian,  yaitu

1. Pilotase atau  sebuah kondisi yang mengharuskan pelayar Wakatobi memperhitungkan posisi perahu cukup dengan melihat kabut pada siang hari dan berbagai tanda yang ada di darat. 

2. Perhitungan deduksi, teknik ini dilakukan dengan melihat benda-benda angkasa pada siang dan malam hari, ada tiga nama bintang yang menjadi pedoman pelayaran mereka:

(a) Vituo ndea atau bintang timur, yakni sebuah bintang yang muncul menjelang subuh dan selalu berada tepat di posisi timur.

(b) Vituo Anamorunga atau bintang barat, yakni sebuah bintang yang muncul setelah matahari terbenam dan selalu berada tepat di posisi barat.

(c) Vituo Koruo atau bintang banyak, atau juga kerap disebut lima koruo atau bintang lima, adalah pengganti vituo ndea ketika mulai tenggelam, dan digantikan dengan vituo koruo, atau dapat juga digunakan sebagai pasang surut gelombang

3. Kompas atau Pajoma, kompas digunakan bilamana tidak ada penujuk lain,misalnya ketika tengah laut dan matahari tidak nampak, atau pada malam hari, ketika bulan dan bintang tidak nampak karena faktor cuaca.

4. Berpedoman di Laut:  Bagi pelaut Wakatobi, arus dan ombak adalah penanda bahwa sedang terjadi proses pasang surut.

Selain pengetahuan yang bersifat insting dan kemampuan membaca rasi bintang, Para pelaut Wakatobi juga dituntut memiliki pengetahuan tentang nama-nama angin berdasarkan pergerakannya. Adapun nama- nama angin tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Wande Sangia atau angin utara
  2. Wande Salata atau angin selatan
  3. Wande Barasumba atau angin barat daya
  4. Wande Waha atau angin barat
  5. Wande Timu atau angin timur
  6. Wande Baramolanga atau angin barat laut
  7. Wande Wakampopo atau angin timur laut
  8. Wande Beteapariama atau angin tenggara.

Dari gambaran di atas, dapat dikemukakan kesimpulan bahwa, kualitas navigasi orang Wakatobi dalam berlayar adalah syarat mutlak seseorang dapat dianggap mampu dalam mengarungi lautan bahkan samudera.

  • Perahu dan nilai spritual

Perahu merupakan sarana transportasi paling tua di dunia yang pernah dikenal oleh manusia. Hal ini dapat kita jumpai pada banyaknya lukisan prasejarah, pahatan, dan artefak –artefak prasejarah yang lainnya. Perahu pula sejak dahulu tidak hanya berfungsi sebagai penghubung secara fisik, namun telah menjadi media transformasi budaya, ide dan bahkan berisi tentang konsepsi sebuah kepercayaan.

Begitu pula bagi pelaut Wakatobi, perahu tak melulu sebagai alat transportasi pada umumnya, ia memiliki peranan khusus dan interakasi spiritual antara manusia dan perahu. Entitas ini sangat tergambar dalam proses awal membuat perahu.

Bagi orang Wakatobi, perahu mewujud sebagai anak kandung mereka, darah dan daging mereka. Karena itu, ketika sebuah perahu akan mulai dibuat, ada tata cara seremonik yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.

Pertama, sepasang suami istri harus menggendong dua buah kayu induk yang disebut tena, sesudah itu, kedua kayu tersebut disambung dengan teknik saling mengancing atau ompu, proses ini dimaksudkan sebagai tanda proses pembuatan perahu telah dimulai.

Dalam keyakinan orang Wakatobi, pembuatan perahu ibarat sepasang suami istri sedang berhubungan tubuh untuk menghasilkan seorang anak. Waktunya pun tak boleh dilakukan sembarang, waktu terbaik hanya boleh dilakukan pada saat sesudah shalat subuh atau sebelum matahari terbit, dan mereka yang terlibat dalam proses ini harus benar benar dalam keadaan suci bersih.

Saking begitu mendalamnya hubungan antara pemilik dan perahunya, maka ada kepercayaan masyarakat Wakatobi, jika perahu mereka akan mengalami suatu musibah atau kecelekaan, maka perahu tersebut akan mengeluarkan bunyi seperti orang yang sedang menangis.

Sumber Lisan:

Warga Desa Kulati
Warga Desa Bajo Lamanggau
Warga Tongano
Warga Waha

Pustaka Rujukan:

Ali hadara , 1994: Aspek tradisional dalam proses pembuatan perahu layar di kecamatan Tomia , jurnal Unhalu
Ali hadara,1990: Migrasi orang Cia-cia ke Kepulauan Binongko, Jurnal Unhalu
Abd Rahman, 2010: Spirit Bahari orang Buton, Rayhan intermedia, Makassar.

Editor: Ebi

Mengutuk Generasi 90an sebagai Penyebab Hilangnya Segala Jenis Permainan Tradisional di Tomia

0

Generasi 90an mungkin menjadi penyebab hilangnya segala jenis permainan tradisional.

Beberapa waktu lalu saya mendapat cerita dari teman perihal festival mainan tradisonal anak 90an yang diusung oleh salah satu komunitas masyarakat Tomia. Teman saya cerita soal fenomena-fenomena menarik yang terjadi ketika festival berlangsung.

Festival yang diperuntukkan untuk anak-anak dengan kategori umur SD sampai SMA ini sebenarnya disambut dengan meriah. Namun, anak-anak ini ternyata tak banyak mengetahui. Ada anak yang bahkan mendengar nama satu permainan saja tidak pernah.

Padahal untuk kalangan anak 90an, mainan itu tersebut adalah primadona. Ada juga anak yang jangankan dijelaskan aturan mainnya, sampai sudah dicontohkan cara mainannya pun tetap tidak paham dan malah plonga-plongo.

Dari hal-hal itu, banyak anggapan berkembang. Ada yang bilang permainan tradisional anak 90an sudah tidak cocok dengan anak generasi milenial. Artinya, permainan itu sudah tak mampu memenuhi kebutuhan main anak-anak ini. Mereka tentu lebih menyukai bermain di gadget.

Ada juga yang bilang anak-anak ini tak punya sensitifitas sejarah. Berat juga bahasanya. Maksudnya, mereka tak ingin menoleh ke belakang, mereka terlalu nyaman bermain di lingkungan penuh virtual. Hingga menyalahkan anak-anak milenial bahwa mereka terlalu terhanyut dengan arus modernitas.

Secara umum, anggapan-anggapan ini sebenarnya terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Di Jawa misalnya, sudah jarang anak bermain dakon atau layangan di sawah.

“Inilah zaman mereka hidup, penuh perkembangan teknologi. Zamannya begini ya mereka begini,” begitulah anggapan berkembang.

Kedua anggapan itu memang tak keliru. Mereka bisa sangat mempengaruhi kenapa permainan tradisional tak punya tempat di jaman moderen ini.

Namun ada satu alasan yang kemudian sering terlewatkan. Alpanya sistem regenerasi permainan.

Akhir 90an sampai sekira tahun 2003, pemainan tradisional yang berkembang di desa saya di Lamanggau begitu bejibun. Mau permainan macam ase, edda, katera-tera, sendi, metammeta, sikki-sikki, pato-patolla, kafulalu, hekuti, dan segala jenis permainan anak pada zaman itu ada. Peraturan permainan juga tidak perlu lagi diajarkan. Ketika ingin bermain, sediakan alat dan bahannya, sudah. Anak-anak yang ikut tinggal menyesuaikan saja.

Pada zaman itu kami tidak merasa kebingungan dengannya karena segala jenis permainan itu sudah ada yang memperkenalkan sebelumnya. Misalnya satu anak belum boleh ikut satu jenis permainan karena dianggap masih terlalu belia, ia akan dijadikan seorang pengamat yang baik sebelum ia bisa jadi pemain. Keadaan ini menjadikan generasi 90an tahun dan mahir dalam permainan yang mereka gunakan. Ini karena keberadaan generasi sebelumnya sebagai pembimbing dalam permainan tidak pernah hilang.

Namun setelah zaman berganti dan para pemilik pengetahuan permainan tradisional itu lebih suka merantau, entah untuk bersekolah atau mencari pekerjaan di tempat lain, maka disitulah titik regenerasi itu terputus. Perkenalan permainan tradisional dengan anak milenial menjadi tidak seintens perkenalan anak 90an.

Ketika anak 90an bersama generasi sebelumnya begitu akrab bahkan sampai tiap hari serasa diajari satu permainan baru, dan besoknya, dan besoknya lagi, namun tidak dengan generasi milenial yang hanya menerima permainan itu sekali-sekali dan itu pun sudah bentuknya festival, acara-acara formal yang membosankan.

Maka jika boleh menyalahkan atas siapa yang bertanggungjawab, tentang masalah permainan tradisional yang sudah akan punah, saya memilih mengutuk generasi saya, generasi 90’. Kami, generasi 90an ini punya pengetahuan yang memadai untuk mewariskannya kepada generasi milenial. Sayangnya, kami memilih memendam itu semua dan mengejar ego kami untuk merantau. Kami meninggalkan tanggung jawab tradisi kepada generasi setelah kami. Maafkan kami kakak-kakakmu ini, la ade, wa ade mai.

Editor: Ebi

POPULER

Gambusu Kepulauan Pandai Besi: Upaya Melihat Nusantara Melalui Bunyi

Gambusu Kepulauan Pandai Besi terpilih sebagai dawai dari Sulawesi Tenggara dalam program Rantai Bunyi yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2023