Generasi 90an mungkin menjadi penyebab hilangnya segala jenis permainan tradisional.

Beberapa waktu lalu saya mendapat cerita dari teman perihal festival mainan tradisonal anak 90an yang diusung oleh salah satu komunitas masyarakat Tomia. Teman saya cerita soal fenomena-fenomena menarik yang terjadi ketika festival berlangsung.

Festival yang diperuntukkan untuk anak-anak dengan kategori umur SD sampai SMA ini sebenarnya disambut dengan meriah. Namun, anak-anak ini ternyata tak banyak mengetahui. Ada anak yang bahkan mendengar nama satu permainan saja tidak pernah.

Padahal untuk kalangan anak 90an, mainan itu tersebut adalah primadona. Ada juga anak yang jangankan dijelaskan aturan mainnya, sampai sudah dicontohkan cara mainannya pun tetap tidak paham dan malah plonga-plongo.

Dari hal-hal itu, banyak anggapan berkembang. Ada yang bilang permainan tradisional anak 90an sudah tidak cocok dengan anak generasi milenial. Artinya, permainan itu sudah tak mampu memenuhi kebutuhan main anak-anak ini. Mereka tentu lebih menyukai bermain di gadget.

Ada juga yang bilang anak-anak ini tak punya sensitifitas sejarah. Berat juga bahasanya. Maksudnya, mereka tak ingin menoleh ke belakang, mereka terlalu nyaman bermain di lingkungan penuh virtual. Hingga menyalahkan anak-anak milenial bahwa mereka terlalu terhanyut dengan arus modernitas.

Secara umum, anggapan-anggapan ini sebenarnya terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Di Jawa misalnya, sudah jarang anak bermain dakon atau layangan di sawah.

“Inilah zaman mereka hidup, penuh perkembangan teknologi. Zamannya begini ya mereka begini,” begitulah anggapan berkembang.

Kedua anggapan itu memang tak keliru. Mereka bisa sangat mempengaruhi kenapa permainan tradisional tak punya tempat di jaman moderen ini.

Namun ada satu alasan yang kemudian sering terlewatkan. Alpanya sistem regenerasi permainan.

Akhir 90an sampai sekira tahun 2003, pemainan tradisional yang berkembang di desa saya di Lamanggau begitu bejibun. Mau permainan macam ase, edda, katera-tera, sendi, metammeta, sikki-sikki, pato-patolla, kafulalu, hekuti, dan segala jenis permainan anak pada zaman itu ada. Peraturan permainan juga tidak perlu lagi diajarkan. Ketika ingin bermain, sediakan alat dan bahannya, sudah. Anak-anak yang ikut tinggal menyesuaikan saja.

Pada zaman itu kami tidak merasa kebingungan dengannya karena segala jenis permainan itu sudah ada yang memperkenalkan sebelumnya. Misalnya satu anak belum boleh ikut satu jenis permainan karena dianggap masih terlalu belia, ia akan dijadikan seorang pengamat yang baik sebelum ia bisa jadi pemain. Keadaan ini menjadikan generasi 90an tahun dan mahir dalam permainan yang mereka gunakan. Ini karena keberadaan generasi sebelumnya sebagai pembimbing dalam permainan tidak pernah hilang.

Namun setelah zaman berganti dan para pemilik pengetahuan permainan tradisional itu lebih suka merantau, entah untuk bersekolah atau mencari pekerjaan di tempat lain, maka disitulah titik regenerasi itu terputus. Perkenalan permainan tradisional dengan anak milenial menjadi tidak seintens perkenalan anak 90an.

Ketika anak 90an bersama generasi sebelumnya begitu akrab bahkan sampai tiap hari serasa diajari satu permainan baru, dan besoknya, dan besoknya lagi, namun tidak dengan generasi milenial yang hanya menerima permainan itu sekali-sekali dan itu pun sudah bentuknya festival, acara-acara formal yang membosankan.

Maka jika boleh menyalahkan atas siapa yang bertanggungjawab, tentang masalah permainan tradisional yang sudah akan punah, saya memilih mengutuk generasi saya, generasi 90’. Kami, generasi 90an ini punya pengetahuan yang memadai untuk mewariskannya kepada generasi milenial. Sayangnya, kami memilih memendam itu semua dan mengejar ego kami untuk merantau. Kami meninggalkan tanggung jawab tradisi kepada generasi setelah kami. Maafkan kami kakak-kakakmu ini, la ade, wa ade mai.

Editor: Ebi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here