Bahasa Tomia mulai terkikis, perlu banyak cara-cara melestarikan bahasa tomia agar ia tetap menjadi identitas.

Lekasura- Ada anggapan masyarakat Tomia dulu, namun kelihatannya sudah tidak berarti di jaman sekarang, bahwa “Tekene makampuji atu ara to pake te tanga Tomia, no falo kita pake te tanga malau,” (Orang sombong itu ketika kita berbahasa Tomia dijawab pake bahasa Indonesia). Dulu orang yang pakai Tanga Malau itu bahkan dianggap daga (pendatang atau orang asing).

Tapi anggapan-anggapan macam itu menurut saya lebih merujuk pada teguran agar kita menghargai bahasa kita sendiri, alih-alih membenci. Mereka mengingatkan agar jangan melupakan bahasa daerah, apalagi ketika tinggal di kampung. Hal ini seperti kata Fanny Henry Tondo dalam penelitiannya berjudul Kepunahan Bahasa-Bahasa Daerah: Faktor Penyebab dan Implikasi Etnolinguistis bahwa salah satu penyebab kepunahan bahasa adalah kurangnya penghargaan dan kebanggaan atas bahasa daerah oleh penuturnya.

Tapi di sisi lain Fenny juga mengatakan kalau faktor-faktor lain seperti globalisasi, migrasi dan sebab-sebab yang erat hubungannya dengan akulturasi budaya tidak bisa dielakkan sebagai pemicu kepunahan juga. Apalagi hari ini ditambah dengan merebaknya media sosial.

Oleh karena itu para pemangku kepentingan, anak-anak muda dan semua orang semestinya harus berperan aktif dalam mempopulerkan budaya berbahasa daerah kembali di tengah modernisasi agar ia terus eksis di dalam kehidupan ini. Agar ia tidak ditinggalkan dan dianggap kuno.  

1. Memasukan Bahasa Daerah ke dalam Produk Budaya Populer

Sebuah cara menarik untuk membawa bahasa daerah ke dalam budaya modern ialah dengan mengonsepnya dalam bentuk kesenian populer. Misalnya lewat seni lagu kekinian, kita bisa lihat seperti yang dilakukan pada lagu bahasa Jawa yang menjadi tren dan menjadi bahasa yang senang didengar oleh orang non Jawa. Obing Katubi dalam artikelnya di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) mengatakan kemunculan lagu-lagu berbahasa Jawa di ranah digital secara masif dapat menjadi semacam dokumentasi bahasa yang akan membantu anak-anak muda Jawa menemukan kembali bahasa ibunya di dunia digital.

Lagu ialah alat komunikasi paling cocok sebenarnya untuk masyarakat yang berada di zona Indonesia Timur, termasuk Wakatobi. Terbukti kita bisa lihat sekarang banyak yang menciptakan lagu, meng-cover lagu-lagu daerah di media sosial seperti Youtube yang kesemuanya tentu akan memiliki dampak pada nafas bahasa daerah.

Selain lagu kita bisa merumuskannya dalam buku, komik, puisi, film dan berbagai pranata seni pop lainnya, bahkan termasuk ceramah agama.

Di era digital, beradaptasi adalah sebuah keharusan. Hal tersebut juga berlaku bagi upaya pelestarian bahasa. Bagi bahasa-bahasa yang mengalami kemunduran atau dalam kondisi terancam, fusi dengan produk budaya populer menjadi model alternatif upaya pelestarian bahasa yang cukup signifikan mengantar bahasa daerah ke masa depan.

2. Menjadikan Bahasa Daerah sebagai Nama atau Brand

Upaya lain yang bisa dilakukan ialah menjadikan bahasa daerah sebagai nama atau identitas sesuatu. Sekarang di Tomia banyak komunitas ‘asyik’ yang menamai komunitas mereka dengan nama daerah. Salah satu yang cukup populer sekarang adalah Katutura (untuk tahu artinya nanti tanya-tanya ke anak-anak muda yang bikin itu komunitas, maknanya sangat mendalam pokoknya). Lalu ada Hedongka Project, Omputa, Taman Baca Antopulu, Leleko, Potinua, Kahyanga Membali, Wa To’ombuti, Lekasura (tentu saja dong) dan lain sebagainya.

Selain untuk identitas, ia juga bisa sebagai nama kampanye seperti #SaveTangaTomia, #JagaTangaTomia, #hedongkaproject dan lain sebagainya. Lalu ide lain yang cukup menarik adalah dijadikan nama akun media sosial. Kan bagus kalau nama Intsagram-nya Soo Nu Oloo (meskipun agak panjang dibanding Senja), lalu Komba (bulan), Finulu (arus) dan lain-lain terserah yang terlintas di kepala nanti.

Usaha mennjadikan bahasa daerah sebagai nama sebenarnya sudah dilakukan oleh orang tua jaman dulu. Cara mereka bahkan lebih kuat, yaitu dengan menjadikan salah satu kata dalam bahasa Tomia sebagai nama anak mereka. La Pogo, La Kambisa, La Bula, dan lain-lain. Menurut saya itu merupakan salah satu bentuk pelestarian juga.

3. Prokem

Selain menumpangkannya ke dalam produk budaya pop dan dijadikan identitas, bentuk yang cukup menarik yang sebenarnya secara tidak langsung mampu melestarikan bahasa ialah Hekansanga (Prokem), meskipun ini berimplikasi secara tidak langsung.

Kebanyak dari kita tidak menyadarinya bahwa Hekansanga membuat bahasa daerah menjadi kekinian dan digemari oleh anak muda. Beberapa tahun ke belakang muncul kata Teppa sebagai prokem yang tenar di kalangan anak muda, yang sebetulnya berasal dari bahasa Tomia lama. Kalau sekarang: Pakkura..!!

Kepala Balai Bahasa Jawa Timur Dr. Asrif, M.Hum dalam diskusi bertema Keterancampunahan Bahasa-Bahasa Daerah di Indonesia bersama Radio Edukasi, mengatakan bahwa bahasa prokem pada bahasa daerah bukan sebuah ancaman tetapi menguntungkan bahasa karena ada ruang kreativitas anak muda terhadap bahasa.

Ketika Kita Memakai Bahasa Daerah

Mungkin ada pertanyaan dalam diri kita sebagai generasi Tomia tentang bagaimana kesan orang luar terhadap kita anak muda Wakatobi yang selalu berbahasa daerah di tempat mana pun.

Ada pengalaman pribadi saya di Surabaya saat bertemu dengan kawan lama sewaktu di SMA 2 Baubau. Dalam obrolan santai, tidak disangka kawan saya tersebut justru kagum pada pemuda Wakatobi yang selalu menggunakan bahasanya di manapun mereka berada.

Tidak hanya itu, banyak teman-teman dari Kota Baubau menganggap orang Wakatobi tidak bisa dilepaskan dari bahasanya, terbukti ketika saya bertemu mereka, mereka berusaha menyapa dengan bahasa Wakatobi, “Mina diumpa la?”

Dari sikap itu, bukan hanya mencerminkan tidak adanya kesan kekunoan terhadap bahasa Wakatobi, tetapi sebuah kerinduan mereka yang berasal dari wilayah yang mayoritas pemudanya sudah tidak bisa berbahasa daerah.

Seandainya kita membayangkan situasi yang sama dimana bahasa Tomia benar-benar mulai hilang, seperti yang sudah terjadi pada daerah lain, akan ada kerinduan yang dalam sekali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here