Home Blog

Gambusu Kepulauan Pandai Besi: Upaya Melihat Nusantara Melalui Bunyi

0

Gambusu Kepulauan Pandai Besi terpilih sebagai dawai dari Sulawesi Tenggara dalam program Rantai Bunyi yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Ini adalah salah satu upaya melihat kekayaan budaya nusantara melalui bunyi

Komunitas Katutura yang berbasis di Kepulauan Pandai Besi mendapat kesempatan untuk menjadi kolaborator dalam program Rantai Bunyi Pekan Kebudayaan Nasional 2023 yang berlangsung dari 20 hingga 29 Oktober 2023. Program ini mengusung materi bunyi dawai dengan atau tanpa nyanyian. Rantai Bunyi melibatkan lima wilayah residensi yang menjadi titik pertukaran budaya musikal; Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Papua dan Kalimantan Barat.

Kata “Rantai” yang digunakan dalam frasa “Rantai Bunyi” tidak seperti makna yang kita pahami pada umumnya. Nya Ina Raseuki, musisi Indonesia yang menjai kurator Rantai Bunyi mengatakan bahwa ‘Rantai’ disini tidak bersifat mengikat/mengekang, melainkan sebagai perumpamaan pertautan yang terjalin antara ragam bunyi/derau tanpa menyangkal ciri khas dari masing-masing bunyi.

Sederhananya, rantai bunyi berupaya menautkan, memberi ruang yang bebas, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru antara sesama musisi muda untuk bertukar, saling silang, serta merefleksikan bunyi nusantara. Bebunyian itu pada suatu titik akan menjadi harmoni yang padu dan memukau.

Program Rantai Bunyi mengusung panggung yang Menghadap Kedalam. Menghadap kedalam di sini juga bermakna secara literal dan metafor. Ini dimaksudkan untuk membuka kemungkinan saling menatap, memahami, juga mempelajari bunyi diri sendiri serta wilayah selingkung sekaligus memahami bebunyian Indonesia. Olehnya,  para musisi yang datang dari beragam daerah bisa memberi langgam yang kuat pada karya musiknya.

Gambusu Kepulauan Pandai Besi dengan langgam banti-banti menjadi titik tolak bunyi dawai Sulawesi Tenggara dalam program Rantai Bunyi 2023.  Pasalnya, musik gambusu telah hidup dan berakulturasi dengan masyarakat Kepulauan Pandai Besi (kini masyhur dengan sebutan Wakatobi) sejak puluhan tahun silam. Meskipun belakangan, karena pemusiknya yang sebagian besar telah sepuh, gambusu perlahan tenggelam.

Gambusu Kepulauan Pandai Besi dimainkan para seniman dari lima daerah subkultur yang ada di Sulawesi Tenggara; Wakatobi, Buton, Bau-bau, Buton Tengah dan Buton Selatan. Untuk membangun langgam bunyi yang berkarakter dan inklusif, komposisi para seniman tersebut didasarkan pada teritorialnya. Hal ini merupakan modal dasar penciptaan karya musikal.

Berikut adalah nama-nama seniman dan daerahnya masing-masing: 

Edi Ferdiansyah dari Pulau Tomia Kabupaten Wakatobi, La Ode Muhammad Mardan dan La Ode Yusril Mahendra dari Pulau Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi, sementara itu La Ode Abdul Ghaniyu Siadi, La Ode Gustiano Virno Bolu, La Ode Rezky Adrian, La Ode Rusdin, La Ode Muslimun Syafrizal Ana, Theo Harriwijaya, Reny Petrissia Hassiddiqie dan Windu Brilian Valantino dari Kota Bau-bau, kemudian La Ode Muhammad Julkarnain dari Kecamatan Batuga Kabupaten Buton Selatan, La Rapi dari Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, Safrin dari Kecamatan Pasar Wajo Kabupaten Buton, dan Sarfin dari Kecamatan Mawasangka Tengah Kabupaten Buton Tengah.

Sebagai sebuah model penelusuran musik Dawai Nusantara, Rantai Bunyi bekerja meliputi tiga hal, yakni: sejarah bunyi dari kebudayaan di masa lalu, pertukaran pengetahuan musik terkini, kemungkinan eksplorasi yang dipertukarkan dan dikembangkan di masa depan.

Program Rantai Bunyi  melibatkan tiga empu atau seniman senior. Mereka datang dari tiga wilayah subkultur di Sulawesi tenggara. Empu merupakan orang yang posisinya sebagai guru. Maka para musisi belajar tentang Gambusu Kepulauan Pandai Besi dari mereka sekaligus meminjam spiritnya.

Pak La Asiru merupakan empu gambusu yang datang dari Kepulauan Pandai Besi (Wakatobi), tepatnya dari Pulau Tomia. Sedangkan Bapak La Mali dari Gonda Baru, Kota Baubau, dan Ibu Marlia dari Muna. Ketiga empu membagikan pengetahuan gambusu yang dipraktikan dalam kesehariannya sesuai konteks sosiokultural daerah asalnya masing-masing.

Rantai Bunyi juga melibatkan dua peneliti/fasilitator yang terlibat dalam proses residensi. Keduanya datang dari daerah yang berbeda untuk memperkaya sudut pandang. Eka Putri Puisi dari Komunitass Katutura yang berbasis di Wakatobi dan Reno Izhar dari Bangka Belitong.

Dalam prosesnya, program Rantai Bunyi mencakup kegiatan residensi, yakni Rawat, Panen, Bagi. Proses Rawat yang digagas dalam Rantai Bunyi 2023 ialah siasat merawat apa yang tersedia pada lumbung, dalam hal ini Gambusu Kepulauan Pandai Besi. Melalui proses residensi yang berlangsung 14-20 Agustus 2023,  berisi lokakarya dan kreasi, para musisi melakukan upaya-upaya maupun kompromi, sehingga menciptakan sebuah musik baru.

Hasil eksplorasi ini kemudian menghasilkan karya hybrida yang diterjemahkan sebagai pencampuran antara musik tradisi dan kekinian. Berupa tiga repertoar; Gambusu Luha-luha, Gambusuno Hodea, Gambusu Hamota.

Ketiga lagu ini lalu melewati proses Panen pada hari keenam residensi. Dimana ‘panen’ dalam istilah Rantai Bunyi adalah proses perekaman audio musikal yang dilakukan bersama tim Rekam Bergerak (Yogyakarta, Jawa Tengah)

Sedangkan bagian Bagi dalam Rantai Bunyi 2023 merupakan proses membagikan apa yang telah dirawat, lantas dipanen, kepada khalayak ramai. Ini adalah waktu penutup program Residensi Rantai Bunyi Sulawesi Tenggara. Proses Bagi juga dilakukan lebih luas pada perayaan Pekan Kebudayaan Nasional 25 Oktober 2023 di Jakarta, serta membagikan rekaman hasil proses residensi berupa lagu dan tulisan.

Sedikit banyak program ini telah memantik resonansi denyut musik gambusu di Sulawesi Tenggara secara umum dan khususnya di Kepulauan Pandai Besi. Berbagai kegiatan serupa, yakni upaya-upaya mengawinkan musik tradisi dan terkini mulai bermunculan.

Meskipun secara pribadi, sebagai peneliti yang berasal dari wilayah yang menjadi subjek penelitian, penulis merasa masih banyak yang perlu dibenahi jika program-program serupa ingin dilakukan. Apalagi jika mengingat bahwa program ini menargetkan capaian penciptaan musik yang berlandaskan riset.

Waktu residensi dan kesempatan bagi para musisi untuk belajar dari empu yang terbatas (hanya sepekan) perlu dievaluasi lebih lanjut. Demikian pula kehadiran empu di lokasi residensi bisa diganti dengan kunjungan peserta residensi ke tempat empu. Untuk memperdalam dan memperkaya riset musik berdasarkan warisan dan konteks budaya masing-masing yang akan dipertukarkan pengetahuannya akan lebih maksimal jika peserta residensi mengalami secara langsung.

Kedepan semoga Gambusu Kepuauan Pandai Besi yang menjadi model dalam program Rantai Bunyi ini bisa memberi dampak positif dalam proses regenerasi dan pelestarian budaya di Wakatobi maupun Sulawesi tenggara dan umumnya di nusantara.

Ritus Haji dalam Budaya Maritim Wakatobi: Mereka yang Kerap Terlupakan

0

Penulisan dan penuturan sejarah ritus haji dalam tradisi idul kurban dan budaya maritim Wakatobi sering bias gender. Keberadaan perempuan acap terlupakan. Kalaupun ditulis, nama-nama perempuan itu dihadirkan dengan meromantisasi posisi mereka yang tersubordinasi atau terpinggirkan sebagai objek pelengkap cerita.

Sosok Siti Hajar Dalam Sejarah Idul Kurban

Cerita yang banyak hilir mudik di balik peringatan idul qurban, hanya membingkai dua sosok: Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Di mana banyak dikisahkan kepada kita tentang pengorbanan keduanya kepada Allah SWT. Keteguhan dan kesabaran seorang ayah (nabi Ibrahim as) yang mengikhlaskan anaknya (nabi Ismail as) untuk disembelih. 

Tak banyak yang tahu bahwa ada sosok Siti Hajar, salah satu subjek utama, yakni seorang budak perempuan kulit berwarna, yang sangat berperan dalam peristiwa kurban yang kita peringati sebagai hari raya kurban hari ini. Yang semangat dan pengorbanannya diabadikan pula dalam Alquran. 

Dikisahkan bahwa Siti Hajar merupakan budak yang dihadiahkan oleh Raja Fir’aun kepada Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim as. Beliau kemudian menikah dengan nabi Ibrahim as atas permintaan Siti Sarah karena alasan tertentu. Pernikahan Siti Hajar dan Nabi Ibrahim ini dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ismail. Namun, meskipun pada mulanya Siti Sarah yang meminta kepada nabi Ismail untuk menikahi Siti Hajar, lambat laun terbit juga rasa cemburu di hati Siti Sarah.

Oleh karena itu, demi menghindari pergolakan, maka turunlah perintah Allah SWT untuk memindahkan Siti Hajar dan Ismail ke Mekkah. Lantas berangkatlah Nabi Ibrahim memenuhi perintah tersebut. 

Pada saat itu Siti Hajar menunjukkan sisi rasionalitasnya dengan memenuhi ajakan Nabi Ibrahim untuk pindah ke Mekkah, demi keutuhan rumah tangga mereka dan menjaga perasaan Siti Sarah yang dia hormati sebagai sesama perempuan. 

Siti Hajar dan Ismail pun ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di Mekkah lalu kembali ke Syam tempat istri pertamanya. Ketika itu Mekkah masih berbentuk padang pasir nan tandus, tanpa manusia lain dan kehidupan lain di sana. Menyadari hal itu Siti Hajar sempat mempertanyakan kenapa dia dan anaknya mesti ditinggalkan berdua saja di sana 

“Ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini? Apakah Allah SWT memerintahkan kamu wahai suamiku?”

“Benar,” jawab Ibrahim.

“Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami” ucap Siti Hajar yang mengisyaratkan sisi spiritualitasnya, betapa dia juga yakin pada rencana dan ketetapan Allah SWT. Maka dimulailah babak baru kehidupan Siti Hajar sebagai ibu tunggal yang membesarkan dan mendidik anaknya selama masa LDR-an dengan suaminya.

Suatu ketika saat persediaan bekal makanan dan air sudah habis, air susu Siti Hajar ikut mengering. Siti Hajar menunjukkan kegigihannya menyintas hidup dan tanggung jawabnya pada anaknya. Dengan penuh keyakinan bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan mereka, dia berlari bolak balik bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari sesuatu yang bisa dimakan atau diminum. Yang kini, upaya beliau menyintas hidup itu menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji, yakni Sa’i.

Siti Hajar tak kunjung menemukan makanan maupun minuman meski sudah bolak balik mencarinya. Ia berkali-kali memandang ke sekelilingnya dari atas bukit Shafa dan Marwah tapi nihil. Tiba-tiba muncullah mata air dari arah kaki bayinya yang saat itu menangis keras sambil menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Siti Hajar lantas bersegera membasuh bibir bayinya dan wajahnya, kemudian meminum air itu.  Ketika itu pula terpikirkan untuk mengeruk pasir yang menutupi mata air sambil berucap “zamzam” berkumpullaah! 

Karena munculnya mata air zamzam ini, maka bermukimlah Siti Hajar dan bayinya di sekitar itu. Mata air ini juga mengundang kehidupan lainnya, tumbuhan mulai bermunculan, banyak hewan berdatangan, dan orang-orang juga banyak yang singgah mengambil air, bahkan ikut bermukim di sana.

Selama masa LDR-an dengan suaminya, Sitti Hajar banyak mentransfer ilmu kebajikan kepada Nabi Ismail yang tercermin dalam sikap beliau saat ayahnya, Nabi Ibrahim, menerima perintah Allah untuk menyembelihnya.

Ismail menunjukkan sisi spiritualitasnya, tak gentar dia pun mengiyakan permintaan ayahnya. Hal yang sama terjadi pula pada ibunya Siti Hajar. Meski keyakinannya lagi-lagi harus diuji, dan kini dengan perintah menyembelih putra semata wayangnya, yang mula-mula ia besarkan susah payah seorang diri.

Perempuan Wakatobi

Waktu bergerak ke masa depan. Berabad-abad lamanya, pada tahun 1901 nun jauh dari semenanjung Arab, empat orang laki-laki pelayar di Pulau Binongko, melepas sauh perahu lambo mereka. 

Empat orang nan gagah berani itu bertekad mengukir sejarah, mereka hendak melakukan perjalanan ibadah haji lewat laut. Dan, impian itu tercapai, tentu saja. Sebab mereka adalah pelayar-pelayar tangguh yang lahir dari angin dan ombak.

Diceritakan bahwa empat orang yang kemudian dikenal sebagai Haji Hohaa itu berlabuh di Pakistan, dan dari sana mereka melakukan pernjalanan darat ke Mekkah. Empat orang itu adalah La Samuraa (H. Shiddiq), La Muru (H. Thayeb), La Sirau (H. Abdul Halim), dan La Ali (H. Muhammad Ali). 

Dalam rantangan narasi sejarah Kepulauan Tukang Besi (Wakatobi) kemudian empat orang itu menempati posisi penting. Kisah mereka menandaskan sebuah identitas mentereng orang-orang Wakatobi sebagai pelayar yang heroik dan pemberani. Kalian bisa bayangkan luasnya lautan yang mereka arungi menggunakan perahu kecil yang hanya bermodal layar yang digerakkan angin. Menakjubkan!

Namun, tahukah kalian siapa yang memasak bekal mereka? Benar, ibu, istri dan sanak saudara perempuan mereka. Ketika waktu berlayar akan tiba, para pelayar sibuk mempersiapkan perahu dan perlengkapan selama masa berlayar, para perempuan lah yang menyiapkan bekalnya. 

Sayang sekali seperti yang kalian tahu, mereka tak tergubris dalam kisah heroik itu. Sementara, boleh dikata, tak akan ada pelayaran tanpa makanan. Peran perempuan dalam kisah tersebut tak dihadirkan.

Padahal ada banyak kisah yang tak kalah penting mengitari para perempuan itu. Kerja-kerja mereka bertahan hidup di pulau dan cerita di mana mereka berupaya menjaga marwah keluarga: mendidik dan menjaga anak-anak agar tumbuh dengan baik seperti yang dilakukan Siti Hajar.

Tidak ada kisah yang menjabarkan istri-istri Haji Hohaa itu ketika mereka harus bersusah payah berkebun dan menyuluh demi kebutuhan keluarga selama ditinggal suaminya berlayar. Belum lagi cerita akan derita mereka terhadap fitnah maupun hinaan yang mereka alami di kampung sebagai perempuan yang miskin dan buruk rupa.

Belum juga kita membahas pengalaman ketubuhan utama mereka tatkala sakit atau datang bulan dan melahirkan tanpa didampingi suami. Dan kesepian bercampur kekhawatiran, juga rindu yang mereka mesti tanggung dan siasati setiap harinya. 

Tidak ada kisah-kisah itu. Dan, pada akhirnya kita menyadari tidak ada kisah perempuan di sejarah peradaban maritim dan kejayaan islam di Wakatobi. Kisah perempuan kerap disingkirkan dan itu memang dengan sengaja dilakukan. Setidaknya itu sudah dibuktikan oleh banyak gagasan perihal narasi sejarah peradaban dunia. 

Sejarah Wilayah Tayi di Tomia: Jadi Galangan Lahirnya Perahu Tangguh

0

Ulasan singkat ini merupakan upaya menceritakan sejarah kawasan bernama Tayi, sebuah area yang disebut sebagai galangan perahu tangguh.

Tahun 1950-an, rumah di Tayi (sekarang Kelurahan Bahari) belum ada. Penampakan seluruhnya nyaris hanya rimba pohon kelapa dan pisang.

Oleh warga, daerah Tayi atau pesisir itu didesain untuk tempat pembuatan perahu. Waktu itu orang lebih memilih mendirikan rumah di undakan atas (Ra’a) sedangkan Tayi dikhususkan untuk kepentingan warga merangkai perahu maupun aktivitas melaut.

Antara Ra’a dan Tayi dibuatkan jalan yang dinamai Kabumbu. Tak kurang dari 5 sampai 6 kabumbu waktu itu yang ada di Usuku. Khusus untuk kabumbu yang dari dermaga pelabuhan ke Ra’a dinamai Tangga.

Selain itu, di Tayi juga digali sumur untuk kepentingan umum. Awalnya ada 3 pasang sumur yakni di Longa, Tonga dan Liku’umbua. Masing-masing berfungsi untuk mandi dan cuci pakaian, satunya lagi dikhususkan untuk air minum.

Tiap pagi dan sore, dua sumur itu ramai dengan orang yang mandi, mencuci pakaian atau mengambil air minum. Sumur tersebut menjadi pertemuan warga. Terutama pemuda pemudi, sumur tersebut dijadikan arena ajang rendezvous (pertemuan).

Daerah Pembuatan Perahu

Wilayah Tayi yang berbatasan dengan laut tak pernah padam dengan riuh aktivitas warga, terutama para lelaki. Tayi bagai galangan (Dok) perahu. Sepanjang pantai Usuku (nama administrasi kawasan pesisir tengah Pulau Tomia) berjejer tidak kurang dari 10 perahu yang sedang dikerjakan.

Hal tersebut kian ramai kalau sudah musim angin barat di mana semua pelayar sepakat untuk pulang ke kampung, kawasan pinggir laut ini ramai dengan segala aktivitas.

Ada yang memakal (Kumba), ada yang mengganti papan yang sudah dimakan rayap laut (Tembelu, Ingg: Barnacle), ada yang Nabhu-nabhu atau aktivitas mengganti papan perahu dengan cara menjatuhkannya ke permukaan laut.

Alat-alat para pelayar masih sederhana, semua lebih banyak dikerjakan dengan tenaga manusia, tanpa bantuan mesin listrik. Beberapa alat yang digunakan misalnya bor, ketam/skap atau gergaji.

Tukang pembuat perahu (Pande nu wangka, Bugis: Panrita Lopi) yang terkenal di Usuku waktu itu hanya beberapa orang saja. Paling banyak 6 orang. Saya hanya mengingat 3 orang, yakni Yama La Sipuda, Ya Wa Ammiri dan La Baeda. Dalam aktivitasnya para pende ini kewalahan mengerjakan pesanan.

Ketika itu permintaan masyarakat semakin banyak seiring dengan keuntungan yang diperoleh yang semakin besar sedangkan sumberdaya manusia terampil terbatas. Akibatnya banyak warga sebenarnya lebih memilih membuat perahu di luar Tomia misalnya di Wuta Wolio (daratan Pulau Buton), Pulau Bonerate (Kepulauan Selayar) atau ke Kepulauan Ke(a)i (Maluku Tenggara). Tempat-tempat itu dipilih karena dekat dengan sumber bahan baku perahu.

Produk Galangan Tayi adalah Perahu Tangguh yang Berlayar ke Negeri Jauh

Perahu-perahu Usuku Tomia yang dibuat di Tayi memiliki tipe yang khas. Misalnya anjungan depannya (Umbui rope) tidak semiring perahu Pinisi (orang Tomia mengenalnya dengan sebutan Sambo). Kapasitasnya yang paling besar bertonase 30 hingga 40 ton. Namun, waktu itu perahu yang dimiliki warga paling banyak bertonase antara 15 hingga 20 ton.

Ada keunggulan yang dimiliki perahu jenis tersebut dibanding pinisi, yakni memiliki kemampuan berlayar yang luwes. Perahu ini mampu berlayar zig zag (Opala atau Karakaji) dengan sudut kemiringan (Belo) yang besar. Kondisi ini sangat membantu laju perahu di permukaan laut mengingat waktu itu belum memakai mesin.

Tipe perahu seperti inilah yang malang-melintang menjelajahi laut nusantara pada jamannya. Dari mulai Sangkapura (Singapore), Mangindano (Mindanao, Filipina), Tawao (Sabah, Malaysia) dhingga Deli, (Dilly, Timor Leste) telah dijelajahi dan tempat-tempat itu seolah menjadi ‘halaman depan rumah’ mereka.

Panel Surya di Kulati Terbengkalai: Bukti Perang Kepentingan Hambat Transisi Energi Terbarukan di Wakatobi?

0

Sejatinya, di Desa Kulati, Pulau Tomia terdapat panel surya sebagai tenaga listrik yang bisa dijadikan solusi tatkala listrik tiba-tiba bermasalah. Selain itu, alat itu bisa menjadi pemicu transisi energi terbarukan di Wakatobi. Sayangnya, panel itu malah terbengkalai. Diduga perang kepentingan.

Desa Kulati didaulat sebagai Desa wisata di Kabupaten Wakatobi sejak lebih dari satu dekade silam. Desa ini masyhur dengan keindahan pantainya yang terletak di ujung timur Pulau Tomia.

Salah satu pantai yang cukup intens diunggah di berbagai platform media sosial dalam promosi pariwisata Wakatobi ialah Pantai Huntete.

Pantai ini juga sering disebut-sebut menyimpan ragam sumber kehidupan. Namun, tak hanya menyimpan keindahan dan memori kolektif tentang hal baik. Di sini juga, tersimpan memori kolektif yang ‘sebaliknya.’

Sepanjang jalan di sebelah kiri dan kanan Pantai Huntete, terbentang kebun dan ternak milik warga.

Pada sisi kanan dari arah utara, mata kita akan tertumbuk pada pemandangan lembaran tembaga mengkilap yang membentang cukup luas.

Semakin dekat, kian jelas bahwa itu adalah onggokan panel surya yang sudah mulai rusak, dikepung tumbuhan liar dengan beberapa bagian yang nampak jebol.

Na Kadima nu PLTS ana (sayang sekali ini panel  Pembangkit Listrik Tenaga Surya),” gumam warga setempat setiap kali melewati tempat itu.

Ada nada kecewa bercampur gusar tertangkap di dalamnya. Wajar saja, sebab benda itu telah terbengkalai sia-sia begitu saja sejak tahun 2018 silam.

Perasaan warga itu berkebalikan dengan satu tahun sebelum adanya alat canggih itu.

Kala itu warga Kulati yang selama ini kesulitan mengakses listrik, diliputi perasaan  suka saat mendengar mesin listrik akan masuk ke kampungnya.

Perasaan itu kian gembira, tatkala mereka mengetahui bahwa kabar itu tak hanya ricauan semata. Sebab pembanguna Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dihibahkan oleh sebuah perusahaan swasta itu benar-benar didirikan di jalan menuju Pantai Huntete.

Wa Dita (21) masih berseragam putih abu-abu kala PLTS mulai dibangun di kampungnya. Ia dan teman-teman sebayanya termasuk yang paling antusias atas pembangunan panel surya itu. Karena sebentar lagi listrik akan menyala 24 jam di kampungnya.

“Kami sudah bisa makan es dari kulkas sendiri, dan yang paling penting, kalau tidur malam tidak ditemani senter dan lampu pelita lagi,” ujarnya.

Desa Kulati ini memang belum tersentuh listrik milik negara (PLN) hingga tahun 2017 silam. Warga mengakses listrik dengan bantuan mesin kecil milik desa saja, yang hanya menyala sejak jam 6 sore hingga menjelang pukul 10 malam.

Untuk menyiasati kapasitas mesin yang kecil itu, warga Kulati dibagi menjadi dua bagian: pelanggan sebelah selatan dan pelanggan sebelah utara.

Merawat mesin kecil itu harus diakukan telaten dan intens melibatkan warga. Hampir setiap minggu jika mesin terlalu panas, ia akan mati.

Jika sudah semikian, maka para remaja dan orang dewasa mesti memikul air dari bak pribadi menuju tempat mesin untuk mendinginkannya.

“Kami senang sekali pas dengar ada PLTS ini, kami tidak akan kerepotan pikul air lagi,” jelas Dita.

Selain itu, Wa Dita membayangkan bahwa jika listrik sudah masuk di kampungnya, dia tidak akan meyetrika seragam sekolahnya pakai setrika tempurung lagi. Bahkan menanak nasi pun sudah bisa pakai listrik.

“Semua yang kita lakukan sudah praktis, tinggal cok saja,” ujar La Eri (25), teman Dita mengimbuhkan.

Panel surya yang terbengkalai di jalan menuju Pantai Huntete, Desa Kulati. Sumber: Eka/Lekasura

Persis tahun 2018. Tiang listrik sudah terpancang kokoh, lampu jalan, meteran dan instalasi di setiap rumah warga sudah terpasang rapi, tanpa dipungut biaya sepeser pun. Di bayangan warga, PLTS sudah siap dioperasikan, dan akan menyala dalam waktu dekat. Sebelum akhirnya sesuatu tiba-tiba terjadi dan harapan itu pupus.

Warga Kulati tak tahu menahu apa yang terjadi saat pengerjaan proyek PLTS itu terhenti.  Padahal persiapan PLTS sudah berjalan sekitar 80 persen.

Firman (38) seseorang yang lumayan mengikuti perkembangan PLTS, membagikan pengalamnnya.

Jelang proyek hibah itu akan terhenti, ia meninggalkan balai Desa Kulati dengan Langkah gontai dan raut murung usai diskusi  cukup panjang dan alot.

te PLTS afo afana afommo ala,a. Umeammo na PLTS no helafemo (panel PLTS itu akan seperti itu saja, sudah tidak ada lagi PLTS, sudah berhenti),” ujar Firman.

Rupanya diskusi itu sudah berlangsung sejak sore. Banyak warga yang tak ikut rapat (karena jumlah warga yang dibolehkan masuk balai desa harus dibatasi), berkerumun di gode-gode.

Mereka menyimak, harap-harap cemas dari kejauhan. Menunggu keputusan tentang nasib PLTS. Itu persis sudah lewat pukul 10 malam

Malam itu rapat di balai desa bubar. Begitupun kerumunan warga. Setiap orang sudah bisa menebak, PLTS akan batal menerangi kampung mereka.

Tak lama berselang, instalasi listrik dan meteran baru, mulai dipasang di rumah warga,  menggantikan instalasi PLTS.

PLN resmi akan dioperasikan di Desa Kulati dalam waktu dekat. Dan benar saja, beberapa minggu kemudian, Desa Kulati sudah diterangi listrik pada malam hari. Lebih tepatnya, 24 jam kala itu. Sayangnya, kondisi itu tak bertahan lama.

Pada bulan-bulan berikutnya, PLN Tomia mulai menunjukkan wajah aslinya. Mati lampu secara bergilir diselingi mati total, sangat sering terjadi.

Desa Kulati yang awalnya mengupayakan sumber daya energi listrik sendiri dan nyaris ditopang oleh sumber daya energi listrik terbarukan dari PLTS, kini jika sedang musim mati lampu, mesti ikut berdesakan menunggu giliran jatah listrik dengan pengguna listrik lainnya yang ditopang oleh PLN Tomia.

Padahal sebenarnya, walaupun tanpa peningkatan beban pengguna energi listrik dari desa-desa yang baru dijangkau  sekalipun, PLN memang sudah “sakit-sakitan.”

“PLN Tomia kekurangan sumberdaya energi pasokan listrik. Jadi daya yang dihasilkan PLTS mesti dijual pada PLN, pihak PLTS keberatan,” ungkap Firman mengenang diskusi alot di balai desa tempo lalu.

Sampai saat ini, PLN Wakatobi, termasuk juga di Tomia, masih menggunakan sumber energi fosil berupa minyak bumi yang yang tidak bisa diperbaharui.

Padahal intensitas curah hujan yang rendah dan panas matahari yang menyengat di daerah Wakatobi, sangat potensial untuk pengembangan energi listrik tenaga surya.

Sayangnya, perang kepentingan telah berujung pada gagalnya transisi menuju energi baru dan terbarukan. Ini mestilah dilihat secara serius oleh pemerintah daerah.

Apalagi, untuk pulau Tomia saja, jumlah panel surya yang terbengkalai ini, tersebar di beberapa desa/ wilayah, tidak hanya di Desa Kulati saja. Ada sekitar empat buah panel kayaknya di daerah barat Tomia.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga sudah berkomitmen menargetkan 23% bauran energi baru dan terbarukan pada 2025.  

Dan ini harus terus digenjot hingga mencapai kondisi impas karbon pada 2060. Sebagai negara yang terbesar di Asia tenggara, tentu langkah menuju transisi energi ini akan sangat berpengaruh pada pengendalian pemanasan global.

Jika tidak demikian, maka iklim yang kian hari kian panas akan mencairkan es di kutub utara dan selatan bumi.  

Ini tentu akan memicu naiknya permukaan air laut, yang lama kelamaan bisa menenggelamkan pulau-pulau dan daerah pesisir di Indonesia. Termasuk pantai-pantai nan indah seperti pantai Huntete di Desa Kulati itu.

Hedongka: Siasat Orang Pulau Berkawan dengan Musim

0

Hedongka ialah siasat orang pulau dalam menjalankan hidup di tengah musim angin kencang dan cuaca buruk

Musim barat akhirnya bertandan. Pulau-pulau yang mengapung di Laut Banda dan laut Flores berayun. Muson barat tidak hanya mengirim angin, namun juga sesekali hujan deras dan gemuruh.

Sementara di timur Pulau Tomia, penampakan Pulau Binongko jauh lebih gelap, tidak nampak siluet seperti biasanya. Laut memutih, gelombang dapat mencapai empat hingga lima meter.

Laut Banda dan Laut Flores pekan ini sedang digulung gelombang, jauh lebih riuh dari sebelumnya. Pohon-pohon yang berbanjar di pesisir seketika rubuh, fasilitas umum seperti dermaga juga mengalami kerusakan parah.

Sementara di arah laut, para nelayan dibuat bergegas mengangkat sauh lalu menuju ke tepian. Mereka harus mendarat, memilih memunggungi laut untuk beberapa pekan.

Pemandangan di ujung barat Pulau Tomia juga demikian. Pantai-pantai yang indah kala musim timur, seketika redup, rusak, dirangsek oleh gelombang yang menggulung aneka sampah ke pesisir.

Pantai kala musim barat tak ubahnya TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sesuatu yang tak mungkin menjadi konten di laman media sosial perihal pariwisata Wakatobi.

Ironisnya, sampah-sampah itu dominan berasal dari luar Wakatobi, baik pulau maupun beberapa negara lain yang posisinya cukup dekat dengan perairan kepulauan Wakatobi.

Hal itu dibuktikan dengan temuan sampah plastik dengan merek huruf ejaan Vietnam, Thailand dan Malaysia.

Sampah-sampah ini setiap musim jumlahnya konsisten, beberapa warga mencoba menghitugnya, meskipun tidak menggunakan metode presisi sebagai alat ukurnya.

Bagi orang-orang Pulau di Wakatobi, musim bukanlah hukuman, ia adalah siklus layaknya kehidupan manusia. Tugas kita bukanlah menaklukannya, namun menyiasatinya.

Orang di Pulau Tomia paham betul akan hal ini. Itulah kenapa saat ombak-ombak ini mendaratkan sampah, warga justru menyebutnya dengan ungkapan anekdot “te alaa nu rajaki” atau waktunya menjemput rezeki.

Sampah-sampah di pesisir ini tentu akan mengganggu mata turis, tapi tidak bagi warga Pulau Tomia. Sampah-sampah ini justru dirayakan ibarat sedang pesta perburuan sampah.

Pada musim-musim barat sesudah badai, orang-orang di pulau akan berbondong-bondong menuju pantai. Dari anak-anak hingga yang tua.

Anak-anak akan saling mengajak untuk berburu aneka mainan, mereka yang berumur dewasa, akan berburu aneka sampah masih layak pakai untuk kebutuhan rumah tangga.

Sementara bagi para nelayan, tali-tali, aneka bentuk pelampung jaring, papan serta kayu yang hanyut, adalah buruan utamanya. Ini adalah tradisi orang pulau sejak dulu. Mereka menyebut ini sebagai Hedongka.       

Juha (Muh Sukriman) sedang melakukan hedongka. Sumber: Iman/Lekasura

Saya adalah orang pulau. Sebagai anak yang dibesarkan zaman Ketika internet telah merangsek masuk ke pedalaman, saya tentu memanfaatkan hedongka sebagai sarana seni, sesuatu yang tentu asing bagi bagi orang pulau masa itu.

Karena seni juga akhirnya saya bertemu dengan beberapa kawan baik. Semua menyenangi hedongka. Pertemuan itu membuahkan komitmen untuk membuat kolektif kecil bernama Katutura plus membuat kegiatan rutin bernama hedongka project.

Sekarang sedang musim barat. Sejak Desember lalu musim hedongka telah tiba. Melalui tulisan ini saya mengajak kalian untuk ramai-ramai kita hedongka.

Jika hendak berniat membuat karya, saya pastikan akan ada begitu banyak material unik-unik yang akan kamu peroleh.

Dari segi visual, inspirasi karya saya selalu menyoroti hewan-hewan laut endemik Wakatobi. Umumnya yang terpapar akibat sampah plastik laut. Semisal karya bertema Ikan dan Burung.

Melalui dua karakter ini saya ingin menyampaikan bahaya plastik ketika dimakan oleh ikan, lalu fatalnya dimakan kembali oleh kita. Semuanya saling terhubung, antara manusia, hewan dan juga laut.

Salah satu karya Juha yang sudah dipamerkan. Sumber: Juha/Lekasura

Saya menggunakan temuan seperti penutup botol, limbah suntik , garpu, sendok, botol injeksi, pena, juga sikat gigi sebagai elemen pengirim pesan, benda-benda itu ada di kehidupan manusia sehari-hari.

Temuan -temuan itu lalu saya rangkai, menggunakan triplek juga kaca sebagai wadah. Untuk perekatnya saya menggunakan lem tembak, dan sebagai persiapan jika sewaktu-waktu ada pameran, saya meletakkan karya itu pada sebuah figura berukuran 85 x 56 cm.

Terakhir, saya ingin membagi kabar baik, sepekan ini, nyaris seluruh karya yang saya buat rentang tahun 2018- 2022 sedang ikut serta pada sebuah pameran.

Pameran kolaborasi tepatnya. Kolaboratornya berasal dari Bandung dan Bali. Arafura media design dan Sepatokimin inititive nama kolektifnya.  Pameran ini berlangsung di Kota Bandung, rencananya berakhir tanggal 29, akhir bulan ini.

Pameran ini mengambil tema Parabhose, atau dalam Bahasa Tomia berarti Oleh-oleh. Sebuah istilah yang merujuk pada aktivitas berlayar, berdagang dan konsep buah tangan ala para awak perahu Wakatobi.

Pameran ini mengusung jargon oleh-oleh dari bawah laut Wakatobi. Harapannya, bisa memberikan sudut pandang lain terlebih kepada Pemerintah Wakatobi mengenai pemanfaatan sampah laut aneka medium seni dan produk ekonomi kreatif lainnya.

Saya percaya, tidak ada hal-hal besar yang tidak dimulai dari hal-hal kecil. Mari hedongka, mari jaga Bumi.     

POPULER

Gambusu Kepulauan Pandai Besi: Upaya Melihat Nusantara Melalui Bunyi

Gambusu Kepulauan Pandai Besi terpilih sebagai dawai dari Sulawesi Tenggara dalam program Rantai Bunyi yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2023