kolektif perempuan tomia bicara iklim
Wa To'ombuti merupakan ruang kolektif bagi perempuan Tomia untuk bicara dan mengkaji persoalan perempuan termasuk perihal krisis iklim

Wa To’ombuti merupakan ruang kolektif bagi perempuan Tomia untuk bicara dan mengkaji persoalan perempuan termasuk perihal krisis iklim

Konstruksi gender di masyarakat acap kali menempatkan perempuan hanya pada peran domestik. Inilah yang pada akhirnya memicu absennya kehadiran perempuan dalam ruang publik. Olehnya, para perempuan di pulau Tomia menginisiasi wadah untuk mengeluarkan pendapat, sebuah kolektif perempuan yang diberi nama Wa To’ombuti.

Wa To’ombuti berusaha menempatkan perempuan pada posisi ruang tengah, yang memiliki makna filosofi: perempuan tidak melulu harus tertinggal di belakang namun juga bukan berarti ingin selangkah mengungguli.

Melalui wadah Wa To’ombuti ini kemudian para perempuan yang datang dari berbagai macam latar belakang menggelar sebuah webinar dengan tema Krisis Iklim dan tajuk “Tentang Kita dan Krisis Iklim” pada sabtu, 31 juli. Diskusi ini diisi oleh dua pembicara dari latar belakang berbeda namun memiliki kesamaan aktivitas yang konsen pada isu lingkungan.

Tema krisis iklim diangkat tidak tanpa alasan. Mengingat perempuan merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terdampak krisis iklim. Di pulau Tomia sendiri, kita tak bisa menutup mata bahwa ada banyak perempuan yang tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah saja namun juga ikut keluar rumah bersama suami pencari nafkah, bahkan sebagiannya menjadi tumpuan hidup keluarga sebagai pencari nafkah tunggal.

Dalam bincang iklim ini, Rini, pembicara I, mengemukakan bahwa krisis iklim bisa memicu banyak krisis lainnya diantaranya; krisis pangan dan air, krisis lingkungan, krisis kesehatan, krisis ekonomi dan keamanan negara. Krisis-krisis yang disebutkan ini jelas sangat erat hubungannya dengan perempuan. Banyak riset, termasuk dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bahwa jumlah perempuan yang menjadi korban bencana iklim akibat ulah manusia lebih tinggi.

Sejak kecil hingga perempuan beranjak dewasa, konstruksi gender memainkan perannya. Mulai dari pola asuh yang menyebabkan perempuan dianggap tidak pantas belajar hal-hal dasar yang seharusnya dikuasai oleh setiap orang demi menyintas, seperti berenang, memanah, memanjat, mengendarai, dan lain sebagainya. Hal ini ditambah pula persoalan keharusan memakai jenis pakaian tertentu yang berimbas pada kecenderungan membatasi gerak perempuan saat beraktivitas, hingga menyulitkan perempuan saat ingin menyelamatkan diri.

Belum lagi, stigma yang dilekatkan padanya, bahwa perempuan tidak pantas berada di luar rumah dan berkerumun dengan para pria, membuat mereka cenderung lebih memilih untuk tetap berada di rumah saat terjadi bencana iklim.

Bahkan ketika perempuan merawat keluarga. Kerentanan perempuan menjadi korban bencana iklim jadi berlipat. Taruhlah jika di daerah kita terjadi krisis air, maka ina-ina (mama atau nenek) di rumah yang paling terdampak. Mereka  membutuhkan air lebih banyak daripada pria. Selain untuk aktivitas pekerjaan rumah, secara reproduksi juga perempuan lebih banyak membutuhkan air untuk membersihkan tubuh saat menstruasi maupun saat melahirkan.

Tidak hanya sampai di situ, para perempuan pencari nafkah juga mengalami kerentanan ketika berada di luar rumah. Mereka kerap mendapatkan perlakuan tak pantas dari sekitarnya, mulai dari pelecehan secara verbal, seperti catcalling, sampai pada tahap fisik seperti colekan bahkan perkosaan. Misalkan para perempuan jibu-jibu yang harus berhadapan dengan para pelingkar yang terdiri dari para pria itu, mereka acapkali mendapatkan godaan yang tentu membuat perempuan tidak nyaman.

Firman, pemateri II, mengimbuhkan bahwa krisis iklim bukan hanya menyoal satu kejadian saja. Namun lebih luas, krisis iklim merupakan sekumpulan masalah yang disebabkan oleh aktivitas manusia modern yang hampir seluruhnya memicu percepatan krisis iklim. Karena ini merupakan akumulasi sebab dari prilaku manusia, maka ia hanya bisa dilawan juga dengan aksi.

Firman menjelaskan bahwa aksi ini bisa kita mulai dari diri sendiri, atau bersama kelompok maupun komunitas masyarakat dengan mengangkat narasi-narasi lokal agar mudah diterima dan dipahami bahkan oleh masyarakat awam sekalipun

Menyikapi hal itu, Wa To’ombuti bersama RBT (Ruang Baca Tomia) berkomitmen untuk menginisiasi project lapak gratis. Sebuah gerakan memperpanjang usia barang dengan cara membagikannya kepada siapa saja yang mungkin memerlukannya.

Selain itu, gerakan ini juga merupakan upaya untuk meredam hasrat konsumsi berlebihan. Kedepannya nanti, project ini akan didesain berkelanjutan agar memudahkan orang-orang, apalagi korban bencana, untuk mengakses berbagai keperluannya yang mungkin ada di etalase lapak gratis. Oh iya, kalian bisa mengakses akun sosial media sekaligus etalase lapak gratis di IG @layak_pakai21.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here