Ibu Masnia (38) sedang menekuri ponselnya ketika saya bertandang ke gode-gode. Sementara penghuni lain yang biasanya sering duduk bercengkrama di situ, tak terlihat seorang pun. Hanya kelompok bapak-bapak yang asyik bermain kartu di teras tetangga, persis di seberang jalan. Anak bayi ibu Masnia yang biasa diayun di gode-gode, juga tak nampak. Kata ibu guru yang mengajar di salah satu Sekolah Dasar di pulau Tomia ini, dia sudah tertidur di dalam rumah sejak beberapa jam yang lalu.

“sai tehira?” (bikin apa?) tanyaku seusai menghempaskan bokong di permukaan gode-gode yang lembab

“pelatihan,” jawabnya. Ibu Masni mengalihkan pandangan seketika ke arahku

“oooo,” saya mengangguk-angguk sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Seharian tadi memang hujan turun deras dan lama. Selain cuaca malam ini yang lebih dingin dari biasanya, permukaan gode-gode yang basah juga sungguh membuat tidak nyaman untuk melakukan aktivitas di atasnya. Jika tidak demikian, gode-gode ini biasanya selalu ramai. orang-orang duduk bercengkrama atau sekedar baring-baring saja hingga larut malam.

Gode-gode atau yang biasa dikenal dengan para-para dalam bahasa Wakatobi merupakan sebuah gazebo sangat sederhana. Dibuat tak beratap, beralaskan anyaman bambu, dengan tiang-tiang kurang lebih selutut orang dewasa, yang kadang dibuat tanpa pertimbangan estetika. Namun, meskipun sangat sederhana, gode-gode mampu menampung beberapa orang yang berjubel di atasnya.

Gode-gode sering dibuat di tempat terbuka, di sekitar rumah, seakan isyarat undangan untuk bertandang. Jika sedang luang, saya biasanya selalu ke sini ikut bergabung, datang duduk-duduk. Pokoknya, jika ingin berkabar maupun mengetahui informasi terkini, saya tinggal datang saja ke gode-gode. Ada sekitar belasan orang lainnya yang biasanya juga sering datang ke sini.

Seringkali di sela saya buru-buru menyelesaikan pekerjaan, dengan perasaan tak sabar ingin bertandang ke gode-gode, saya membayangkan, apa jadinya jika tak ada gode-gode. Tentu ada rasa sungkan juga jika mesti masuk ke dalam rumah tetangga. Untuk perkara duduk-duduk saja ini.

Ternyata, pada tahun-tahun nun jauh ke belakang, gode-gode memang pernah tidak ada. Lebih dari tujuh dekade silam, Ibu Aisa (73) saat dijumpai keesokan malamnya di gode-gode yang sama, mengaku bahkan belum mengenal gode-gode saat kanak-kanak.

“i hiya ana millu na gode-gode ana gara, te gode-gode ana laamo menangka taliku ana na to si,i (dahulu kala tidak ada gode-gode ini, gode-gode baru muncul belakangan),” kenang Ibu Aisa.

Bapak La Manehaji (51) yang malam itu duduk bersama kami di gode-gode juga ikut menimpali, beliau menegaskan bahwa benar, orang-orang dulu tidak ada yang bikin gode-gode. Yang ada hanyalah serambi di rumah panggung. Di sanalah biasa orang-orang duduk bercengkrama

Arsitektur rumah tradisional warga kampung Tomia dulu umumnya adalah rumah panggung papan. Nah, serambinya itulah yang disebut sebagai galampa.

“Ara te galampa, koruo, te Tomia ana i hiya ana kan te sapo ganto ala,a, 95% te sapo ganto, jari koruono na kene no sai kene galampa” (kalau serambi rumah panggung, banyak, di Tomia ini kan dulu rumah-rumah 95% adalah rumah gantung, jadi kebanyakan juga ada serambinya),” terang Bapak La Manehaji

Menilik ke masa-masa yang lampau dalam ingatan Bapak La Manehaji, gode-gode muncul bersamaan dengan semakin banyaknya rumah-rumah panggung yang dimodifikasi menjadi rumah batu. Para perantau lah yang mula-mula membawa pulang pengetahuan akan rumah batu ini ke kampung halaman. Sebagian dari mereka, mengubah rumah gantung miliknya menjadi rumah batu seperti yang disaksikannya di tanah rantau.

Sehingga rumah batu ini seringkali dipandang juga sebagai prestisius si pemilik rumah; hanya orang-orang yang mampu membeli material bangunan, seperti kebanyakan perantau, yang kerap pulang membawa hasil berdagang ini lah, yang mampu mendirikan sebuah rumah batu.

Apalagi ditambah pula dengan sebuah kenyataan bahwa dahulu kala rumah batu ini dibikin dengan sangat boros bahan. Orang-orang di sini yang belum paham tentang

Arsitektur rumah batu, biasanya akan menambahkan semen dalam jumlah banyak untuk menambal batako, dengan maksud agar bangunan menjadi kokoh. Bapak la Manehaji yang kini kesehariannya melaut dan sesekali menjadi tukang bangunan, terkekeh mengenang masa-masa itu

Jika kita mengamati rumah batu yang didirikan pada jaman dulu yang tersisa saat ini, maka akan kita jumpai rumah-rumah yang bangunannya cukup rendah, minim jendela dan ventilasi. Kondisi bangunan rumah batu yang demikian sungguh tak cocok untuk daerah tropis di pesisir Wakatobi. Nampaknya ini yang menjadi salah satu alasan yang mendorong pemilik rumah untuk membuat gode-gode. Selain itu, pola hidup masyarakat Wakatobi yang cukup kolektif bisa menjadi alasan lainnya.

Letak gode-gode di luar rumah, selain membuat udara sejuk lebih bebas menerpa, juga membuat para tetangga tak begitu sungkan untuk bertandang. Hingga apa yang kita saksikan di gode-gode adalah keramaian yang enggan putus.

Tak berlebihan rasanya jika mengatakan bahwa kemunculan goge-gode ini merupakan sebuah konsekuensi lain dari pertemuan budaya. Boleh dikata, gode-gode merupakan serpihan dari arsitektur rumah tradisional Wakatobi yang mencoba bertahan ditengah arus pembangunan yang mengenyahkannya.

Seiring waktu gode-gode kemudian memiliki perjalanannya sendiri di tengah masyarakat Wakatobi. Sejak kemunculannya, ia tidak hanya terlihat di sekitar rumah batu warga, namun juga ada di banyak rumah panggung. Secara historis, Ia cukup memegang peranan vital dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat Wakatobi. Ia menjelma medium; sebagai tempat berlangsungnya pertukaran informasi, dari topik domestik hingga publik.

Pada kasus yang lebih jauh, gode-gode menjelma tempat mengembangkan informasi hingga doktrinasi; mengenali siapa lawan dan siapa yang sebaiknya dijadikan kawan .

Aktivitas yang dilakukan di gode-gode pun beragam. Warga Tomia dahulu kala hingga kini, selalu memanfaatkan gode-gode sebagai tempat untuk mengolah panganan, seperti memarut ubi kayu, menumbuk ubi kayu, memasak, memetik daun kelor, mengupas, menggiling jagung, menimang dan menidurkan anak, makan bersama, atau yang datang hanya untuk sekedar melihat-lihat pekerjaan yang lain sambil baku cari kutu dan cerita-cerita saja, menyusun siasat, rencana-rencana, ada juga yang datang baring-baring saja kala cuaca panas sedang menyengat. Hingga perbincangan serius lainnya perihal kepentingan umum sering juga berlangsung di gode-gode. Pada banyak hajatan, pemilik rumah seringkali meminjamkan gode-gode pada tetangganya.

Inilah bentuk klasik media sosial yang dikenal oleh masyarakat Wakatobi, jauh sebelum era digital.

Memasuki era digital pada dekade terakhir. Informasi yang seliweran bisa diakses tanpa pertemuan fisik layaknya aktivitas bercengkrama di gode-gode. Media sosial bisa dijangkau melalui ponsel pintar dalam genggaman. Sekali klik, di mana saja, kabar bisa beredar dengan mudahnya.

Namun, layaknya kehadiran rumah batu, kehadiran ponsel pintar ini juga melahirkan konsekuensi baru. Menariknya, gode-gode masih dilibatkan oleh warga. Saya merupakan salah satu warga paling beruntung karena masih bisa menikmati kultur gode-gode ini.

Jika saya bertandang ke gode-gode, sering saya memergoki Ibu masnia menimang anaknya yang masih bayi sambil menekuri ponselnya. Profesinya sebagai tenaga pengajar menuntutnya untuk selalu memperbarui ilmu lewat berbagai macam pelatihan, yang belakangan karena pandemi, ikut migrasi ke media online.

Jaringan internet di Wakatobi yang tersendat-sendat, membuat pengguna ponsel harus memburu jaringan di tempat terbuka. Akibatnya, gode-gode yang letaknya di depan rumah ibu Masnia ini sering ramai oleh pengguna ponsel, saya adalah salah satu diantaranya. Ada juga beberapa anak muda yang gandrung pada game online, selalu berkumpul di sini lalu Mabar (main bareng).

Bedanya, generasi yang memiliki ponsel melakukan interaksi sosial tak seintim dulu lagi. Meski kami sering duduk-duduk bersama. Perhatian kami tersedot oleh informasi di layar ponsel. Kadang kami lupa ngobrol. Hanya ina-ina(mama-mama) dan bapak-bapak yang tak terlalu ambil pusing dengan ponsel lah yang lebih khusyuk bercengkrama di gode-gode

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here