Kasoami: Dada Ibu di Meja Makan : Bagi seorang anak yang sedang menyusu sepertiku, dada ibu adalah tempat paling nyaman di seluruh dunia. Di sana, aku biasa meringkuk, sambil direngkuh. Kadang-kadang kepalaku diusap lembut, sambil tangannya sibuk bergerak ke udara, menepis apa saja yang hendak mengusikku. Aku lalu tertidur di dada ibu.

Menjelang umur tiga tahun, barulah aku dilatih berhenti menyusu. Sangat terlambat, ibu belum tega melakukannya ketika usiaku 2 tahun. Aku benar-benar berhenti menyusu pada usia tiga tahun.

Seluruh cara dikerahkan untuk membuatku lupa pada dada ibu. Dari mulai mengajakku bermain lebih lama dari biasanya, hingga adegan petak umpet lainnya. Seberapapun usahaku untuk merengek dan memohon, ibu akan menolaknya. Kadangkala, ibu pura-pura izin ke toilet dan tak kembali dalam waktu lama, hingga aku tak kuasa menahan kantuk lalu tertidur, lupa menyusu.

Aku rindu pada dada ibu. Sering aku tertidur sambil terus membayangkannya hingga terbawa mimpi, mengigau sambil tangan bergerak-gerak meraih sesuatu di sekitar. Pernah beberapa kali tanganku menemukan sudut ujung bantal, kupelintir, seperti memelintir puting sebelah buah dada ibu ketika menyusu.

Sekali waktu, ketika semua orang sudah terlelap, aku beringsut perlahan ke badan ibu, lalu nekat menggeledah dadanya dan menempelkan mulutku pada putingnya. Tapi segera kulepeh seketika itu juga, rasanya pahit, entah sejak kapan, akupun tak tau.

Sejak malam itu, aku jadi takut mengulanginya. Aku berhenti mencari-cari puting di dada ibu. Meskipun rindu dan masih terbawa-bawa hingga ke mimpi.

***

Suatu pagi aku ke dapur. Menuju meja makan hendak mengambil air. Mataku tertumbuk pada seonggok benda. Dalam hatiku, apakah gerangan yang mirip dada ibuku yang disembunyikan di meja makan itu? Aku mendekati benda itu. Menyentuhnya, meraba-raba seluruh permukaan kulitnya, kasar, tidak seperti buah dada ibu tempatku menyusu yang halus. Kudekatkan mulut pada bagian ujungnya yang kuduga puting, kuhisap, namun tak mengeluarkan air. Ibu memergokiku

“Wa Komba, Itu dimakan nak, dikunyah, bukan dihisap! Ragu-ragu, kucubit bagian tubuhnya sedikit. Kumasukkan ke dalam mulut. Di dalam mulut, hal yang pertama kulakukan adalah mengunyah, terus mengunyah, lalu kutelan.

“Ya Tuhan, aku pingin nambah!”
Aku kemudian keranjingan mencari benda yang mirip dada ibu itu di meja makan, setiap hari

***

Beranjak enam tahun, ibu mulai sering mengajakku ke kebun. Membantunya menenteng keranjang berisi linggis dan parang atau memegangi karung berisi sampah. Di sana, kusaksikan puluhan bahkan lebih pohon ubi kayu berjejer. Sampah yang kami bawa ke kebun dituang ke bawah pohon-pohon itu.

Ibu akan mulai menyiangi rumput liar di sekitarnya, mencabuti pohon ubi kayu yang sudah siap panen. Aktivitas itu ia lakukan sampai matahari condong ke barat.

Tidak jauh dari sana, saya tertegun memerhatikan kegiatan ibu. Pohon-pohon dengan batang bergerigi itu diangkat, akar-akar gemuknya menyembul dari dasar tanah seperti harta karun. Usai diangjat, batang-batang ubi itu dipotong menjadi beberapa bagian, yang lalu potongan-potongan itu dibenamkan ke dalam tanah kembali. Sekilas terlihat mudah.

“Ayo, pulang, malam ini kita bikin gepe,” ucap ibu. Aku mengangguk lantas mengekor di belakang ibu

***

Ibu menggerakkan tangannya maju mundur di atas parutan. Setelah hampir sejam ia terus melakukan itu, akhirnya ubi yang hendak diparut habis juga. Dengan cekatan, tangannya meraih karung beras ukuran 50 kg yang sudah dibelah salah satu sisinya , ukurannya jauh lebih lapang dari sebelumnya. Ubi yang telah diparut dimasukkan ke dalam karung tersebut. Lalu dibungkus dan diikat menggunakan tali membentuk bulatan. Segera Ibu membawanya ke belakang rumah, tempat alat gepe diletakkan.
Di sana, nampak sebuah penjepit yang terbuat dari dua papan kayu, diselipkan pada sebuah kayu yang berfungsi sebagai pengungkil di salah satu ujungnya, dengan bercak-bercak putih yang berleleran di sekitarnya. Itu sisa-sisa air perasan ubi.

Ibu meletakkan ubi parut yang telah terbungkus rapi di antara kedua papan itu, di atasnya diletakan pemberat berupa batu, sontak air ubi terperas, jatuh menetes, deras. Alat pemeras itulah nanti yang akan membuat ubi parut cepat kering. Hingga jadilah gepe yang siap diolah.

“besok, kita makan kasoami,” ibu menarik nafas lega.
Di kepalaku kata “kasoami” terus berseliweran serupa lalat-lalat kelaparan.

***

Di atas nyiru, ibu meletakkan gepe. Dia membelahnya menggunakan tangan, mengambil secukupnya, lalu menyimpan sisanya. Gepe dihancurkan dengan cara diremas, kemudian di saring menggunakan nyiru berlobang banyak yang biasa disebut padingi-dingia. Terakhir, gepe akan diangin-anginkan beberapa saat. Kata ibu, biar rasa asamnya hilang
Ibu nampak sibuk menyiapkan api. Dari atas kursi makan aku mengawasi gerak-geriknya. Tangannya memperbaiki posisi kayu bakar. Sambil sesekali menyeka peluh yang berleleran di sudut dahinya. Tidak lama, belanga berisi air diletakkan di atas tungku. Ketika air dalam belanga sudah mendidih, ibu buru-buru memasukkan gepe atau kaopi ke dalam anyaman daun kelapa berbentuk runjung, lalu diletakkannya di atas belanga berisi air mendidih dan ditutup, kemudian dimasak sekitar 45 menit.

Kata ibu, untuk tahu kalau makanan ubi itu sudah matang, maka permukaannya tak akan amblas ketika ditusuk secara perlahan. Ibu menusuk permukaan makanan itu dengan ujung telunjuknya untuk memastikan. Ketika disadarinya telah matang, Ia segera mengangkat makanan itu lalu meletakkannya di meja makan.

Di hadapanku, makanan kerucut itu mengepul menggoda. Hal pertama yang kulakukan ketika itu adalah memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam wanginya yang meruap memenuhi seisi ruangan dapur. Wajahku terasa hangat diterpa hawa-hawa kepulan. Ada perasaan bahagia yang menyusup dalam setiap helaan napasku yang diikuti wangi ubi kukus. Dan anehnya, aku terkenang pada dada ibu, tempat aku menyusu, dahulu.

Sekarang aku paham, pada dada ibu dan makanan yang kemudian kukenal sebagai Kasoami itu, ada kesamaan. Kerelaan untuk memberi demi kehidupan. Kasoami, wajahnya serupa dada ibu kandung. Sederhana, berbentuk runjung dengan permukaan pejal, setiap kali melihatnya, setiap itu pula aku akan terkenang pada dada ibu.

Kasoami: Dada Ibu di Meja Makan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here