Hedongka ialah siasat orang pulau dalam menjalankan hidup di tengah musim angin kencang dan cuaca buruk

Musim barat akhirnya bertandan. Pulau-pulau yang mengapung di Laut Banda dan laut Flores berayun. Muson barat tidak hanya mengirim angin, namun juga sesekali hujan deras dan gemuruh.

Sementara di timur Pulau Tomia, penampakan Pulau Binongko jauh lebih gelap, tidak nampak siluet seperti biasanya. Laut memutih, gelombang dapat mencapai empat hingga lima meter.

Laut Banda dan Laut Flores pekan ini sedang digulung gelombang, jauh lebih riuh dari sebelumnya. Pohon-pohon yang berbanjar di pesisir seketika rubuh, fasilitas umum seperti dermaga juga mengalami kerusakan parah.

Sementara di arah laut, para nelayan dibuat bergegas mengangkat sauh lalu menuju ke tepian. Mereka harus mendarat, memilih memunggungi laut untuk beberapa pekan.

Pemandangan di ujung barat Pulau Tomia juga demikian. Pantai-pantai yang indah kala musim timur, seketika redup, rusak, dirangsek oleh gelombang yang menggulung aneka sampah ke pesisir.

Pantai kala musim barat tak ubahnya TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sesuatu yang tak mungkin menjadi konten di laman media sosial perihal pariwisata Wakatobi.

Ironisnya, sampah-sampah itu dominan berasal dari luar Wakatobi, baik pulau maupun beberapa negara lain yang posisinya cukup dekat dengan perairan kepulauan Wakatobi.

Hal itu dibuktikan dengan temuan sampah plastik dengan merek huruf ejaan Vietnam, Thailand dan Malaysia.

Sampah-sampah ini setiap musim jumlahnya konsisten, beberapa warga mencoba menghitugnya, meskipun tidak menggunakan metode presisi sebagai alat ukurnya.

Bagi orang-orang Pulau di Wakatobi, musim bukanlah hukuman, ia adalah siklus layaknya kehidupan manusia. Tugas kita bukanlah menaklukannya, namun menyiasatinya.

Orang di Pulau Tomia paham betul akan hal ini. Itulah kenapa saat ombak-ombak ini mendaratkan sampah, warga justru menyebutnya dengan ungkapan anekdot “te alaa nu rajaki” atau waktunya menjemput rezeki.

Sampah-sampah di pesisir ini tentu akan mengganggu mata turis, tapi tidak bagi warga Pulau Tomia. Sampah-sampah ini justru dirayakan ibarat sedang pesta perburuan sampah.

Pada musim-musim barat sesudah badai, orang-orang di pulau akan berbondong-bondong menuju pantai. Dari anak-anak hingga yang tua.

Anak-anak akan saling mengajak untuk berburu aneka mainan, mereka yang berumur dewasa, akan berburu aneka sampah masih layak pakai untuk kebutuhan rumah tangga.

Sementara bagi para nelayan, tali-tali, aneka bentuk pelampung jaring, papan serta kayu yang hanyut, adalah buruan utamanya. Ini adalah tradisi orang pulau sejak dulu. Mereka menyebut ini sebagai Hedongka.       

Juha (Muh Sukriman) sedang melakukan hedongka. Sumber: Iman/Lekasura

Saya adalah orang pulau. Sebagai anak yang dibesarkan zaman Ketika internet telah merangsek masuk ke pedalaman, saya tentu memanfaatkan hedongka sebagai sarana seni, sesuatu yang tentu asing bagi bagi orang pulau masa itu.

Karena seni juga akhirnya saya bertemu dengan beberapa kawan baik. Semua menyenangi hedongka. Pertemuan itu membuahkan komitmen untuk membuat kolektif kecil bernama Katutura plus membuat kegiatan rutin bernama hedongka project.

Sekarang sedang musim barat. Sejak Desember lalu musim hedongka telah tiba. Melalui tulisan ini saya mengajak kalian untuk ramai-ramai kita hedongka.

Jika hendak berniat membuat karya, saya pastikan akan ada begitu banyak material unik-unik yang akan kamu peroleh.

Dari segi visual, inspirasi karya saya selalu menyoroti hewan-hewan laut endemik Wakatobi. Umumnya yang terpapar akibat sampah plastik laut. Semisal karya bertema Ikan dan Burung.

Melalui dua karakter ini saya ingin menyampaikan bahaya plastik ketika dimakan oleh ikan, lalu fatalnya dimakan kembali oleh kita. Semuanya saling terhubung, antara manusia, hewan dan juga laut.

Salah satu karya Juha yang sudah dipamerkan. Sumber: Juha/Lekasura

Saya menggunakan temuan seperti penutup botol, limbah suntik , garpu, sendok, botol injeksi, pena, juga sikat gigi sebagai elemen pengirim pesan, benda-benda itu ada di kehidupan manusia sehari-hari.

Temuan -temuan itu lalu saya rangkai, menggunakan triplek juga kaca sebagai wadah. Untuk perekatnya saya menggunakan lem tembak, dan sebagai persiapan jika sewaktu-waktu ada pameran, saya meletakkan karya itu pada sebuah figura berukuran 85 x 56 cm.

Terakhir, saya ingin membagi kabar baik, sepekan ini, nyaris seluruh karya yang saya buat rentang tahun 2018- 2022 sedang ikut serta pada sebuah pameran.

Pameran kolaborasi tepatnya. Kolaboratornya berasal dari Bandung dan Bali. Arafura media design dan Sepatokimin inititive nama kolektifnya.  Pameran ini berlangsung di Kota Bandung, rencananya berakhir tanggal 29, akhir bulan ini.

Pameran ini mengambil tema Parabhose, atau dalam Bahasa Tomia berarti Oleh-oleh. Sebuah istilah yang merujuk pada aktivitas berlayar, berdagang dan konsep buah tangan ala para awak perahu Wakatobi.

Pameran ini mengusung jargon oleh-oleh dari bawah laut Wakatobi. Harapannya, bisa memberikan sudut pandang lain terlebih kepada Pemerintah Wakatobi mengenai pemanfaatan sampah laut aneka medium seni dan produk ekonomi kreatif lainnya.

Saya percaya, tidak ada hal-hal besar yang tidak dimulai dari hal-hal kecil. Mari hedongka, mari jaga Bumi.     

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here