Hedongka bukan sekedar memungut barang dari tepi pantai atau membersihkan sampah plastik, tapi hedongka adalah wujud rasa syukur dan simbol kreativitas

Kreativitas bukanlah sesuatu yang baru bagi orang Wakatobi, khusunya orang Tomia. Tetapi ia sudah ada sejak dulu, diwariskan turun-temurun bahkan jauh sebelum orang Tomia mengonsumsi media. Di antara kita pasti pernah menonton Televisi atau di media sosial bagaimana orang kota mengubah sampah plastik menjadi tas, limbah pabrik menjadi kerajinan dan lain sebagainya.

Tahukah kamu bahwa orang Tomia sejak dulu telah mengenal keterampilan macam itu, yakni dengan memanfaatkan ‘sampah’ menjadi benda berguna seperti yang hilir mudik di beranda hp-mu saat ini. Orang-orang Tomia mengenalnya dengan Hedongka.

Hedongka dalam bahasa Tomia merujuk pada suatu aktivitas mengumpulkan, memanfaatkan benda-benda yang terbawa, terdampar oleh gelombang atau arus ke pesisir.

Namun, ternyata Hedongka bukan hanya dilakukan Orang Tomia, tapi hampir di seluruh masyarakat di Wakatobi. Jadi aktivias ini bisa dibilang merupakan tradisi milik masyarakat pesisir di seluruh kepualuan Wakatobi.

Saya berbincang dengan La Asiru, tetua yang bermukim di Kulati, Pulau Tomia, perihal bagaimana hedongka menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Tomia.

Hedongka sebagai Perayaan dan Wujud Rasa Syukur

“Dulu sampah laut tidak sebanyak sekarang, sehingga ketika musim angin kencang, disambut dengan rasa gembira oleh masyarakat karena akan ada benda-benda yang terdampar,” jelas La Asiru

Benda-benda itu seperti botol kaca, kayu, sendal, tali dan lain sebagainya. La Asiru mengisahkan, dulu ketika usianya masih muda sekira tahun 60-an, sangat jarang melihat sampah plastik, “yang ada plastik pelampung ikan saja,” katanya

Angin kencang menjadi tanda akan datangnya benda-benda itu. Dulu orang tidak berpikir bahwa itu adalah sampah dari pulau seberang, orang-orang hanya berpikir mereka akan Hedongka, berjumpa dengan benda-benda yang unik dan bisa di manfaatkan untuk keperluan mereka. Tentunya, dengan rasa gembira, orang beramai-ramai menelusuri garis pantai di tepi laut.

Benda-benda di pinggir pantai itu nyaris semua dipungut. Ada istilah di Hedongka yang bilang “To tambu’e mo ala’a” (Kita angkut saja ke darat) ketika ada yang menemukan benda dipinggir laut agar tidak hanyut lagi.

Dijelaskan oleh La Asiru “kalau kita melihat atau menemukan benda yang terdampar dipinggir pantai, kita angkat ke darat. Walaupun kita tidak butuh atau tidak ada ide tentang pemanfaatan benda itu. Mungkin suatu hari ada orang lain yang butuh atau mempunyai ide pemanfaatan benda tersebut. Siapa pun yang butuh, dipersilahkan mengambilnya”

Kebiasaan itu sudah sejak dari dulu tertanam. Hedongka telah ada sejak dulu, La Asiru yang lahir sebelum zaman Jepang sudah melakukan Hedongka sedari kecil. Bahkan kata La Asiru kebiasaan Hedongka tidak hanya saat berada di pulau Tomia saja, tetapi para pelaut yang berlayar ke daerah lain seperti Jawa, Singapura  juga melakukan Hedongka. Hasil Hedongka dari daerah lain biasanya dijadikan parabose (Oleh-oleh) untuk orang-orang di kampung.

Menurut La Asiru Hedongka sebagai wujud syukur kepada Allah atas hadiah yang dikirimkan lewat arus dan gelombang, sehingga uang tidak perlu dikeluarkan karena alam telah memberi. Dengan Hedongka secara tidak langsung masyarakat telah menjaga alam, dengan menggunakan kayu Hedongka, tidak perlu lagi harus menebang pohon.

Hedongka Sebagai Kreativitas

Barang-barang hasil Hedongka menjadi kebutuhan sehari-hari. Botol kaca atau bola pelampung jaring dilubangi sebagai tempat minyak atau air. Kayu-kayu hedongka dibuat menjadi lesung, sampan, dayung, dan berbagai perkakas rumah tangga. Sandal hasil Hedongka walau beda warna tetap dimanfaatkan,  misalnya untuk aktivitas berkebun.

Ayah saya H. Yamin (69) telah Hedongka sejak kecil sampai sekarang, mengatakan orang Tomia zaman dulu hidup berkecukupan. “Dulu banyak benda Hedongka yang berharga bagi orang Tomia karena kita tidak tahu mau beli dimana sandal, botol, tali dan lain-lain. Belum ada toko seperti sekarang,” ungkapnya

Sekarang jaman sudah berubah. Orang-orang Tomia mulai memenuhi kebutuhannya dengan membeli barang-barang baru dari toko-toko yang sudah banyak bertebaran di kampung. Selain itu karena akses sudah mudah, orang-orang Tomia juga sudah banyak yang berbelanja online.

Barang-barang di pesisir pantai kemudian menumpuk menjadi sampah, ia bukan lagi barang yang berguna. Meski beberapa orang tua masih melakukan Hedongka, namun itu tidak seintens dulu dan jumlah orang yang melakukannya bisa dihitung dengan jari.

Lalu pada 2018 inisiatif kemudian lahir dari beberapa anak muda yang tergabung dalam komunitas Katutura. anak-anak muda ini tergerak menjadikan Hedongka sebagai gerakan konservasi dalam membersihkan lingkungan.

Hedongka dijadikan semangat menjaga alam khas Orang Tomia. Dalam proyek bernama Hedongka Project, anak-anak muda komunitas melakukan aktivitas Hedongka, menyisir pantai, memungut sampah-sampah plastik.

Tak berhenti disitu, mereka juga menuruti prinsip Hedongka soal memanfaatkan barang-barang hasil pungutan itu, namun tidak dengan membuatnya jadi barang untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan dijadikan sebagai kerajinan dan karya seni.

Beberapa karya bisa dilihat di akun Instagram: Hedongka_Project dan Facebook: Hedongka. Karya-karya dan kerajianan mereka juga sudah beberapa kali dipamerkan dan dibeli oleh turis mancanegara yang berkunjung ke Wakatobi.

Di dalam akun-akun media sosialnya juga, Hedongka kerap membeberkan hasil-hasil temua sampah plastik mereka dalam satu kali beraktivitas di salah satu pantai. Seperti dalam postingan di Instagram pada 20 September 2020, Hedongka Project mendapatkan 139 kg sampah botol plastik dan 29 kg sampah tali.

Hedongka Project juga membuka kelas-kelas daur ulang untuk warga kampung dan terlibat dalam acara-acara internasional seperti World Clean up Day.

Karena aktif dalam kegiatan lingkungan dan punya nilai tradisi luhur yang kuat, oleh pemerintah daerah kemudian memasukkan Hedongka Project ke dalam kalender event tahunan Wakatobi.

Firman Ali, salah satu inisiator Hedongka Project, menjelaskan bahwa beberapa rencana kegiatan dalam event yang akan digelar Hedongka Project ialah tentu aktivitas membersihkan pantai secara masif dan beberapa aktivitas yang terkait dengannya seperti Pameran Data Sampah, Simposium Menyoal Anomali Sampah Kiriman di Wakatobi, Pameran Prototipe: ecoproduct, Residensi Seniman dan Peneliti, workshop-workshop dan ecofashion show.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here