Artikel ini merupakan ulasan tentang kehidupan Bapak Tua dan gambusnya. Ada banyak pelajaran hidup yang selalu bisa dipetik dari orang tua

Tur Sekolah Pulau kali ini adalah mengunjungi Bapak Tua di Kulati pulau Tomia.

Menyusun konsep Mendayung ke Hulu Belajar Pada yang Dulu, Sekolah Pulau mempertemukan kami dengannya.

Bagi anak pulau, cerita tentang Bapak Tua di Kulati sudah tercium dimana-mana. Para pelaku konservasi sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut.

Bahakan bukan hanya orang pulau, orang luar pulau pun tidak jarang menjumpai Bapak Tua untuk berbagi cerita. Iya, Bapak Tua itu bernama La Asiru.

Bapak Tua membuka pembicaraan dengan kalimat pendek. “Ayo kita mulai dengan perkenalan,” katanya.

Aku menatapnya tajam, matanya begitu dalam, rambutnya yang sudah memutih, kumis dan jenggotnya yang keperakan, serta kopiah di kepalanya menambah aura lelaki itu.

Bapak Tua sedang berbincang dengan peserta Sekolah Pulau di Pantai Huntete. Sumber: Lekasura/Fadli

Ia pria tua yang menyenangkan. Mungkin Bapak Tua memahami pepatah ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’ yang populer pada zamannya. Begitulah bisikku dalam hati.

Sebenarnya aku ingin protes dengan caranya memulai pembicaraan, tapi yah sudahlah toh itu juga baru permulaan.

Dipangkuan Bapak Tua terdapat sebuah gambus. Sesekali ia membetulkan tali-tali alat music mirip gitar itu.

Jelas sekali ia adalah seorang seniman klasik. Apalagi ia duduk dengan cara paseba, sangat tenang dan bersahaja.

“Saya memainkan gambus tidak untuk dibayar, gambus adalah hobi saya,” ujarnya.

Wah, keren sekali kalimat pembuka seperti ini, mungkin inilah yang dimaksud dengan art for art, bisiku kembali dalam hati.

Bapak Tua menyukai lagu-lagu santai. Ketahuan sekali dengan carannya berucap bahwa ia memainkan gambus untuk menghibur diri sendiri, tidak untuk pertunjukan apalagi untuk penyambutan.

Lelaki tua itu banyak mengetahui syair-syair kabhanti. Baginya syair kabhanti penuh nasehat untuk saling menyayangi dan melindungi. Tak jarang ia selalu mengalunkan syair kerinduan kepada orang terkasihnya.

Bapak Tua adalah seorang pelayar, tentu kerinduan itu muncul tatkala pejalananya mengarungi lautan yang luas berhari-hari bahkan berbulan-bulan dengan perahu bhangka tanpa mesin.

Kalau saya masih di lautan, ikhlaskanlah hatimu, begtu bhanti Bapak Tua dalam bahasa Tomia diiringi petikan gambus dipangkuannya.

Syair itu baginya adalah harapan seorang suami kepada istri yang ditinggalkannnya agar tak berhenti berdoa untuk laut yang teduh dan perjalanan dilancarkan. Bagi para pelaut gelombang lautan erat kaitannya dengan hati sang istri di rumah.

Maka penggalan syair di atas adalah gambaran harapan agar istri selalu menenangkan hatinya supaya laut tetap teduh bagi para suami mereka selama berlayar.

Bagiku syair ini mengandung unsur falsafah yang sangat tinggi, pelibatan rasa dan hubungannya dengan alam semesta.

Gambus: Seni Menghibur Diri

Bapak Tua usai bermain gambus di Pantai Huntete.. Ia memberikan nasihat dan petuah hidup kepada peserta Sekolah Pulau yang masih muda agar tetap menncintai alam dan sesama. Sumber: Lekasura/fadli

Pagi ini ditengah ruangan Villa Nadila di pulau Wangi-Wangi, seseorang sedang mencoba menerangkan suatu materi Etika Pengelolaan Sumber Daya Alam. Materinya menarik namun itu tidak cukup untuk mengusir kerinduanku kepada Bapak Tua di Tomia.

Pikirku terbang menuju pulau Tomia. Teringat lagi suatu kalimat dari Bapak Tua tentang nasehat untuk menghibur diri sendiri.

Kesibukan diri untuk memperoleh pujian dan penghargaan masih sulit terlepas dari sisi manusia. Manusia tampil percaya diri dengan yang bukan dirinya lagi.

Terbayang lagi wajah Bapak Tua dengan kopiah milikknya. Mendendangkan kabhanti untuk menghibur dirinya.

Membayangkan Bapak Tua sedang berlayar ke tengah luatan, berteman ombak, di bawah bulan, dihembus angin sepoi dan bhangka berjalan lambat berlawanan gerak angin, Bapak Tua memainkan petikan gambus.

Tampak sekali ia sedang menunggu hari untuk tiba di tempat tujuan. Sambil bertukar cerita kepada sawi (ABK Kapal) yang lain, Bapak Tua bersenandung merdu diiringi gambus untuk menghibur diri.

Pada awalnya gambus dimainkan untuk menghibur diri. Semakin kesini, gambus kemudian menjadi seni pertunjukan pada keramaian. Terdapat banyak pertunjukan di mana gembus yang menjadi pengiring seni tari.

Di Wakatobi misalnya, gambus menjadi pengiring tarian balumpa yang dipadukan dengan irama gendang (ganda) dan botol (tiki-tiki) untuk menggerakan para penari.

Perpaduan antara gambus dan tari balumpa menunjukan suatu peradaban seni dewasa ini.

Bapak tau adalah salah seorang yang memilih gambus sebagai jalan untuk menghibur diri. Itulah sebanya Ia memilih syair-syair santai nan selow.

Gambus bagi Bapak Tua adalah sebuah seni untuk mendamaikan dirinya.

“Saya memainkan gambus untuk menghibur diri sendiri dan bukan untuk menghibur siapa pun,” ungkapnya.


Jatuh Cinta Kepada Mama Tua

Bapak Tua adalah seorang pelayar. Pada usianya yang beranjak ke 12 tahun, Ia berlayar mengarungi lautan Banda.

Kala itu pelayaran pertamanya. Bagi orang pulau berlayar adalah suatu kehidupan baru. Berlayar pada akhirnnya  menjadi hobi, tak terlepas dari seorang Bapak Tua di pulau Tomia.

Pelayaran mengantarkannya pada berbagai macam pelajaran, termaksud pelajaran kemanusian. Menempatkan manusia sebagai manusia adalah suatu capaian yang panjang.

Begitu juga para Tim Sekolah Pulau yang menemui Bapak Tua sebagai upaya memanusiakan manusia.

Tepat 20 November 2022 tim sekolah pulau kembali mengunjungi Bapak Tua untuk bercerita hal-hal yang belum selesai pada pertemuan sebelumnya.

Bapak Tua telah mengajak kami untuk jatuh cinta padanya di pandangan pertama. Dari sekian banyak tim yang tergabung dalam sekolah pulau, sebagian besar mengambil judul penelitian yang terkait dengan Bapak Tua.

Ya, saat itu babak tua memang telah menjuarai hati kami. Terdapat banyak topik yang ingin kami pelajari darinya, mulai dari sosok Bapak Tua itu sendiri, gambus, kabhanti, hingga persoalah cinta Bapak Tua kepada mam tua (istrinya).

“Kira-kira hal apa yang membuat Bapak Tua jatuh cinta kepada mama tua?” tanya Letna tim sekolah pulau yang juga jatuh cinta kepada Bapak Tua usai kunjungan pertama.

“Sikap baiknya dia (mama tua) kepada keluarganya,” jawab sang lelaki bergambus. Sesederhana itu cinta menurut Bapak Tua. Bagaimana dengan kita yang saat ini? Ah, cinta.

Di tengah penasarannya, Letna melanjutkan pertanyaan kenapa Mama Tua memilih Bapak Tua.

“Mama Tua suka kepada Bapak Tua bukan karena harta atau kekayaan, pendidikan tinggi, pejabat atau kalau orang dulu lebih dikenal dengan sebutan mosega. Mama Tua suka kepada Bapak Tua karena rasa sayangnya Bapak Tua yang tulus, hal itu bisa dilihat dengan cara Bapak Tua melamarnya,” kenang Bapak Tua.

Saking cintanya Bapak Tua kepada istrinya, ia cepat-cepat mengungkapkan perasaannya kepada Mama Tua.

Potret Mama Tua yang diunggah oleh akun Facebook Spasi

Bapak Tua tidak ingin mendengarkan jawabannya. Diberinya waktu tiga bulan untuk memikirkan semua itu kepada Mama Tua.

Tiga bulan berlalu dan jawaban yang diharapkan dating. Kata ‘Iya’ terucap dari mulut perempuan dambaan hati itu.

Kurang lebih satu bulan selanjutnya hubungan keduanya dibicarakan di tingkat keluarga.

Perjuanagan Bapak Tua belum selesai. Mama Tua cukup menarik hingga banyak laki-laki yang menyukainya.

Pasalnya, pada saat yang bersamaan, ada dua laki-laki yang datang kepada Mama Tua. Bapak Tua adalah salah satu di antaranya.

Namun, ternyata Bapak Tualah yang pada akhirnya dipilih Mama Tua.

Rahasia Hidup Bapak Tua

Sosok Bapak Tua pertama kali diperkenalkan kepadaku oleh Saharudin, seorang pengorganisir Forum Pulau Kabupaten Wakatobi.

Saharudin berkisah banyak soal Bapak Tua, terutama soal ketenangan dan cinta kasih yang ditebarkannya.

Hari-hari berlalu, para pengornaisir lain juga bercerita hal yang sama soal Bapak Tua. Sejak saat itu cerita tentang Bapak Tua di Kulati menjadi tidak asing bagiku.

Di kala itu nama Bapak Tua Kulati mengantarkanku pada sosok seorang tua yang kharismatik yang belum pernah sekalipun kutemui.

Terakhir kudengar lagi sosoknya dari sebuah grub Whatsapp Forum Pulau. Saat itu sahabat-sahabatnya banyak mengabarkan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Mama Tua.

Ungkapan bela sungkawan dari berbagai kalangan bukan hanya dari kalangan forum pulau tapi juga dari orang-orang pemerintah yang secara tidak sengaja pernah terkait dengan bakap tua. Para komunita literasi juga mengungkapan hal yang sama. Hebat sekali Bapak Tua ini pikirku.

Hingga perjalanan di hari itu terjadi. Pada tur Sekolah Pulau, di atas pick up yang mengangkut kami menuju Desa Kulati.

Sesorang menyampaikan rencana kunjungan kami. Tidak sengaja terucap “Bapak Tua” dalam ceritanya. Pikirku langsung tertuju kepada Bapak Tua yang pernah kudengarkan ceritanya beberapa tahun lalu.

Ya, tidak salah lagi Bapak Tua itu adalah La Asiru, sosok yang persis terlintas dalam bayanganku.

Bertemu dengan Bapak Tua di pantai Huntete pulau Tomia. Ia sudah tua. Terlihat jelas dengan caranya berdiri menggunakan tongkat kayu.

Anak-anak Sekolah Pulau menyalaminya satu per satu dan rata-rata menunduk serta mencium tangan Bapak Tua.

Tidak terlepas aku, sambil menunduk, membuka topi yang kukenakan dan kucium tangan lelaki kharismatik itu.

Anak-anak Sekolah Pulau banyak mengajaknya cerita sebelum proses diambil alih oleh panitia. Bapak Tua mulai menjawab ajakan dari semua pertanyaan yang ditujukan padanya.

Aku tahu untuk usia seperti Bapak Tua mungkin saja sudah tidak lagi kuat untuk berdiri lama, apalagi untuk meladeni para peserta sekolah pulau yang semuanya adalah anak-anak muda.

Apakah Bapak Tua mengeluh dan menghentikan cerita lalu mengajak kami untuk duduk? Aku tidak melihat itu sedikit pun yang ingin disampaikannya.

Sambil bercerita, aku ajak Bapak Tua untuk duduk di sebuah Koli-koli nelayan di sebuah Fale-fale beratap daun kelapa. Kutatap lama Bapak Tua, aku menemukannya begitu damai dan menenangkan.

Tidak salah lagi cerita yang pernah kudengarkan sebelumnya terkait kedamaian lelaki ini.

“Apa rahasia hidup tenang menurut Bapak Tua?” tanyaku.

Sambil tertawa, pria tua di depanku menjawab: “Jangan pernah membenci orang lain,” katanya, singkat.

Pada kesempatan lain, Bapak Tua menjelaskan lebih banyak soal rahasia hidup tenang menurutnya. Bahwa manusia adalah produk dari pikirannya sendiri.

“Manusia adalah pabrik atas akal dan pengetahuan serta indra yang dimiliknya,” ujarnya.

Bapak Tua menempatkan ketenangan seseorang dapat diolah melalui akal dan pengetahuan serta indra. Manusia memilik hak untuk menerima semua kebaikan dan keburukan yang ditemuainya dan begitu sebaliknya.

“Jika ada yang membencimu, memakimu atau berkata kotor terhadapmu maka dengar dan diamlah, jangan pernah kamu membalasnya. Kalian memiliki kemampuan untuk menerima atau tidak menerima semua itu,” sambung Bapak Tua.

Manusia adalah satu-satunya aktor untuk mengelola dirinya sendiri, jauh daripada itu ada peran Tuhan yang menciptakannya.

Mengelola diri tentu bukan hal yang mudah. Untuk itu dibutuhkan suatu upaya kuat untuk mencapainya.

Menurut Bapak Tua, manusia harus mampu memasrahkan dirinya kepada Tuhan sebagai pemilik kehidupan.

“Tidak ada yang susah bagiku, hidup dan mati, bahagia dan sedih, kaya dan miskin semua itu adalah pemberian dari Tuhan,” tuturnya.

Bapak Tua dan Sarpin setelah berbincang berdua di tepi Pantai Huntete. Sumber: Lekasura/fadli

Kutinggalkan Rindu di Pulau Tomia

(Cerita sebuah perjalanan)

Wangi-wangi, 30 November 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here